Bahaya Kurang Minum Air Putih yang Jarang Disadari Dari Otak hingga Gagal Ginjal

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ashilah Zahra Zelvie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang baru minum air putih saat sudah merasa haus. Padahal, ketika rasa haus muncul, tubuh sebenarnya sudah dalam kondisi kekurangan cairan. Bahaya kurang minum air putih ternyata jauh lebih serius dari sekadar tenggorokan kering ia menyentuh hampir setiap organ vital dalam tubuh, termasuk otak, ginjal, jantung, dan bahkan suasana hati kita sehari-hari.

Tubuh manusia terdiri dari sekitar 60% air. Otak, secara khusus, tersusun dari 73% air menjadikannya organ yang paling sensitif terhadap perubahan keseimbangan cairan tubuh. Ketika asupan air tidak mencukupi, dampaknya tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, bahkan mengendalikan emosi.
Dehidrasi Ringan Sudah Cukup Merusak Fungsi Otak
Hal yang paling mengejutkan dari riset tentang bahaya kurang minum air putih adalah betapa kecilnya ambang batas yang dibutuhkan untuk memicu gangguan kognitif. Penelitian dari University of Connecticut's Human Performance Laboratory menemukan bahwa dehidrasi ringan kehilangan hanya 1,5% cairan dari kebutuhan tubuh sudah cukup untuk memengaruhi suasana hati, fungsi mental, dan tingkat energi seseorang.
Kondisi ini sangat umum terjadi dalam aktivitas sehari-hari, bahkan tanpa olahraga berat sekalipun. Ketua Indonesia Hydration Working Group (IHWG) Diana Sunardi menegaskan bahwa hampir 80% otak manusia tersusun atas air, sehingga kekurangan cairan sekecil apapun bisa memengaruhi konsentrasi dan kemampuan fokus secara langsung.
Mudah Marah dan Bad Mood? Bisa Jadi Kamu Dehidrasi
Koneksi antara hidrasi dan kesehatan mental adalah salah satu temuan yang paling sering diabaikan. Air putih membantu kelancaran peredaran darah ke otak sehingga kita dapat berpikir jernih dan meregulasi emosi dengan lebih baik. Sebuah studi berjudul Narrative Review of Hydration and Selected Health Outcomes in the General Population menemukan bahwa dehidrasi secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan kondisi mental negatif lainnya.
Artinya, sebelum mencari penyebab kompleks di balik mood yang buruk atau perasaan cemas berlebihan, hal paling sederhana yang bisa diperiksa adalah apakah kamu sudah minum air yang cukup hari ini?
Ginjal Organ yang Paling Menanggung Akibatnya
Bahaya kurang minum air putih jangka panjang paling nyata terasa di ginjal. Menurut Cleveland Clinic, kurang minum air secara konsisten meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal secara signifikan karena urine yang terlalu pekat memudahkan mineral pembentuk batu mengendap dan menumpuk.
Lebih jauh lagi, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Stikes PGI Cikini (2024) menemukan bahwa kurangnya konsumsi air menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal, yang berakibat pada berkurangnya filtrasi glomerular. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, ginjal bisa kehilangan fungsinya secara permanen dan dalam kasus yang parah, berujung pada gagal ginjal kronik yang membutuhkan cuci darah seumur hidup.
Jantung dan Stroke Risiko yang Kerap Tidak Terduga
Dehidrasi menyebabkan volume plasma darah menurun dan darah menjadi lebih kental. Kondisi ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam jangka panjang, ini meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara bermakna.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebuah penelitian dari BMC Cardiovascular Disorders menemukan bahwa dehidrasi meningkatkan risiko stroke dan memperlambat pemulihan bagi mereka yang pernah mengalaminya. Kekentalan darah akibat kurang minum air dapat menghambat aliran darah ke otak dan ketika aliran itu terblokir, stroke terjadi.
Berapa Banyak Air yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Rekomendasi umum yang sering didengar adalah delapan gelas per hari. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda tergantung berat badan, tingkat aktivitas, suhu lingkungan, dan kondisi kesehatan. Panduan dari Kemenkes RI menyebutkan bahwa orang dewasa rata-rata membutuhkan 2 liter atau sekitar 8 gelas air per hari dan kebutuhan ini meningkat saat berolahraga, cuaca panas, atau sedang sakit.
Dalam perspektif Islam
Air memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa segala sesuatu yang hidup diciptakan dari air (QS. Al-Anbiya: 30). Ayat ini menegaskan bahwa air merupakan sumber kehidupan, sehingga menjaga kecukupan cairan tubuh bukan hanya penting secara medis, tetapi juga memiliki nilai spiritual.
Selain itu, Islam juga mengajarkan bahwa tubuh manusia adalah amanah yang harus dijaga. Mengabaikan kebutuhan dasar seperti minum air yang cukup dapat dianggap sebagai bentuk kelalaian dalam menjaga amanah tersebut. Oleh karena itu, menjaga kesehatan, termasuk memenuhi kebutuhan cairan, merupakan bagian dari ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Islam juga mengatur adab dalam minum yang selaras dengan prinsip kesehatan. Dianjurkan untuk minum secara perlahan, tidak berlebihan, serta dalam posisi duduk. Secara ilmiah, kebiasaan ini membantu tubuh menyerap cairan dengan lebih optimal dan mencegah gangguan pada sistem pencernaan.
Kebutuhan cairan setiap orang memang berbeda-beda, tergantung pada aktivitas, usia, dan kondisi lingkungan. Namun secara umum, kebutuhan air berkisar sekitar dua liter atau delapan gelas per hari untuk orang dewasa dengan aktivitas ringan. Dengan memenuhi kebutuhan cairan harian, tubuh dapat menjalankan fungsinya secara optimal.
Pada akhirnya, menjaga kecukupan air putih bukan sekadar kebiasaan sehat, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap tubuh yang telah diberikan kepada kita. Dengan memahami pentingnya hidrasi dari sisi kesehatan dan keislaman, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh demi kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas.
