Kisah Carline Darjanto Raup Ratusan Juta dari Jualan Baju, Modalnya Rp 500 Ribu

Konten dari Pengguna
18 November 2020 12:58
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Carline Darjanto (Foto: Dok. Forbes)
zoom-in-whitePerbesar
Carline Darjanto (Foto: Dok. Forbes)
ADVERTISEMENT
Banyak brand pakaian yang dianggap berasal dari luar negeri karena kualitasnya yang bagus, salah satunya brand Cotton Ink yang dirintis oleh Carline Darjanto. Siapa sangka bahwa brand tersebut lahir dari pekerjaan sampingan?
ADVERTISEMENT
Mulanya, kemunculan brand tersebut diawali dari situasi saat Barrack Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat pada 2008. Kabar tersebut membuat nama Obama ramai diperbincangkan lantaran dirinya sempat tinggal di Jakarta saat masih kecil.
Momen tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Carline untuk menyablon kaos berwajah mantan Presiden Amerika Serikat tersebut dan melabelinya dengan Cotton Ink. Ia merintis bisnis tersebut bersama dengan sahabatnya sejak SMP, Ria Sarwono yang sama-sama sedang menempuh kuliah.
Usaha tersebut pun juga diawali dengan modal yang kecil. Mereka patungan masing-masing Rp 500 ribu yang dipinjam dari keluarga untuk membuat sebanyak dua lusin kaos berwajah Obama. Ternyata, kaos tersebut banyak diminati.
Padahal, usaha tersebut terhitung sampingan karena perempuan kelahiran 25 Mei 1987 itu masih kuliah sambil bekerja di perusahaan garmen milik pamannya. Meski begitu, antusias konsumen terhadap Cotton Ink membuat Carline berniat untuk mengembangkan bisnis fashion itu lebih jauh lagi, termasuk untuk membuat produk aksesoris.
ADVERTISEMENT
Setahun kemudian, Cotton Ink mengeluarkan produk baru yaitu convertible scarf, atau syal yang bisa dipakai untuk berbagai gaya. Produk tersebut kemudian banyak terjual hingga menjadi hits. Dari situlah, Cotton Ink mendapat respons positif sebagai salah satu brand lokal yang populer.
Mulanya, Cotton Ink tidak memiliki karyawan melainkan Carline mendesain sendiri produk-produknya. Bahkan, setahun berjalan, Carline hanya dibantu oleh ART orang tuanya. Namun kini, Cotton Ink sudah mempekerjakan sekitar 125 karyawan untuk membantu bisnis tersebut.
Carline yang merupakan lulusan Lasalle College of Fashion itu kini menjabat sebagai creative director. Sementara Ria bertanggung jawab memegang pemasaran produk. Cotton Ink yang mulai membangun gerai di Kemang pada 2010 itu lantas melakukan banyak inovasi.
ADVERTISEMENT
Pada 2012, Cotton Ink menggabungkan batik tradisional dan tenun ikat ke dalam desain produknya. Pakaian tersebut tetap terlihat casual namun dengan sentuhan unik khas motif tradisional. Selain itu, Carline juga merilis Cotton Ink Studio pada 2014 yang berisi koleksi yang memadukan minimalism dan modernism.
Pada 2017, Cotton Ink sudah mampu memproduksi 8.000 pakaian setiap bulannya dan mendapat keuntungan hingga Rp 100 juta. Pada 2015 hingga 2018, pendapatan Cotton Ink diketahui meningkat hingga 30%.
Jangan salah, penghasilan itu didapatkan tanpa ada suntikan modal dari investor. Setelah membuka gerai keempat di Senayan City pada 2019 lalu, Cotton Ink berencana mencari investor untuk memperluas pasar.
Berkat terobosan yang inovatif, Cotton Ink banjir penghargaan seperti Cleo Fashion Award 2010, Free! Magazine Award, dan inStyle Magazine Award. Selain itu, Carline masuk dalam daftar Forbes ‘30 Under 30’ Asia di bidang Retail & Ecommerce pada 2016.
ADVERTISEMENT