Konten dari Pengguna

Naomi Susilowati, Eks Buruh Rokok yang Sekarang Jadi Juragan Batik Lasem

Profil Orang Sukses

Profil Orang Sukses

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Naomi Susilowati Setiono/kumparan.com
zoom-in-whitePerbesar
Naomi Susilowati Setiono/kumparan.com

Pernah mendengar Batik Lasem? Batik Lasem merupakan salah satu jenis kerajinan batik indah yang berasal dari daerah Lasem, kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Batik Lasem merupakan kebudayaan turun temurun yang terkenal hingga ke mancanegara. Dana yang perlu Anda siapkan untuk memiliki Batik Lasem yang merupakan batik tulis ini sekitar Rp 200.000 hingga Rp 6 juta.

Batik Lasem ini sempat mengalami redup dalam sejarahnya, hingga hadirlah sosok berjasa yang mampu menghidupkan kembali pesona Batik Lasem ini. Sosok tersebut kini merupakan seorang wirausaha bernama Naomi Susilowati Setiono.

Naomi Susilowati Setiono merupakan wirausahawan sukses di bidang kerajinan Batik Lasem. Wanita keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di kota kecil Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Ia adalah salah seorang yang berhasil menghidupkan kembali gairah industri batik Lasem, setelah bertahun-tahun redup.

Suka maupun duka dalam mengembangkan batik Lasem atau Laseman sudah dirasakan oleh Naomi.

Naomi dibesarkan dari keluarga yang terpandang, meski begitu Naomi sama sekali tidak tinggi hati. Justru sebaliknya, Naomi begitu membumi selalu berlaku baik kepada semua orang.

Tak disangka, di balik kesuksesan kehidupan Naomi saat ini sebagai wirausahawan sukses di bidang kerajinan batik, nyatanya tersirat kesedihan serta perjuangan yang tak ternilai harganya.

Semasa hidupnya, Naomi adalah seorang pekerja keras. Bahkan, demi menyambung hidup, ia pernah melalui masa mudanya sebagai pekerja kasar seperti tukang cuci, bahkan pernah menjadi kernet bus antar kota.

Pada tahun 1980, ia dihadapkan dengan masalah sehingga dikucilkan dan diusir dari keluarga yang saat itu terpandang di wilayahnya.

Penolakan dari keluarga yang telah mengasuhnya 21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia merasa sedih dan sakit hati tetapi tidak menyerah pada hidup. Ia pun pindah ke Kabupaten Kudus untuk memulai kehidupan baru.

Keadaan saat itu cukup sulit untuk gadis seusia 21 tahun. Pada saat itu, Naomi rela untuk menyambung hidup. Naomi pun menekuni berbagai pekerjaan bahkan pekerjaan kasar.

Seorang Naomi Susilowati Setiono, pada saat itu rela menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian atau buruh cuci.

Karena kebutuhan yang mendesak dan tergiur penghasilan yang lebih tinggi, Naomi juga sempat beralih sebagai buruh pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.

Karena kurang cekatan, ia hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit, Rp 375 per hari. Padahal teman-teman dapat memotong rokok berkarung-karung, bisa mendapat uang Rp 2.000-an.

Ia pun hengkang dan berpindah sebagai kernet bus Semarang-Lasem. Kerasnya perjalanan hidup mengantarkan Naomi menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kata hatinya.

Waktu berlalu, roda kehidupan kemudian membawa Naomi kembali ke tanah kelahirannya Lasem, dan bekerja sebagai buruh perajin batik.

Pada saat itu, rupanya orang tua Naomi meminta Naomi untuk kembali ke Lasem. Alih-alih disambut hangat, ternyata kembalinya Naomi bukan disambut baik melainkan disambut dengan berbagai cemooh. Bukan tanpa alasan orang tua Naomi meminta Naomi kembali.

Kedatangan Naomi menciptakan luka baru buatnya, namun Naomi tetap berlapang dada meski pilu.

“Saya ditempatkan di bawah pembantu. Mau minta air dan makan ke pembantu. Saya juga tidak boleh memasuki rumah besar.” ujar Naomi.

Orang tua Naomi pada tahun 1990 memutuskan untuk pindah ke ibu kota dan hidup bersama adik- adiknya di sana.

Naomi dipanggil karena usaha batik orang tuanya redup, tidak ada yang meneruskan. Di sinilah kesempatan itu muncul dan jiwa wirausahawan Naomi juga mulai nampak.

Naomi terus menerus mempelajari tentang Batik Lasem dengan tekun mulai dari desain, menggoreskan pola dan corak dengan canting, melapisi kain dengan malam yang panas, hingga memberi pewarnaan dengan sangat teliti hingga akhirnya ia belajar mendesain motif batik.

Naomi memanggil dan mengumpulkan kembali para perajin dengan kinerja yang baik dan andal yang dulu sempat pernah bekerja pada pabrik keluarganya.

Meski masih menggunakan peralatan tradisional, Batik Lasem Naomi memiliki kualitas yang unggul yang menjadikannya terkenal diantara produksi Batik Lasem yang ada.

Naomi yang memimpin Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha Lasem, Rembang, ini memiliki 30 orang perajin guna membantu dan mendukung usahanya.

Salah satu bukti produktivitas Naomi sebagai wirausahawan sukses di bidang kerajinan yakni setiap bulan Naomi dan rekan-rekan pekerja di tempatnya terus mengerjakan batik tulisnya hingga menghasilkan rata-rata 150 potong batik tulis.

Batik-batik ini selalu dikirim ke berbagai daerah seperti Banten, Medan serta Surabaya.

Atas kecintaan dan dedikasinya yang mendalam terhadap membatik, membuat Naomi Susilowati Setiono sadar akan pentingnya kebudayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.