Konten dari Pengguna

Awalnya Usaha Sampingan, Bruno Hasson Sukses Besarkan Bisnis Fesyen Sophie Paris

Profil Orang Sukses

Profil Orang Sukses

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benarkah tas mewah bisa dijadikan barang investasi? Foto: dok. Chanel
zoom-in-whitePerbesar
Benarkah tas mewah bisa dijadikan barang investasi? Foto: dok. Chanel

Sophie Paris merupakan salah satu merek ternama di skena fesyen Indonesia. Salah satu produk utamanya yakni tas yang merupakan kunci sukses dari Sophie Paris.

Didirikan pada 1994 di Jakarta, Sophie Paris dulunya bernama Sophie Martin yang didirikan oleh suami istri, Bruno Hasson dan Sophie. Pada awalnya, usaha fashion ini merupakan bisnis sampingan.

Hasson merupakan warga negara Prancis, yang kini telah menjadi WNI. Pria berdarah Eropa tersebut adalah lulusan dari Institut Pertanian Pemerintah Prancis ISTOM (Institut Superieur des Techniques d' Outre-Mer) dan memiliki usaha utama yakni jual beli alat industri pertanian, alat pengemasan, dan alat praktik dokter.

Hasson datang ke Indonesia untuk pertama kalinya pada 1989 untuk mengerjakan tesis. Saat kembali lagi ke Indonesia, ia mendirikan usaha.

Produk pertama mereka yakni tas, mengingat sang istri juga pernah bekerja sebagai desainer tas untuk merek ternama, Christian Dior. Alhasil, Sophie Martin tumbuh dan berkembang di era 90-an dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat.

Pada awal perintisan Sophie Martin, mereka menjualnya di lantai dua sebuah ruko di bilangan Wijaya Center, Jakarta Selatan. Pada lantai pertama, digunakan untuk menjual peralatan baja, sementara itu di lantai kedua, digunakan untuk menjual tas.

Meskipun awalnya mereka tidak berniat untuk berlama-lama di Indonesia, namun keduanya melihat adanya peluang bisnis yang didapat dari hasil kreasi keterampilan Sophie merancang tas.

Lalu mereka kedatangan seorang perempuan yang bersikeras untuk ingin memasarkan produknya di Bandung, Jawa Barat. Awalnya mereka menolak, namun setelah berkali-kali datang dan ditolak, Hasson dan istrinya pun luluh. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata produk mereka laris di Bandung.

Saat kerusuhan 1998 terjadi, Hasson memutuskan untuk bertahan. Pasca kerusuhan, nilai sewa properti di Jakarta menurun drastis. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh Hasson untuk menyewa kantor di Hero, Gatot Subroto, Jakarta selama 10 tahun.

Berkaitan dengan kesuksesan Sophie Martin, kini publik lebih mengenalnya dengan nama Sophie Paris. Perubahan nama tersebut sengaja disisipkan kata "Paris" untuk mendulang penjualan.

Kini Sophie Paris tidak hanya berfokus pada penjualan tas, namun juga pada sektor fashion dan kecantikan. Mulai dari tas, dompet, sepatu atau sandal, jam tangan, kacamata, make up, parfum, serta berbagai produk perawatan kulit dan tubuh.

Perusahaan asli Indonesia tersebut juga kini mempekerjakan sekitar 500 orang di lebih dari 10 negara, mulai Indonesia, India, Korea, Italia, hingga Prancis. Adapun cabang perusahaannya telah didirikan di Filipina, Vietnam, dan Maroko dengan 3,5 juta distributor di Indonesia, 1 juta di Filipina dan 270 ribu di Maroko.

Bruno Hasson kini merupakan CEO dari berbagai perusahaan yang didirikannya di masa pandemi. Pendiri Sistersel dan BrunBrun Paris tersebut mengelola 3 perusahaan yang secara bersama-sama didirikan pada September 2020 silam.