Perjalanan Jan Koum Dirikan WhatsApp, Dulunya Cuma Tukang Sapu

Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman yang serba canggih ini, rasanya tak asing lagi dengan aplikasi chatting populer yang ada di smartphone, yakni WhatsApp. Mungkin kamu salah satu penggunanya. Aplikasi berwarna hijau itu sukses diunduh lebih dari 5 miliar kali, tercatat di Google Play.
Penggunaan komunikasi jarak jauh tentunya jadi kebutuhan sehari-hari dan membuat banyak orang menggunakan aplikasi yang dirilis pada 2009 itu. Menawarkan fitur yang mudah digunakan semua kalangan, dari anak muda hingga orang tua, tentunya jadi primadona.
Namun, apa kamu pernah bertanya-tanya, siapakah orang di balik aplikasi yang sering kamu gunakan itu? Namanya memang tak sebeken Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, dan juga Bill Gates, pendiri Microsoft. Walaupun begitu, pendiri WhatsApp ini punya cerita menarik sebelum meraih kesuksesannya.
Salah satu pendirinya adalah Jan Koum, kehidupannya harus melewati kerikil tajam, tapi tak menyurutkan asanya tuk berpijak di posisi teratas. Dilahirkan di desa kecil Kiev, Ukraina, Koum merupakan keturunan Yahudi. Kondisi lingkungan rumahnya amat memprihatinkan, saat itu fasilitasnya belum memadai sehingga ia harus hidup tanpa listrik dan juga menggunakan toilet umum.
Imigrasi ke Amerika Serikat
Sekitar tahun 1990-an, di negara kelahirannya sedang mengalami pergolakan politik gerakan anti-Yahudi sehingga keluarga Koum harus pindah dari negara itu. Koum dan ibunya berimigrasi ke Amerika Serikat. Walaupun telah terbebas dari situasi politik Ukraina, perpindahan mereka tidak begitu menguntungkan. Pria kelahiran Februari 1976 itu harus kehilangan ayahnya yang belum sempat menyusul ke Amerika.
Di usianya 16 tahun, Koum menjajal sederet rintangan kehidupan, saking tak punyanya uang, ia sempat hidup hanya mengandalkan bantuan makan gratis dari pemerintah yang ditujukan kepada warga tunawisma.
Menghadapi posisi yang sulit, Koum bersama sang ibu mulai mencari pekerjaan. Ibu Koum bekerja sebagai pengasuh anak, sementara dirinya menjadi tukang bersih-bersih di sebuah toko kelontong.
Kehidupan mereka mulai mendapati titik terang, Koum akhirnya bisa menempuh pendidikan menengah. Saat bersekolah, ia memang tak dikenal sebagai murid yang pintar. Tapi, Koum banyak mempelajari hal baru, salah satunya pemrograman. Ia mulai belajar secara otodidak dan juga bergabung dengan grup hacker di sekolahnya.
Selepas SMA, minat Koum terhadap programming semakin mencuat dan melanjutkan pendidikannya ke San Jose University. Demi bisa membayar biaya kuliah dan kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai penguji keamanan komputer di di Ernst & Young. Tak hanya itu, berkat keahlian yang dimilikiya, Koum mendapat kesempatan bekerja di Yahoo sebagai teknisi infrastruktur dan keamanan.
Di pertengahan masa kuliahnya, ia memutuskan untuk keluar dan fokus mencari uang. Bekerja di Yahoo mempertemukannya dengan Brian Acton, yang saat itu menjadi sahabatnya. Kedekatannya ini saling mendukung karier satu sama lain. Sampai akhirnya, pada 2007, dua sejoli itu mundur dari Yahoo dan mencoba peruntungan yang baru.
Ditolak Kerja di Facebook, Mendirikan WhatsApp
Selepas keluar dari Yahoo, Koum mencoba melamar kerja ke Facebook bersama sohibnya itu. Berkarier di Facebook memang menunjukkan potensi yang menguntungkan, tapi apa daya lamarannya ditolak oleh Facebook. Tak berkecil hati, penolakan yang didapatkan ini sebagai titik balik agar dirinya lebih semangat untuk membuat sesuatu yang baru.
Tak punya pekerjaan, membuat otak Koum mengeluarkan ide-ide kreatif. Ia baru memiliki iPhone dan menyadari adanya peluang besar di industri aplikasi. Akhirnya, Koum bersama rekannya, Acton, memutuskan mendirikan perusahaan WhatsApp Inc. di California pada 2009. Walaupun yang mengunduh aplikasi chatting itu hanya sekitar 250 orang, Koum terus berinovasi mengembangkan aplikasi ciptaannya. Dengan kegigihan dan ketekunannya, WhatsApp semakin meraksasa dan mulai banyak diunduh oleh orang.
Menjadi Miliarder karena Facebook
Hidup ini memang lucu, yang dulunya Koum ditolak kerja di Facebook, justru pada 2014, Facebook mengakuisisi WhatsApp senilai USD 22 miliar atau sekitar Rp 306 triliun (kurs Rp 13.926) dalam bentuk tunai dan saham. Kesuksesan WhatsApp menjadi daya tarik Facebook untuk membelinya.
Empat tahun kemudian, Koum mengumumkan dirinya hengkang dari CEO WhatsApp. Ia ingin pergi sejenak dari industri teknologi dan menikmati kegiatan lainnya. Walaupun begitu, kekayaan Jan Koum tercatat di Forbes per Selasa (5/1) senilai USD 10,1 miliar (Rp 140,6 triliun). Koum juga telah menyumbangkan USD 1,15 miliar (Rp 16 triliun) sahamnya untuk badan amal, termasuk ke yayasan miliknya, Koum Family Foundation.
