Konten dari Pengguna

Meski Hanya Lulusan SD, Eks Tukang Becak Ini Jadi Pengusaha Sukses di Swiss

Profil Orang Sukses

Profil Orang Sukses

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah becak terparkir di tepi Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah becak terparkir di tepi Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Garis kehidupan memang rahasia ilahi. Banyak yang bekerja keras untuk mengubah nasibnya. Rejeki nomplok yang datang dari langit hanya keberuntungan semata dan tidak semua orang dapat memilikinya. Salah satu manusia yang beruntung itu adalah Pono. Mantan tukang becak itu kini menjadi seorang pengusaha sukses di Swiss.

Saat itu dirinya bekerja sebagai tukang becak. Ia tak dapat memilih pekerjaan lainnya lantaran hanya memiliki ijazah SD. Sehari-hari ia mengantarkan sayur dan mengantar pelancong asing di daerah Prawirotaman, Yogyakarta tahun 1992. Kerjaannya ini ia lakoni dengan hati yang tulus. Oleh komunitas becak sekitar, ia dipanggil dengan nama Pono Geneng.

Pemilik nama asli Pujiono ini memiliki sikap hidup jujur yang tak banyak dimiliki oleh orang banyak. Prinsipnya ini ternyata mampu membalikkan garis hidupnya. Kisahnya dimulai ketika dirinya menemukan tas yang berisi uang dolar di daerah Prawirotaman. Dolar itu senilai Rp 42 miliar di tahun 1992. Jelas angka yang besar di tahun itu. Tas dengan uang yang banyak itu menjadi godaan bagi siapapun, termasuk Pono.

Sejumlah becak terparkir di tepi Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Ia membawa pulang tas itu dan memberitahu ibunya mengenai temuannya. Ia berkata, dengan uang segitu banyak mereka dapat membeli rumah, mobil, dsb. Ibunya lantas menasehati bila uang itu tidak akan menjadi bergah bila digunakan. Bahkan bisa menjadi sebuah masalah. Seperti bila dibelikan mobil, justru akan terjadi kecelakaan.

Pono menuruti Ibunya. Ia mengembalikan uang tersebut. Setelah mencari beberapa saat, ia menemukan pemilik tas tersebut. Pemilik tas ternyata sepasang suami isteri yang berasal dari Swiss. Keduanya menginap di hotel Garuda. Pono tak mendapat hadiah dari kejujurannya. Ia bahkan harus terkena apes. Becaknya dicuri orang lantaran tidak ia gembok saat parkir. Alhasil dirinya pulang jalan kaki ke rumah. Ia dengan besar hati menerima nasibnya.

Tak lama berselang, Charli Morandi dan istrinya mencari Pono setelah liburan dari Bali. Sepasang suami isteri tersebut mengajak Pono ke Swiss sebagai rasa terima kasih mereka. Sesampainya di Swiss, mereka yang merupakan petani mengajarkan Pono bercocok tanam. Tiga tahun tinggal bersama orang tua asuhnya, Pono harus mengikhlaskan mereka pergi lantaran penyakit gula yang dideritanya.

Tetapi Sebelum meninggal, sejoli itu meninggalkan seluruh hartanya agar diwariskan oleh Pono. Mereka berdua teringat pada kejujuran Pono di masa lalu. Setelah ditinggal oleh kedua orang tua angkatnya, -Pono kemudian menjadi pengusaha distributor kopi. Kopinya ia salurkan ke kafe-kafe di Swiss. Meski telah menjadi pengusaha sukses, Pono tak lupa darimana ia berasal. Ketika pulang ke Yogyakarta Pono masih berteman dengan para kawan tukang becaknya.