Bisnis
·
19 Oktober 2020 12:05

Mengenal Ferry Unardi, Pendiri Traveloka yang Putus Sekolah dari Harvard

Konten ini diproduksi oleh Profil Orang Sukses
Mengenal Ferry Unardi, Pendiri Traveloka yang Putus Sekolah dari Harvard (560036)
Ferry Unardi (Foto: SWA)
Para traveler tentu tak asing lagi dengan aplikasi Traveloka. Memang benar, pendirian aplikasi tersebut berasal dari keresahan Ferry Unardi yang kesulitan memesan tiket di era digital.
ADVERTISEMENT
Atas kejeliannya terhadap peluang bisnis, pada akhirnya Traveloka hadir untuk memudahkan masyarakat membeli tiket. Meski begitu, bukan berarti Ferry membangun Traveloka dengan mudah.
Untuk menjalankan idenya tersebut, Ferry harus meninggalkan pekerjaan lamanya dan melepaskan studinya. Ia yang lahir di Padang, 16 Januari 1988, itu adalah lulusan Computer Science and Engineering Universitas Purdue di Amerika Serikat.
Berkat kepintarannya, Ferry dapat bekerja sebagai software engineer di Microsoft selama tiga tahun. Namun, nampaknya bekerja di perusahaan prestise ternyata membuat Ferry sulit mengembangkan diri.
Lalu, Ferry memutuskan liburan ke China untuk melepaskan kesuntukan dari pekerjaan tersebut. Di sanalah, ide membangun bisnis di industri travel muncul. Akan tetapi, Ferry masih ragu dengan idenya tersebut dan memilih untuk tidak melaksanakannya.
ADVERTISEMENT
Ia kemudian menunda idenya itu sembari melanjutkan S2 di Universitas Harvard dengan mengambil jurusan bisnis. Pada saat ingin pulang ke Indonesia, Ferry merasa kesulitan untuk memesan tiket pesawat. Sosok Ferry justru melihat ketidaknyamanan tersebut menjadi peluang bisnis.
Terlebih, industri travel belum memasuki ranah teknologi secanggih sekarang. Dari situ, Ferry meninggalkan studi S2-nya yang baru jalan satu semester dan memilih untuk mengembangkan sebuah mesin pencari tiket pesawat yang dapat diakses masyarakat dengan mudah.
Bersama dua sahabatnya, Derianto Kusuma dan Albert Zhang, Ferry akhirnya mendirikan Traveloka pada tahun 2012. Pada saat ini, Traveloka hanya menawarkan layanan pencari dan pembanding harga tiket pesawat.
Meski begitu, situs tersebut tetap berguna bagi pengguna yang ingin membandingkan harga tiket ketika hendak bepergian. Tak lama kemudian, Ferry melihat peluang bisnis yang lain.
ADVERTISEMENT
Ternyata, masyarakat tidak hanya ingin membandingkan harga tiket saja, melainkan juga melakukan pemesanan secara online. Karena itulah, banyak investor yang berbondong-bondong masuk ke industri pemesanan tiket karena adanya permintaan tinggi dari masyarakat.
Setahun kemudan, Ferry mantap untuk mengubah Traveloka menjadi situs pemesanan tiket pesawat. Meski terobosannya terlihat cemerlang, bukan berarti Traveloka berkembang dengan mulus.
Pada awal pendiriannya, Ferry harus bisa mempertahankan Traveloka dengan hanya delapan orang karyawan. Tak hanya itu, tidak sedikit maskapai penerbangan yang menolak kerja sama dengan Traveloka.
Ferry tentu tidak menyerah. Ia meyakinkan bahwa mereka juga harus adaptif dengan perkembangan teknologi baru pemesanan tiket. Pada akhirnya, usaha tersebut tidak sia-sia.
Selain banyak maskapai penerbangan yang bergabung, Traveloka juga mendapat pendanaan dari perusahaan venture capital, East Ventures pada tahun 2012 dan Global Founders Capital pada tahun 2013.
ADVERTISEMENT
Kini, Traveloka telah dikunjungi oleh hampir 250 ribu orang setiap harinya. Pada 2017, atau lebih tepatnya setelah lima tahun berdiri, Traveloka resmi menjadi perusahaan unicorn yang sudah mempekerjakan lebih dari 1,200 orang karyawan.
Pada 2019 lalu, nilai perusahaan sudah mencapai 2 miliar dolar AS, setara dengan Rp 28 triliun. Berkat kesuksesannya membangun Traveloka, Ferry masuk dalam daftar 30 Under 30 versi Forbes pada kategori "Retail & E-Commerce".
Selain itu, ia juga masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia yang dirilis Majalah Globe Asia pada Juni 2018. Menempati urutan ke-146, Ferry menjadi orang terkaya termuda yang memiliki kekayaan mencapai 146 juta dolar AS atau setara dengan Rp 2,1 triliun.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white