Mantan OB Ini Sekarang Punya 4 Ribu Karyawan dan Harta Triliunan

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka seorang anak Office Boy (OB) bisa menjadi bos perusahaan besar yang berharta triliunan rupiah. Segala sesuatu memang telah diatur, sehingga tentu saja kemungkinan si anak OB jadi pemilik perusahaan masih terbuka.
Buktinya, seorang Witjaksono, pria asal Pati, mampu mewujudkan impiannya kendati ia hanyalah seorang putra dari ayah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Golongan II A dengan job desk OB.
Witjaksono adalah pendiri dari PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM), sebuah perusahaan perikanan yang berbasis di Pati, Jawa Timur. Dari perusahaannya itu, Witjaksono mampu meraup keuntungan besar guna wujudkan impiannya.
Perusahaan yang ia dirikan itu bahkan kini telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak cuma itu, pabrik buatan Witjaksono itu kini telah mempekerjakan lebih dari 4 ribu orang karyawan.
Bukan hanya DPUM, Witjak juga berhasil membuat satu perusahaan lainnya yang ia pimpin, PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo (DAJK) masuk dalam bursa BEI. Dari dua perusahaan itu, Witjak berhasil raup keuntungan hingga triliunan rupiah.
Di perusahaan yang kedua, Witjak bertindak sebagai direktur keuangan. Dua posisi itu ia rangkap sekaligus dengan tanpa ada kendala sedikitpun yang timbul dari kedua posisi strategis tersebut.
Kinerjanya yang luar biasa itu bahkan sempat membuat pemuda berlatar belakang Nahdhatul Ulama (NU) itu berhasil mencatatkan namanya dalam daftar "Local Champions 2017" versi Forbes.
Daftar tersebut adalah daftar yang diisi oleh nama-nama pengusaha lokal yang tak hanya berhasil mendulang kekayaan, tetapi juga punya pengaruh terhadap bangsa negaranya.
Padahal, jika menelusuri kisah hidup Witjak di masa lampau, niscaya kita akan melihat ternyata Witjak yang sekarang amatlah jauh berbeda dengan Witjak yang dahulu.
Sebagaimana yang dijelaskan di atas, Witjak adalah seorang anak dari seorang PNS golongan II yang tentu saja gajinya pas-pasan. Namun, sang ayah tetap mampu membesarkan keluarganya dengan baik.
Adapun ibunda Witjak ialah seorang buruh pabrik kacang yang tidak bergaji tetap. Untuk mendapatkan honor, ibunda Witjak harus memanggul kacang yang beratnya mencapai 50 kilogram.
Untuk makan sehari-hari, keluarga Witjak harus memunguti beras bekas panen yang jumlahnya tidak bisa mencukupi kebutuhan harian.
Lauk pauknya saja hanya kecap, kerupuk, dan telur ceplok. Telur ceplok yang dimakan hanyalah satu butir, tidak cukup untuk satu keluarga Witjak yang jumlahnya hingga delapan.
Akhirnya, telur ceplok tersebut harus dibagi delapan bagian. Begitulah sedianya Witjak semasa muda sebelum akhirnya menjadi konglomerat dan menginspirasi banyak orang.
