Konten dari Pengguna

Limbah Jadi Berkah: Inovasi Pupuk Organik Cair (POC) dari Limbah Air Tambak

Prastatama Nanang

Prastatama Nanang

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prastatama Nanang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi penulis

Dua persoalan besar yang terus membayangi kehidupan warga Rowosari ialah penumpukan limbah rumah tangga dan limbah air tambak yang tidak terkelola pada Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tambaksari, Semarang. Sebagian besar penduduknya tinggal di area permukiman yang berdampingan langsung dengan tambak. Kombinasi antara kepadatan penduduk dan intensitas aktivitas tambak menciptakan dua persoalan besar. Oleh karena itu program KKN Tematik Universitas Diponegoro menghadirkan sebuah inovasi ramah lingkungan dengan POC dari limbah air tambak dan sampah rumah tangga yang selama ini terabaikan.

Limbah organik seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran busuk, dan nasi basi setiap hari menumpuk tanpa sistem pemilahan yang baik. Akibatnya, sampah cepat membusuk, menimbulkan bau tidak sedap, mengundang serangga, dan menjadi sarang penyakit. Di sisi lain, air limbah dari tambak yang mengandung sisa pakan, kotoran ikan, serta zat organik lainnya kerap dibuang langsung ke saluran terbuka, sehingga mencemari lingkungan dan merusak kualitas air tanah.

Selama ini, kedua masalah ini dianggap sebagai hal biasa, karena belum ada pendekatan solutif yang murah, sederhana, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Padahal, dua jenis limbah tersebut sebenarnya memiliki potensi luar biasa apabila dimanfaatkan dengan baik. Inilah yang kemudian melatarbelakangi mahasiswa Universitas Diponegoro untuk hadir dan menawarkan solusi konkret melalui program KKN Tematik IDBU 38.

Tim KKN Tematik Universitas Diponegoro yang diterjunkan ke Kelurahan Rowosari hadir tidak hanya untuk mengabdi, tetapi juga membawa pendekatan yang berbasis riset dan teknologi terapan. Melihat limbah organik rumah tangga dan air tambak yang melimpah, tim memutuskan untuk mengembangkan program pembuatan pupuk organik cair (POC).

Program ini bertujuan mengubah limbah yang dianggap beban menjadi sumber daya produktif bagi warga, sekaligus mendorong pola hidup ramah lingkungan dan kemandirian pangan keluarga. Yang membuat program ini unik adalah pendekatannya yang berbasis partisipasi aktif warga, bukan sekadar demonstrasi sepihak.

Sumber: Dokumentasi penulis
Sumber: Dokumentasi penulis

Proses pembuatan pupuk organik cair dari limbah

1.Pengumpulan Bahan

Warga diajak untuk mengumpulkan limbah organik dari dapur masing-masing, seperti:

• Kulit pisang, semangka, pepaya

• Sayur-sayuran sisa

• Nasi basi, ampas kelapa

• Limbah air tambak dari saluran outlet

Bahan tersebut mengandung unsur hara makro dan mikro yang baik untuk pertumbuhan tanaman, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.

2.Fermentasi

Bahan-bahan dicampur dalam ember tertutup, ditambah dengan air tambak dan molase/gula merah sebagai sumber energi mikroba. Proses fermentasi berlangsung 10–14 hari. Wadah harus ditutup rapat, namun dibuka sedikit tiap dua hari untuk membuang gas berlebih (degassing).

Selama fermentasi, mikroorganisme akan menguraikan senyawa organik menjadi bentuk yang mudah diserap tanaman. Setelah dua minggu, cairan disaring dan menjadi pupuk organik cair siap pakai.

3.Aplikasi

POC digunakan dengan mencampurnya dengan air bersih (1:5) untuk disiramkan ke akar tanaman atau disemprotkan ke daun. Hasilnya bisa diaplikasikan ke sayuran pekarangan, hidroponik, atau tanaman hias.

Edukasi, Pelatihan, dan Partisipasi Warga

Tidak cukup hanya memproduksi pupuk, tim KKN UNDIP juga memastikan bahwa warga memahami cara kerja, cara membuat, dan manfaat jangka panjang pupuk ini. Kegiatan pelatihan dilakukan dalam beberapa tahap:

• Sosialisasi mini bertema “Limbah Jadi Berkah: Pupuk Organik Cair yang Mudah dan Murah”

• Distribusi modul cetak berisi panduan pembuatan dan aplikasi pupuk

• Penyebaran video tutorial lewat WhatsApp grup warga

Selain itu, tim juga membagikan peralatan fermentasi mini (ember, saringan, starter mikroba) kepada perwakilan tiap RT agar praktik ini bisa terus dilanjutkan meski KKN telah selesai nantinya.

Hasil dan Dampak Nyata di Lapangan mulai terasa di kalangan masyarakat. Tim KKN melakukan uji coba pada tanaman sayuran seperti kangkung, sawi, dan bayam. Tanaman yang diberi pupuk organik cair dari limbah rumah tangga dan air tambak menunjukkan:

• Pertumbuhan lebih cepat 25–30% dibanding tanaman kontrol

• Daun lebih hijau dan segar

• Ketahanan terhadap hama lebih tinggi

• Hasil panen lebih merata dan sehat

Efek dari kegiatan ini bukan hanya pada tanaman, tapi juga pada lingkungan dan kebiasaan warga:

• Volume sampah organik berkurang signifikan di tingkat rumah tangga

• Limbah air tambak tidak lagi dibuang sembarangan

• Warga mulai membiasakan pilah limbah basah dan kering

Kegiatan KKN Tematik UNDIP IDBU 38 di Kelurahan Rowosari membuktikan bahwa inovasi tidak harus mahal, tapi harus bermanfaat dan bisa dilakukan siapa saja. Melalui pendekatan ilmiah, aplikatif, dan partisipatif, tim mahasiswa mampu menghadirkan solusi nyata atas masalah lingkungan sekaligus mendorong pertanian mandiri skala rumah tangga.

Pupuk organik cair dari limbah rumah tangga dan air tambak bukan sekadar teknologi tepat guna, tapi simbol harapan baru bahwa dari sampah pun bisa tumbuh masa depan. Kegiatan ini meninggalkan jejak positif yang tidak hanya dirasakan hari ini, tapi juga membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk hidup lebih hijau, sehat, dan mandiri.