Konten dari Pengguna

Strict Parents and Their Love, My Boundaries: Cerita Anak Bungsu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Proboningrum Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik perbedaan pandangan tentang kebebasan, kasih sayang orang tua tetap menjadi bagian dari proses tumbuh dewasa. Sumber: Proboningrum Azzahra (Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Di balik perbedaan pandangan tentang kebebasan, kasih sayang orang tua tetap menjadi bagian dari proses tumbuh dewasa. Sumber: Proboningrum Azzahra (Pribadi)

Bagi sebagian anak, meminta izin kepada orang tua mungkin hal yang biasa. Namun, bagi anak yang tumbuh dengan strict parents, meminta izin terkadang terasa melelahkan. Bukan hanya karena takut tidak diperbolehkan, tetapi juga karena keinginan sederhana untuk menghabiskan waktu bersama teman sering kali sulit terpenuhi.

Sebagai anak bungsu, aku terkadang merasa belum bisa sebebas teman-temanku. Aku ingin menikmati masa kuliah, memperluas pertemanan, mengikuti kegiatan kampus, atau sekadar nongkrong, ngopi, dan makan bersama teman. Namun, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum akhirnya mendapatkan izin.

Bahkan ketika sudah diizinkan pergi, telepon dan pesan bisa datang berkali-kali untuk menanyakan keberadaanku dan mengingatkanku agar segera pulang. Jika melewati batas waktu yang ditentukan, aku harus siap menghadapi kemarahan ketika sampai di rumah. Terkadang, yang melelahkan bukan hanya aturan yang diberikan, melainkan perasaan bahwa aku belum sepenuhnya dipercaya untuk menjaga diri sendiri.

Strict Parents: Ketika Ingin Dipercaya, Bukan Sekadar Diizinkan

Ada kalanya aku tetap mencoba menjelaskan keinginanku meskipun sudah bisa menebak jawabannya. Namun, ketika merasa penjelasanku tidak mengubah keputusan, aku memilih diam. Terkadang rasa kesal juga membuatku tetap memaksakan diri untuk pergi. Aku hanya ingin menikmati masa muda dan memiliki pengalaman di luar rumah. Melihat teman-teman yang bisa pergi dengan lebih leluasa terkadang membuatku iri. Aku pun ingin membuktikan bahwa aku sudah bertambah dewasa dan mampu bertanggung jawab atas pilihanku sendiri.

Sumber: Unsplas/Salohiddin Kamolov

Terkadang muncul nasihat tentang bagaimana seharusnya anak perempuan bersikap. Aku memahami bahwa mamah dan papah memiliki kekhawatiran tersendiri. Namun, aku juga berharap mereka mengerti bahwa pergi ke kafe, main, atau makan bersama teman tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang negatif atau membahayakan diri sendiri.

Aku tidak meminta kebebasan tanpa batas. Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, dan membuktikan bahwa aku bisa menjaga diri.

Di Balik Aturan, Ada Kekhawatiran yang Perlu Dipahami

Seiring bertambahnya usia, aku mulai mencoba melihat keadaan dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin bagi orang tua, anak akan selalu menjadi seseorang yang ingin mereka lindungi, berapa pun usianya.

Terkadang aku juga memikirkan bagaimana keadaan keluarga ketika kakakku mulai memiliki kehidupan sendiri. Aku tidak tahu apakah hal itu memengaruhi cara mamah papah menjagaku. Namun, aku pernah berpikir bahwa mungkin mereka juga khawatir suatu hari nanti aku akan semakin sibuk dengan kehidupanku sendiri dan waktu bersama keluarga tidak akan sebanyak sekarang.

Aku tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Namun, aku mulai memahami bahwa pertanyaan tentang keberadaan, pesan yang berulang, dan aturan waktu pulang bisa menjadi cara mereka memastikan aku baik-baik saja.

Meski begitu, rasa syukur tidak serta-merta menghilangkan rasa lelah. Aku masih bisa merasa kesal ketika kebebasanku dibatasi dan sedih ketika keinginanku tidak didengarkan. Bagiku, menyayangi orang tua tidak berarti harus selalu setuju dengan setiap keputusan mereka. Hidup dengan strict parents membuatku belajar bahwa kasih sayang dan kebebasan seharusnya tidak selalu dipertentangkan.

Mencintai Mereka, Sambil Belajar Menjadi Diriku Sendiri

Aku menyadari bahwa hubungan antara orang tua dan anak juga perlu berkembang seiring bertambahnya usia. Orang tua perlu belajar memberikan kepercayaan, sementara anak perlu belajar menghargai kekhawatiran mereka.

Memberikan kabar, menepati janji, dan menghargai kesepakatan merupakan bagian dari tanggung jawabku. Di sisi lain, aku berharap mamah dan papah juga mau mendengarkan alasanku sebelum mengambil keputusan. Aku ingin mereka melihatku sebagai seseorang yang sedang belajar tumbuh dewasa, bukan hanya anak kecil yang harus selalu diarahkan.

Kalau bisa menyampaikan semuanya tanpa takut disalahpahami, aku ingin mengatakan bahwa aku tahu mamah papah menyayangiku. Aku tidak minta mereka berhenti menjaga. Aku hanya berharap mereka mau memberikan sedikit lebih banyak kepercayaan.

Menurutku, seseorang tetap bisa menyayangi orang tuanya meskipun tidak selalu menyukai cara mereka menunjukkan kasih sayang. Memahami kekhawatiran mereka bukan berarti harus mengabaikan perasaannya sendiri. Ia tetap boleh memiliki keinginan dan berharap mendapatkan ruang untuk bertumbuh.

Mungkin suatu hari nanti ketika sudah tinggal jauh dari rumah, aku akan merindukan pertanyaan mereka tentang kapan pulang atau pesan yang mengingatkanku agar berhati-hati. Namun, saat ini aku juga ingin menikmati masa muda, mencoba hal-hal baru, dan belajar menjalani kehidupan secara mandiri. Aku ingin belajar terbang dengan sayapku sendiri, tetapi aku juga ingin selalu punya tempat untuk pulang.

Pada akhirnya, aku tidak ingin harus memilih antara kebebasan dan kasih sayang orang tua. Aku ingin memiliki keduanya; kepercayaan untuk menjalani kehidupanku sendiri dan rumah yang tetap menjadi tempatku kembali.