Kisah Frederick Smith dirikan FedEx, Ide Bisnis yang Mendapat Nilai C dari Dosen

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat berkuliah, mahasiswa bernama Frederick W. Smith sempat membuat makalah ekonomi tentang perlunya bisnis pengiriman. Sayangnya, dosen Smith tidak menanggapi dengan baik bahkan memberi nilai C untuk makalah tersebut.
Namun siapa sangka, dari makalah bernilai buruk itu, Smith dapat mengembangkan idenya hingga menjadi perusahaan jasa pengiriman besar di dunia bernama FedEx. Bahkan kini perusahaan itu diperkirakan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar USD 84 miliar atau sekitar Rp 1.204 triliun.
Mengutip dari Entrepreneur.com, Jumat (18/02), Frederick W. Smith merupakan pria kelahiran 1944 dari keluarga mapan. Saat baru berusia 4 tahun, sang ayah meninggal dunia setelah sukses menjadi jutawan melalui bisnis yang didirikannya yaitu Dixie Greyhound Bus Lines dan restoran Toddle House.
Beranjak remaja, Smith masuk Universitas Yale untuk mendapat gelar sarjana Ekonomi. Pada pertengahan 1960, sang profesor menilai makalah karya Smith tidak mengesankan dan idenya dianggap kurang layak.
“Konsepnya menarik dan terbentuk dengan baik, tetapi untuk mendapatkan lebih baik dari 'C', idenya harus layak,” tanggapan profesor untuk makalah Smith, mengutip Entrepreneur.
Selulusnya dari bangku perkuliahan, Smith sempat mendaftar Marinir dan dikirim ke Vietnam. Di sana ia diberi tanggung jawab atas sekolompok anak muda dengan latar belakang yang sangat berbeda dengannya.
Setelah dua kali menjalankan tugas, Smith akhirnya memutuskan untuk berhenti dan kembali ke dunia bisnis. Smith kemudian sempat bekerja di perusahaan yang dibeli oleh ayah tirinya, yang bergerak di bidang perawatan pesawat.
Selang satu tahun, Smith teringat dengan konsep jasa pengiriman yang ia susun saat berkuliah. Akhirnya dengan tekad besar, Smith mewujudkan ide itu. Ia menciptakan sistem pengiriman jalur udara kemudian berkembang di jalur darat yang ia namai Federal Express atau disingkat FedEx.
Optimis dengan ide bisnisnya, Smith memberikan USD 4 juta (sekitar Rp 57 miliar) miliknya yang ia terima dari warisan sang ayah. Ia kemudian berusaha untuk mencari investor agar mendapat dana lebih besar. Setelah berjuang cukup sulit, Smith berhasil mengumpulkan pinjaman USD 80 juta dan investasi ekuitas.
FedEx mulai beroperasi pada April 1971 menggunakan 14 jet Falcon dan melayani 25 kota. Di hari pertama saja, FedEx sudah berhasil mengirimkan 186 paket ke berbagai titik. Setelah sukses dalam semalam, penjualan FedEx kian meningkat dari hari ke hari.
Seperti bisnis pada umumnya, FedEx juga sempat mengalami kerugian bahkan nyaris bangkrut. Hal ini dikarenakan harga bahan bakar yang tiba-tiba melambung, melampau pendapatan FedEx. Akhirnya pada pertengahan 1974, FedEx merugi lebih dari USD 1 juta setiap bulannya.
Walau gagal meminta bantuan dana dari investor, Smith tidak mudah menyerah. Setelah melewati berbagai penolakan, akhirnya ia memilih cara impulsif yakni pergi ke Las Vegas. Beruntungnya di sana ia berhasil bermain blackjack dan mendapat uang sekitar USD 27 ribu (atau setara Rp 387 juta).
Uang itupun Smith segera kirimkan untuk FedEx. Smith percaya, walau USD 27 ribu tidak terlalu meyakinkan, ia tetap yakin perusahannya dapat kembali pulih.
"Saya telah berkomitmen kepada orang-orang yang telah menandatangani kontrak dengan saya, dan jika kami mengalami masalah, kami akan bertarung memperjuangkannya,” katanya.
Setelah kemenangannya di Las Vegas, Smith mampu mengumpulkan uang lagi sebesar USD 11 juta. Perusahaan itu kembali bangkit dan pada 1976, pendapatan FedEx tercatat mencapai USD 75 juta. Selang dua tahun setelahnya, FedEx pun melakukan IPO.
FedEx kini menjadi perusahaan ekspedisi mendunia dan sudah mempekerjakan ratusan ribu pekerja. Smith sendiri, yang kini masih menjabat sebagai CEO sekaligus Chairperson di FedEx memiliki kekayaan bersih senilai USD 5 miliar atau Rp 71 triliun.
