Profil Pendiri Rokok Sampoerna, Berawal dari Jualan Tembakau Keliling

Konten dari Pengguna
19 Maret 2021 13:06
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Profil Orang Sukses tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Liem Seeng Tee HM Sampoerna/houseofsampoerna.museum
zoom-in-whitePerbesar
Liem Seeng Tee HM Sampoerna/houseofsampoerna.museum
ADVERTISEMENT
Dewasa ini siapa yang tak kenal dengan merk rokok populer sampoerna. Bagi sebagian para lelaki, rokok menjadi salah satu barang yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Saat ini banyak sekali berbagai merk rokok terkenal Indonesia hingga memiliki beragam jenis dan cita rasa sendiri-sendiri.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia rokok dengan merk dagang ‘Sampoerna’ memang tak asing lagi. Bahkan, perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar pertama di Indonesia. Dibalik sukses dan besarnya perusahaan ini siapa sangka dahulunya dirintis oleh seorang imigran miskin bernama Liem Seeng Tee.
Awal mula Lim Seeng Tee merupakan imigran dari China. Ia lahir dari keluarga miskin di Fujian Tiongkok 1893. Ingin memperbaiki nasib, ayahnya memutuskan untuk mengembara mangadu nasib bersama kedua anaknya yaitu Lim Seeng Tee dan kakak perempuannya ke Indonesia menumpang kapal dagang.
Sampai di Singapura, ayahnya pun merelakan kakak perempuan Lim Seeng Tee untuk diadopsi di salah satu keluarga di Singapura karena tuntutan ekonomi. Kemudian sampailah Lim Seeng Tee dan ayahnya di Indonesia lebih tepatnya di Surabaya.
ADVERTISEMENT
Sampainya di Surabaya setelah enam bulan ayah Lim Seeng Tee mengalami sakit keras dan meninggal beberapa minggu setelahnya. Sebelumnya Lim Seeng Tee telah dititipkan di salah satu keluarga Tionghoa di Bojonegoro.
Ia pun hidup bersama keluarga barunya dengan segala keterbatasan. Lim Seeng Tee kecil juga berusaha belajar mengenai keuangan dan berdagang bersama keluarga yang mengadopsinya. Hingga pada usia 11 tahun ia akhirnya memutuskan untuk hidup mandiri menghidupi dirinya sendiri.
Lim akhirnya mencoba berdagang segala jenis dagangan pada gerbong-gerbong kereta api jurusan Jakarta Surabaya. Uang hasil dagangannya ia sisihkan dan ditabung guna ia belikan sepeda bekas untuk transportasinya berdagang.
Pada tahun 1912, ia bertemu dengan Siem Tjiang Nio dan menikah dengannya. Lim sempat bekerja sebagai buruh peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Hingga pada akhirnya ia mulai mahir meracik dan melinting rokok.
ADVERTISEMENT
Ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai buruh dan mulai mendirikan usaha kecilnya berupa warung kecil bersama istrinya di Jalan Tjantian di kawasan kota tua, Surabaya. Ia dan istrinya berjualan bahan makanan kecil dan Lim mencoba untuk menjajakan rokok tembakau hasil lintingannya sendiri menggunakan sepeda bekas.
Walaupun usahanya ini sempat maju dan banyak pembeli tapi ia dihangtam oleh bencana kebakaran yang melahap gubug tempat tinggalnya. Hingga pada suatu hari kesempatan kedua pun datang. Terdapat perusahaan tembakau yang bangkrut dan Lim diberikan tawaran untuk membeli usaha tersebut.
Dengan tabungan milik istrinya, ia akhirnya memutuskan membeli usaha rokok tersebut. Hingga akhirnya ia mulai meracik dan melinting rokok andalannya. Ia mulai memiliki banyak pesanan rokok dengan aneka citarasa dan membuatnya dengan mesin pelinting sederhana.
ADVERTISEMENT
Usaha rokoknya mulai berkembang maju ia dan istrinya akhirnya bertekad untuk mengembangkan usahanya lebih besar dengan langkah pertamanya membentuk badan hukum bernama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee pada tahun 1913 dan diganti namanya menjadi Handel Maatschappij Sampoerna hingga berganti nama kembali setelah perang dunia kedua menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna atau yang dikenal hingga saat ini yaitu PT HM Sampoerna.
Perusahaan tersebut akhirnya memproduksi segala jenis rokok dengan berbagai macam citarasa dan merk terkenal seperti “Dji Sam Soe”, “123”, “720”, “678”, dan Djangan Lawan. Perusahaan rokok HM Sampoerna terus berkembang dan maju hingga memiliki pangsa pasar sampai Jawa Tengah.
Tentu saja berkembangnya maju perusahaannya memiliki berbagai hambatan di antaranya adalah Lim yang sempat dipaksa untuk bekerja paksa oleh pemerintah Jepang saat itu hingga hartanya yang tersisa hanyalah keluarganya dan merk dagang “Dji Sam Soe” setelah itu saat huru hara komunisme yang juga menimpanya dan mempengaruhi perusahaan HM Sampoerna.
ADVERTISEMENT

Sepeninggal Liem Seeng Tee

Putra Sampoerna/forbes.com
zoom-in-whitePerbesar
Putra Sampoerna/forbes.com
Lim akhirnya meninggal dunia pada tahun 1956 dan kepemimpinan HM Sampoerna dilanjutkan oleh keturunannya bernama Lim Swie Ling atau biasa dikenal sebagai Aga Sampoerna. Ia mencoba menghidupkan kejayaan kembali HM Sampoerna. Di tangan Aga Sampoerna, perusahaan semakin berkembang pesat.
Hingga pada awal tahun 70an seiring dengan masuknya Putera Sampoerna salah satu anak dari Aga Sampoerna yang meneruskan kejayaan perusahaan HM Sampoerna perusahaan semakin berkibar dan maju pesat dan memiliki lebih dari 1000 karyawan dan memproduksi 1,3 juta batang rokok dalam sehari.
HM Sampoerna hingga kini merupakan pabrik rokok terbesar pertama di Indonesia. Pada tahun 2018 pun perusahaan ini mencatatkan kapitalisasi pasar saham terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). perusahaan pusatnya berada di Surabaya, Jawa Timur. Dan sejak tahun 2005 Putera Sampoerna dan keluarganya memutuskan untuk menjual seluruh saham keluarga Samporna di PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International.
ADVERTISEMENT
Walaupun telah menjual seluruh sahamnya tentu saja perjuangan masa lalu membangun PT HM Sampoerna oleh Lim Seeng Tee tak pernah dilupakan. Bahkan bekas rumah Lim Seeng Tee di Surabaya dahulu telah dijadikan sebagai museum yang menceritakan bagaimana cikal bakal berdirinya HM Sampoerna yang dapat dikunjungi secara umum untuk memperlihatkan perjuangan pendirinya terdahulu.