Tak Mau Ketinggalan, tapi jadi Terbebani: Realita FOMO pada Pelajar

Siswa Jurusan Manajemen Perkantoran di SMK Katolik St. Familia Tomohon
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Prisila Simbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, muncul sebuah fenomena yang semakin sering dialami oleh pelajar, yaitu FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan. FOMO membuat seseorang merasa cemas ketika tidak mengetahui atau tidak ikut serta dalam tren, aktivitas, atau informasi yang sedang populer di lingkungannya. Bagi pelajar, fenomena ini menjadi semakin nyata karena kehidupan sosial mereka banyak dipengaruhi oleh dunia digital.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) secara ilmiah pertama kali dipopulerkan oleh Andrew K. Przybylski dalam penelitiannya tahun 2013. Ia mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa orang lain mengalami hal yang lebih menyenangkan tanpa dirinya. FOMO berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung secara sosial.
Selain itu, teori dari Leon Festinger tentang Social Comparison Theory menjelaskan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai diri sendiri. Dalam konteks media sosial, pelajar lebih sering melihat “versi terbaik” dari kehidupan orang lain, sehingga perbandingan ini seringkali tidak realistis dan dapat menurunkan rasa percaya diri.
Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp menjadi pemicu utama munculnya FOMO. Setiap hari, pelajar disuguhkan dengan berbagai unggahan tentang kegiatan teman-teman mereka—mulai dari nongkrong, liburan, hingga pencapaian akademik. Tanpa disadari, hal ini menimbulkan perasaan tertinggal atau kurang jika tidak melakukan hal yang sama. Akibatnya, banyak pelajar merasa harus selalu “update” agar tetap dianggap eksis.
Salah satu dampak dari budaya FOMO adalah munculnya tekanan sosial. Pelajar sering merasa harus mengikuti tren, baik dalam gaya hidup, cara berpakaian, hingga penggunaan teknologi tertentu. Bahkan, ada yang rela mengorbankan waktu belajar atau istirahat hanya demi tetap aktif di media sosial. Hal ini tentu dapat mengganggu keseimbangan hidup mereka.
Selain itu, FOMO juga berdampak pada kesehatan mental. Rasa cemas, iri, dan tidak puas terhadap diri sendiri bisa muncul ketika pelajar membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Mereka cenderung melihat sisi “terbaik” dari kehidupan orang lain di media sosial, tanpa menyadari bahwa tidak semua yang ditampilkan adalah kenyataan yang utuh. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri.
Namun, FOMO tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru justru dapat memotivasi pelajar untuk berkembang, mencoba pengalaman baru, dan memperluas wawasan. Kuncinya terletak pada bagaimana pelajar menyikapi perasaan tersebut dengan bijak.
Untuk mengatasi budaya FOMO, pelajar perlu belajar mengelola penggunaan media sosial. Membatasi waktu layar, tidak terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, serta fokus pada tujuan pribadi adalah langkah penting yang bisa dilakukan. Selain itu, meningkatkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda juga dapat membantu mengurangi tekanan yang dirasakan.
Di sisi lain, peran orang tua dan guru juga sangat penting dalam memberikan edukasi tentang literasi digital dan kesehatan mental. Dengan bimbingan yang tepat, pelajar dapat memahami bahwa dunia digital hanyalah sebagian kecil dari kehidupan nyata.
Kesimpulannya, budaya FOMO merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari di era digital, terutama di kalangan pelajar. Meskipun memiliki potensi dampak positif, FOMO lebih sering membawa pengaruh negatif jika tidak dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan kontrol diri agar pelajar dapat tetap berkembang tanpa terjebak dalam tekanan sosial dunia digital.
