Profil Orang Sukses: Putra Penyewa Becak yang Kini Masuk Daftar Orang Terkaya

Konten dari Pengguna
11 Maret 2020 14:37
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dato Sri Tahir. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dato Sri Tahir. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
ADVERTISEMENT
Dalam meraih impian, terkadang kita harus menunggu. Menunggu bukan berarti membiarkan waktu bergerak begitu saja tanpa adanya sedikitpun keinginan kita untuk melangkah. Menunggu adalah bersabar dalam melakukan perlawanan terhadap segala sesuatu yang memberatkan.
ADVERTISEMENT
Dato Sri Tahir adalah seorang pengusaha ternama di Indonesia. ia merupakan orang nomor 1 di Mayapada Grup danjuga merupakan sosok di balik Bank Mayapada.
Tahir pernah masuk ke dalam daftar 10 orang terkaya versi majalah Forbes. Tahun 2020 ini, kekayaan bersihnya mencapai USD 4,5 miliar. Wajar jika ia juga merupakan seorang filantropis atau orang kaya yang gemar menyumbangkan kekayaannya untuk beramal atau membiayai upaya penyelesaian masalah yang ada di dunia.
Namun, kesuksesan yang bertengger di pundak Tahir tidak ia dapat dengan mudah. Sebelum seperti sekarang, ia hanyalah orang biasa dan tidak datang dari keluarga kaya atau terpandang.
Merangkak dari keterbatasan
Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952, ini tumbuh besar di sebuah kontrakan kecil dan sederhana, bahkan hingga ia menginjak usia 20 tahun. Kedua orang tuanya harus bekerja demi menanggung kehidupan sehari-hari. ibunya bekerja sebagai tukang cat becak, sedangkan ayahnya membuka jasa penyewaan becak.
ADVERTISEMENT
Keterbatasan finasial inilah yang memagari impian Tahir muda. Ia tak sanggup mewujudkan cita-citanya untuk berkuliah di fakultas kedokteran. Tapi, hal tersebut tidak serta merta membuat keinginannya pupus. Tahrir berhasil mengambil kuliah kedokteran di Taiwan.
Pendidikan dokternya ini tidak berlangsung lama. Tahir kembali ke Indonesia karena tidak nyaman dengan rutinitasnya. Hal itu juga terjadi seiring sampainya kabar kepadanya bahwa ayahnya jatuh sakit.
Selepas dari Taiwan, harapannya untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi Tahir coba kejar lagi. Melalui beasiswa, Tahir berhasil kuliah di Nanyang Technological University, Singapura.
Selama di Singapura, Tahir menganyam pendidikan di sekolah bisnis sembari menjalani bisnis yang ia miliki. Ia mencari pemasukan dengan cara menjual barang-barang asal Singapura ke Indonesia setiap bulan. Upayanya mencari penghidupan dengan cara berbisnis ini lambat laun melunturkan keinginannya sebagai dokter, dan semakin membulatkan keinginan untuk menjadi pengusaha.
ADVERTISEMENT
Lahirnya Mayapada Grup
Dato Sri Tahir. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dato Sri Tahir. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Dalam profil orang sukses, beberapa tokoh memang memulai karir dengan bisnis skala kecil, begitupun Tahir. Nama Mayapada disematkan kepada bisnis leasing. Bisnisnya ini menjual dan menyediakan kredit mobil.
Sayangnya, bisnis yang jalani ini terhalang oleh masalah. Tahir mengalami kebangkrutan akibat dililit utang. Beruntung, ia diberi pinjaman oleh menantunya, yakni Mochtar Riady, pendiri Lippo Grup.
Menariknya, meskipun Tahir menikahi anak dari pemilik Lippo Grup, ia tidak semata-mata melirik Lippo Grup sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Pria tersebut tetap merintis karir dengan tangan dan kakinya sendiri.
Adapun Mayapada yang awalnya ditujukan untuk bisnis leasing beralih menjadi bisnis garmen pada Tahun 1986. Keberhasilan semakin terlihat berada di pihak Mayapada ketika menjalani bisnis garmen milik keluarga Mochtar Riady ini. Peningkatan bisnisnya juga membuat Tahir memutuskan untuk mengambil peluang di bisnis importir dan pemasok barang pecah.
ADVERTISEMENT
Tahir kemudian mendirikan Bank Mayapada di Tahun 1989. Bisnis ini kemudian terus meningkat setelah bisnis garmen miliknya menurun dan ditinggalkan.
Menerjang krisis moneter
Bank Mayapada yang dinahkodai oleh Tahir ini berhasil menerjang krisis moneter. Perusahaan tersebut diselamatkan oleh kemampuan Tahir dalam berbisnis yang di mana ia Ia tidak mencoba untuk mengambil hutang dari luar negeri yang saat itu seperti bom waktu.
Target bank Mayapada juga menyelamatkan perusahaan Tahir. Pelanggan bank milik Tahir ini terdiri dari usaha di bagian menengah ke bawah yang dinilai lebih kuat dalam menghadapi krisis.
Hingga hari ini, Mayapada grup sudah mencengkram berbagai macam sektor bisnis yang tak hanya perbankan saja. Beberapa sektor, seperti Real Estate, rumah sakit, dan media cetak juga tak lepas dari genggaman Tahir.
ADVERTISEMENT