Entertainment
·
21 Februari 2021 18:08

Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis

Konten ini diproduksi oleh Muhammad Rizki Pratama
Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis (24951)
Grisha Yeager. Sumber: cbr.com
Beberapa waktu belakangan ini para pecinta anime dihebohkan dengan rilis perdana season terbaru sekaligus menjadi season terakhir dari Attack on Titan. Anime ini merupakan hasil adaptasi dari manga dengan judul serupa yang ditulis dan diilustrasikan oleh Hajime Isayama. Anime yang pertama kali disiarkan pada 7 April 2013 ini memperoleh berbagai respons positif. Crunchyroll, sebuah laman streaming anime, memasukkan AoT dalam daftar 100 anime terbaik dalam kurun waktu 2010-an.
ADVERTISEMENT
Secara singkat anime ini menceritakan kehidupan manusia yang terancam kepunahan dan harus terkurung di dalam tiga dinding yang terdiri dari Dinding Maria yang merupakan dinding terluar, Dinding Rose, dan Dinding Shina yang ada di bagian paling dalam. Dinding tersebut melindungi umat manusia dari serangan para raksasa yang ada di luar Dinding Maria. Eren Yeager yang tinggal di Distrik Shiganshina yang ada di Dinding Maria menyaksikan kebrutalan para raksasa yang berhasil menembus dinding dan memangsa umat manusia. Eren menyaksikan sendiri raksasa yang melahap ibunya dengan ganas. Eren bersama kedua temannya, Mikasa Ackerman dan Armin Arlett, bertekad untuk masuk ke dalam militer dan menjadi bagian dari Pasukan Pengintai dengan memiliki niat untuk menghabisi semua raksasa yang ada di dunia.
Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis (24952)
Dinding Shina dan Rose, Sumber: fandom.com
Namun, berjalannya waktu diketahui bahwa para raksasa hanyalah manusia biasa yang hidup di seberang lautan. Raksasa tersebut berasal dari kaum Eldia yang selama beberapa dekade mengalami diskriminasi oleh kaum Marley. Kaum Eldia diwajibkan untuk tinggal di tempat penampungan khusus bernama Liberio, dan diwajibkan untuk mengenakan ban lengan berlambang bintang segi sembilan.
ADVERTISEMENT
Tenang saja, tulisan ini akan mengikuti dengan alur cerita di anime. Jadi bagi kalian yang tidak membaca manga jangan khawatir kena spoiler. Oke?
Sebelum melihat hubungan antara kaum Marley dan Eldia, mari kita mencoba memahami pemikiran dari Zygmunt Bauman (1925-2017) mengenai masyarakat modern. Apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat modern? Menurut Bauman, dalam buku yang ditulis Kevin Nobel Kurniawan yang berjudul Kisah Sosiologi: Pemikiran yang Mengubah Dunia dan Relasi Manusia, kehidupan masyarakat modern menuntut kehidupan yang mengedepankan rasionalitas dalam upaya mencapai tujuan. Rasionalitas ini mengedepankan pertimbangan untung rugi yang bertujuan untuk mencari upaya yang paling efisien dan efektif dalam mencapai tujuan tersebut. Dalam istilah Max Weber, rasionalitas ini disebut sebagai rasionalitas instrumental. Rasionalitas ini melahirkan berbagai macam kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, militer, dan bidang-bidang lain.
Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis (24953)
Zygmunt Bauman, Sumber: wikipedia.org
Di balik segala macam dampak positif, rasionalitas ini juga menimbulkan dampak negatif yang tersembunyi. Bauman menjelaskan bahwa akan ada kelompok manusia yang terpinggirkan, tidak dianggap, dan tidak mampu bersaing dengan manusia lainnya. Kelompok ini sering kali dianggap sebagai sampah masyarakat dan hanya akan membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan nyata, kelompok yang terpinggirkan ini sering kali diidentikkan dengan para pengungsi, para gelandangan, dan berbagai kelompok lain yang juga menjadi sasaran diskriminasi.
ADVERTISEMENT
Sekarang mari kita lihat bagaimana hubungan antara bangsa Marley dengan Eldia dalam AoT.
Eldia merupakan bangsa keturunan dari Ymir Fritz yang menjadi orang pertama yang memiliki kekuatan raksasa. Setelah kematian Ymir, kekuatan raksasa kemudian terbagi menjadi sembilan raksasa. Kesembilan raksasa ini memiliki kelebihan dan lebih kuat daripada raksasa biasa. Selain itu, para keturunan Ymir juga memiliki kemampuan untuk berubah menjadi raksasa. Bangsa Eldia Dengan dimilikinya kekuatan raksasa, bangsa Eldia bertujuan untuk mendominasi dunia dengan menggunakan kekuatan raksasa. Demi mencapai tujuan tersebut, bangsa Eldia kemudian berupaya menaklukkan bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa yang berhasil ditaklukkan oleh bangsa Eldia pun dipaksa untuk melahirkan ras-ras Eldia. Bangsa yang ditaklukkan ini salah satunya adalah bangsa Marley.
Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis (24954)
Bangsa Eldia dengan kekuatan raksasa menaklukkan bangsa-bangsa lain. Sumber: fandom.com
Ketika telah mengalahkan semua lawannya, justru bangsa Eldia terpecah dan terjadi perang saudara. Raja Eldia, Karl Fritz kemudian memutuskan untuk memindahkan Kekaisaran Eldia. Hal ini disebabkan Raja Fritz sedih karena bangsanya yang saling membunuh satu sama lain. Kemudian Sang Raja memindahkan semua rakyatnya ke Pulau Paradis. Di pulau tersebut, Raja Fritz kemudian membangun tiga dinding yang disebutkan sebelumnya dengan menggunakan kekuatan raksasa dan menghapus ingatan rakyatnya tentang peristiwa sebelum kepindahan di Pulau Paradis dan membuat ingatan baru bahwa tidak ada kehidupan di luar tembok.
ADVERTISEMENT
Marley adalah sebuah bangsa yang tinggal di benua utama dan menjadi salah satu bangsa yang menjadi korban keganasan bangsa Eldia pada masa lampau. Pasca kepindahan Kekaisaran Eldia ke Pulau Paradis, Marley menjadi salah satu bangsa yang menjadi penguasa dunia dan selalu berusaha untuk meluaskan pengaruhnya ke seluruh dunia. Dalam mempersiapkan diri dengan perkembangan militer yang semakin modern dan tidak tertinggal dengan negara lain bangsa Marley kemudian berusaha untuk memanfaatkan kekuatan raksasa yang berhasil dirampas dari bangsa Eldia. Marley kemudian merekrut kaum Eldia untuk menjadi tentara. Beberapa prajurit Eldia dijadikan sebagai pewaris sembilan raksasa yang yang dimiliki oleh Marley. Meskipun begitu, kaum Eldia tetap dianggap sebagai bangsa kelas dua dan Marley tidak segan-segan untuk mengirim pasukan Eldia kepada kematian. Dalam pertempuran dengan aliansi Timur Tengah, kaum Eldia dijatuhkan dari ketinggian dan kemudian diubah menjadi bom raksasa untuk menghancurkan pertahanan aliansi Timur Tengah. Pasukan Eldia seakan-akan hanya dianggap sebagai alat dan senjata biologis untuk kepentingan Marley.
ADVERTISEMENT
Orang-orang Eldia yang masih tertahan di benua utama harus mengalami diskriminasi oleh bangsa Marley. Kaum Eldia dianggap sebagai keturunan iblis karena mampu untuk berubah menjadi raksasa. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kaum Eldia diharuskan untuk memakai tanda pengenal berupa ban lengan berlambang bintang bersegi sembilan. Apabila ketahuan tidak menggunakan tanda tersebut, pihak Marley tidak segan-segan untuk membunuh mereka. Selain itu, kaum Eldia juga wajib untuk tinggal di distrik penampungan bernama Liberio dan tidak diperkenankan untuk keluar dari distrik tersebut tanpa izin pihak Marley.
Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis (24955)
Pintu gerbang distrik penampungan Liberio. Sumber: fandom.com
Hubungan antara bangsa Marley dan Eldia dapat dikatakan sebagai representasi dunia kita. Seperti yang sudah kita tahu, pada era Perang Dunia II, Nazi Jerman berambisi untuk menguasai dunia. Mereka menganggap ras Arya yang dimiliki oleh bangsa Jerman adalah ras yang superior. Mereka berupaya untuk menguasai dunia dan mengembangbiakkan ras Arya ke seluruh dunia. Untuk mencapai hal ini kemudian Nazi Jerman harus mengalahkan bangsa-bangsa lain dan harus melenyapkan ras-ras yang mereka anggap sebagai ras rendahan, salah satunya adalah ras Yahudi. Upaya pemusnahan ras-ras ini kemudian menciptakan peristiwa Holocaust yang merupakan pukulan bagi kemanusiaan. Sekurang-kurangnya enam juta bangsa Yahudi dibunuh di kamp-kamp konsentrasi, seperti di Auschwitz, Dachau, Chelmno, Treblinka dan berbagai tempat lainnya. Banyak dari kita yang menganggap bahwa kejadian tersebut adalah hasil dari barbarianisme dan para inisiator Holocaust menderita gangguan mental atau seorang psikopat. Namun hal tersebut ternyata salah besar.
ADVERTISEMENT
Adolf Eichmann adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas tragedi Holocaust. Pasca kekalahan Jerman pada Perang Dunia II, Eichmann kemudian melarikan diri ke Argentina dan menggunakan nama samaran Ricardo Klement. Mossad, intelejen Israel, berhasil menculik Eichmann pada tahun 1960 dan membawanya ke Israel untuk menjalani persidangan. Tidak seperti yang kita bayangkan, sosok Eichman justru adalah seseorang yang masih waras dan bahkan merupakan sosok “suami dan ayah yang ideal yang diidam-idamkan” berdasarkan uji psikologis yang dilakukan. Lantas mengapa sosok Eichmann yang masih waras layaknya manusia pada umumnya dapat melakukan tindak kejahatan semengerikan itu?
Attack on Titan: Hubungan Marley dan Eldia dalam Sudut Pandang Sosiologis (24956)
Adolf Eichmann dalam persidangan di Yerusalem. Sumber: wikipedia.org
Bauman menjelaskan bahwa ini adalah imbas dari rasionalitas masyarakat modern yang menginginkan adanya keteraturan sosial yang ideal. Demi mencapai hal tersebut, banyak hal dilakukan dan tak jarang harus menyingkirkan kelompok-kelompok yang dianggap menghalangi terciptanya keteraturan yang ideal. Bagi Nazi Jerman, demi mencapai kemurnian ras Arya, ras-ras yang dinilai sebagai ras rendahan, seperti ras Yahudi, harus dimusnahkan dan dihilangkan dari muka bumi. Bagi Marley, bangsa Eldia adalah bangsa keturunan iblis yang dianggap sebagai warga kelas dua dan harus disingkirkan keberadaannya dari dunia.
ADVERTISEMENT
Episode-episode baru Attack on Titan yang hadir di setiap minggunya sangat dinanti oleh setiap penggemarnya. Mungkin masih banyak dari para penikmat Attack on Titan yang masih berduka atas meninggalnya Sasha Blouse. Terbunuhnya sosok Sasha yang dikenal memiliki karakter yang periang dan ceria merupakan tanda bahwa episode-epidode Attack on Titan ke depannya akan semakin mencekam. Patut dinanti kelanjutan dari anime ini. Dan tolong bagi yang sudah membaca manga, jangan spoiler, plis!