Bisnis
·
9 September 2020 14:46

Mengenang Kiprah Jakob Oetama, Anak Desa yang Sukses Jadi Konglomerat Media

Konten ini diproduksi oleh Profil Orang Sukses
Mengenang Kiprah Jakob Oetama, Anak Desa yang Sukses Jadi Konglomerat Media (53332)
Jakob Oetama (Foto: Twitter.com/Jusuf Kalla)
Hari ini, Rabu (9/9/20), pendiri Kompas Gramedia Group, sekaligus jurnalis legenda Tanah Air, Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
ADVERTISEMENT
Ia meninggal dunia tepat pada usia 88 tahun. Tentu, seluruh kerabat, keluarga, dan dunia jurnalistik negeri ini turut berduka atas meninggalnya salah satu pelopor media Indonesia itu.
Karir Jakob Oetama di bidang media tentu tak perlu diragukan lagi. Mendiang dikenal sebagai pendiri sekaligus pemilik Kompas Gramedia Group, sebuah grup perusahaan media yang sangat besar.
Kompas Gramedia Group yang didirikan oleh mendiang Jakob Oetama bersama kawannya, PK Ojong, itu bahkan tak hanya menguasai bisnis media. Seperti banyak diketahui, Kompas juga punya ratusan toko buku yang tersebar di seluruh Indonesia.
Belum lagi bisnis-bisnis lainnya. Kompas Group juga punya perusahaan-perusahaan lain yang bergerak di bidang media massa, radio percetakan, hotel, bahkan hingga universitas.
ADVERTISEMENT
Semua ini jelas bukan berasal dari ruang kosong. Jakob tak serta merta menjadi bos media besar jika tidak melalui proses yang amat panjang sebelumnya. Ia juga mengalami pahit manisnya sebagai seorang jurnalis.
Berasal Dari Keluarga Sederhana
Jakob Oetama bukan "darah daging" seorang elite. Ia lahir dari keluarga sederhana yang berasal dari desa Borobudur, Magelang pada 27 September 1931.
Ia merupakan satu dari 13 bersaudara. Putra daerah itu kemudian memilih jalan menjadi seorang jurnalis. Meski merupakan seorang putra dari pensiunan guru, Jakob tetap berusaha keras mencari passion-nya sebagai pewarta.
Karir jurnalistiknya dimulai ketika ia menjadi redaktur Mingguan Penabur pada 1956. Sejak mulai bergelut di bidang media, ia bertemu dengan seorang rekan yang kelak akan sangat memengaruhi hidupnya, PK Ojong.
ADVERTISEMENT
Pertemuannya dengan PK Ojong sangat berarti bagi karier Jakob selanjutnya. Dua orang jurnalis itu berani-beraninya mendirikan sebuah media bernama Intisari pada 1963. Siapa sangka, dua tahun kemudian, 28 Juni 1965, dua orang itu mendirikan Kompas yang kini menjadi raksasa media Tanah Air.
Meraih Penghargaan dan Menjadi Orang Terkaya
Memang betul. Semua hasil tak akan mengkhianati proses. Barangkali itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok Jakob Oetama. Keseriusannya di bidang media membawa ia ke berbagai penghargaan.
Pada 1973 silam, Jakob menjadi penerima penghargaan Bintang Mahaputra dari pemerintah Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, yakni pada 2003, ia mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada.
Pekerjaannya di bidang media tak hanya asal kerja belaka. Menjadi jurnalis yang banyak merasakan era represif Orde Baru, membuat Jakob putar otak. Ia ingin tetap menjadi jurnalis yang melakukan kontrol terhadap kekuasaan, tetapi menghindari konflik.
ADVERTISEMENT
Dari pemikiran itulah lahir istilah jurnalisme damai yang diprakarsai oleh Jakob Oetama. Ya, setidaknya ia menjadi pelopor jurnalisme damai Tanah Air. Gaya jurnalistiknya itu kemudian menjadi patokan peliputan seluruh media yang ada di bawah Kompas Group.
Bicara penghasilan, pendapatan yang didapat seorang Jakob Oetama dari seluruh perusahaan yang bernaung di bawah payung Kompas Gramedia Group membuat ia tercatat sebagai orang terkaya Indonesia ke-13 pada 2013 silam. Jakob punya kekayaan bersih sebesar 1,3 miliar dolar AS.
Kini, Jakob Oetama telah tiada. Sosoknya akan menjadi panutan setiap orang, terutama bagi mereka yang baru memulai karier sebagai seorang jurnalis. Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Terimakasih atas segala pengabdianmu.