Cerita Kuli Bangunan yang Kini Punya Usaha Es Krim Beromzet Miliaran

Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemiskinan ataupun tidak adanya akses terhadap pendidikan adalah contoh menyedihkan dari apa yang bisa dialami oleh manusia. Karena kemiskinan, seseorang harus bekerja lebih keras dari orang-orang dari orang lain hanya untuk hasil yang tidak seberapa, adapun tidak adanya akses terhadap pendidikan membuat seseorang tidak bisa belajar atau mencecap ilmu pengetahuan.
Barangkali itulah yang dirasakan oleh Sanawi yang sekarang sukses menjadi pengusaha es krim. Ia berprofesi sebagai distributor juga produsen es krim yang dibuat di sebuah pabrik miliknya sendiri dengan nama "vania".
Omsetnya pun tergolong besar. Sanawi pernah menghasilkan Rp 1,5 miliar per bulan pada Tahun 2017. Jumlah tersebut tidak aneh untuk didapat mengingat Sanawi memiliki 400 orang pegawai yang ada di bawahnya.
Kesuksesan yang dimiliki olehnya ini memang lumrah ditemui jika kamu membuka biografi atau profil orang sukses. Tapi, tahukah kamu bahwa Sanawi memiliki jalan yang terbilang terjal untuk bisa mencapai kesuksesannya saat ini?
Tidak bisa membaca
Pria kelahiran Blora, 10 Oktober 1974, ini memiliki masa lalu yang pelik. Ketika anak-anak dapat duduk di sekolah dengan nyaman, Sanawi harus meninggalkan sekolah saat kelas 1 SD. Ia juga tidak bisa membaca juga menulis sehingga selalu menjadi sasaran bagi hinaan atau ledekan yang dilontarkan oleh teman-temannya.
Pekerjaan yang biasanya tidak dilakukan oleh anak seusianya pun dilakukan oleh Sanawi. Demi bisa menyambung hidup, menggembala sapi yang upahnya dipergunakan untuk membantu perekonomian keluarga.
Sebagaimana pemuda daerah kebanyakan, Sanawi yang saat itu menginjak masa remaja pergi merantau untuk mencari peruntungan di ibu kota. Selama di Jakarta, Sanawi bergulat dengan nasib sebagai kuli yang bekerja di bidang konstruksi. Meski memiliki pekerjaan sebagai kuli bangunan, ia juga tak lelah untuk melakukan kerja sampingan sebagai tukang cat jikalau memang tidak ada proyek yang bisa dikerjakan.
Mengenal es krim
Selepas dari ibu kota untuk beberapa tahun, Sanawi tidak pulang ke kampung halaman, tetapi meneruskan profesinya sebagai kuli bangunan di Kota Samarinda, Kalimantan Selatan.
Dalam upaya merantaunya yang kedua kali, Sanawi merasa profesi yang ia jalani saat itu tidak mampu mendongkrak penghasilannya. Sadar bahwa penghasilannya tidak meningkat, Sanawi tidak semata-mata pasrah terhadap nasib. Ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan lain, yakni sebagai tukang es krim.
Sanawi mengawali profesi barunya sebagai tukang es krim dengan menggunakan sepeda. Sanawi bersepeda dari satu rumah ke rumah lain untuk menawarkan es krim yang ia sajikan dengan cone. Saat itu, ia belum memproduksi es krimnya sendiri melainkan menjual es krim buatan orang lain seharga seribu rupiah.
Tantangan juga ia lewati selama bekerja sebagai tukang es krim. Selain menjaga stamina, Sanawi juga menjaga emosi dan kesabaran karena tak jarang diusir oleh orang lain yang tidak memperbolehkan anaknya untuk membeli es krim. meski begitu, Sanawi tetap konsisten dalam berusaha.
Wejangan klise tentang kerja keras yang berbanding lurus dengan hasil itu terbukti dalam hidup Sanawi. Konsistensinya dalam berjualan akhirnya menghasilkan sepeda motor. Ia juga mampu meminjam uang ke bank untuk membeli mobil bak terbuka yang dapat meningkatkan usaha es krimnya.
Sanawi yang mulanya hanya penjual kemudian berkeinginan untuk membuka bisnis es krimnya sendiri. Hal pertama yang ia lakukan untuk menggapi cita-citanya adalah mulai belajar membaca dan menulis. Berkat relasi yang ia miliki, ia juga bisa mempelajari cara berbisnis es krim dengan produsen es krim yang ia kenal.
Setelah belajar, Sanawi akhirnya berhasil menjadi distributor es krim yang menjadi bayaran atas kerja kerasnya menggeluti bisnis ini. Ia mampu memegang ratusan mitra yang mengambil es krim kepadanya.
Tidak berhenti di es krim, Sanawi juga mencoba peruntungan di bisnis lain. ia membuka bisnis mini market, menjual ayam dan bebek beku, juga jasa penyewaan kontainer. Bisnis-bisnisnya ini berada di bawah nama “vania” yang merupakan akronim dari Namanya sendiri dan nama putri kesayangannya.
Meskipun memiliki beberapa usaha lain, Sanawi yang sudah jadi pengusaha ini tetap menggeluti bisnis es krim sampai akhirnya mampu membangun pabrik di Kudus, Jawa Tengah, tempat ia memproduksi es krim dengan mereknya sendiri. Sanawi berhasil menjadi produsen es krim juga cone yang pada akhirnya mendatangkan keuntungan besar.
Perjalan Sanawi tentu saja membuktikan bahwa konsistensi adalah pegangan dalam menjalani hidup, meski terkadang perih dan penuh air mata.
