Baking sebagai Bentuk Self-Care: Ketika Membuat Kue Jadi Cara Menenangkan Diri

Mahasiwa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Proboningrum Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Baking atau membuat kue tidak selalu hanya tentang menghasilkan makanan yang enak. Bagi sebagian orang, proses menyiapkan bahan, mengolah adonan, hingga melihat hasil kue yang dibuat sendiri dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus memberi ruang untuk menikmati waktu. Dari proses sederhana tersebut, baking bisa menjadi salah satu cara untuk merawat diri.
Di tengah rutinitas yang semakin padat, setiap orang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Self-care tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang besar atau membutuhkan biaya yang mahal. Ada yang memilih berolahraga, mendengarkan musik, menonton film, atau sekadar tidur. Namun, bagi sebagian orang, ketenangan justru dapat ditemukan dalam aktivitas sederhana seperti baking atau membuat kue.

Baking sebagai Aktivitas Self-Care
Hal ini menarik jika dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental anak muda di Indonesia. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Healthy Survey (INAMHS), sekitar 34,9 persen remaja Indonesia usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Karena itu, pembicaraan mengenai self-care menjadi sangat relevan. Self-care tidak harus selalu berupa aktivitas yang mahal atau membutuhkan banyak waktu. Melakukan kegiatan yang menyenangkan dan memberikan ruang untuk beristirahat dari rutinitas juga dapat menjadi salah satu cara merawat diri, baking menjadi salah satunya.
Baking dan Kesejahteraan Diri
Penelitian terhadap 657 orang dewasa di Australia menemukan bahwa aktivitas memasak selama 7 minggu berkaitan dengan peningkatan kepercayaan diri dalam memasak, kepuasan, serta beberapa aspek kesehatan dan kesejahteraan. Temuan ini bukan berarti memasak merupakan terapi kesehatan mental, tetapi menunjukkan bahwa aktivitas memasak dapat memberikan pengalaman positif bagi seseorang.
Baking yang Bisa Dibagikan
Baking juga memiliki sisi yang menarik karena hasilnya dapat dibagikan kepada orang lain. Kue yang dibuat bisa diberikan kepada keluarga atau teman. Ketika mendapat respons positif, seperti pujian rasanya enak atau bentuknya menarik, muncul rasa puas karena sesuatu yang dibuat dengan usaha sendiri ternyata dapat dinikmati orang lain. Hal sederhana seperti ini membuat baking tidak hanya menyenangkan dalam prosesnya, tetapi juga memberikan pengalaman positif setelah kue selesai dibuat.
Namun, baking tentu bukan solusi untuk semua persoalan kesehatan mental. Tidak semua orang menikmati aktivitas yang sama, dan seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental tetap membutuhkan bantuan yang sesuai dari tenaga profesional. Baking lebih tepat dilihat sebagai salah satu aktivitas kreatif yang dapat memberikan waktu untuk berhenti, berkreasi, dan menikmati proses.
Pada akhirnya, self-care tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Bagi sebagian orang, mungkin cukup dengan menyiapkan bahan, membuat adonan, menunggu kue matang, lalu membagikannya kepada orang-orang terdekat.
Sebab terkadang, menenangkan diri bukan tentang melarikan diri dari kesibukan, tetapi tentang menemukan satu aktivitas sederhana yang membuat kita kembali menikmati proses.
