Pembelajaran Terdiferensiasi Buat Belajar Text Procedure Lebih Menyenangkan

Program PINTAR
PINTAR atau Pengembangan Inovasi Kualitas Pembelajaran adalah pogram yang dikembangkan Tanoto Foundation untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.
Konten dari Pengguna
7 November 2021 14:34 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Program PINTAR tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Oleh Maslan Bin Abdul Azis, Guru Bahasa Inggris SMPN Terpadu Unggulan (TU) 2 Tana Tidung, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara
Maslan Bin Abdul Azis, Guru Bahasa Inggris SMPN TU 2 Tana Tidung, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara mendampingi siswanya belajar berdasarkan kelompok kemampuan siswa saat PTMT. Pengelompokan ini mempermudah guru membantu siswa yang paling tertinggal. Foto: Dokumentasi Disdik Tana Tidung.
Pandemi COVID-19 memberi tantangan baru bagi guru. Hilangnya kemampuan belajar (learning loss) dan menurunnya semangat belajar siswa, menjadi masalah yang membuat guru frustrasi. Namun saya tidak panik menghadapi situasi ini. Saya punya senjata pamungkas bernama test diagnostik dan pembelajaran terdiferensiasi. Kedua senjata ini saya pakai pada topik text procedure.
ADVERTISEMENT
Kami beruntung karena Dinas Pendidikan (Disdik) Tana Tidung, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara cepat tanggap dengan masalah guru. Disdik memperkenalkan kami dengan e-PINTAR. Sebuah learning manajemen sistem (LMS) yang dikembangkan Tanoto Foundation. Lewat e-PINTAR kami dilatih menggunakan tes diagnostik dan pembelajaran terdiferensiasi.
Setelah saya mengikuti pelatihan e-PINTAR saya baru mengetahui cara memulihkan kemampuan belajar siswa. LMS ini dilengkapi video dan contoh yang mudah saya pahami. Saya bisa mengerti cara melakukan test diagnostik, mengelompokkan siswa, dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Penjelasan di e-PINTAR jauh lebih mudah saya pahami daripada penjelasan konvensional yang sering saya dengar.
Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum Disdik Tana Tidung, Diana mengatakan, pemulihan kemampuan belajar merupakan kebijakan Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali. Kebijakan ini bertujuan mengantisipasi dampak buruk learning loss.
ADVERTISEMENT
Dalam Forum Temu Inovasi Kemdikbudristek April lalu, Bupati Ibrahim Ali memaparkan strategi Tana Tidung untuk memulihkan kemampuan belajar yaitu dengan melakukan test diagnostik dan pembelajaran terdiferensiasi. Dalam mengimplementasikan kebijakan ini, Tana Tidung mendapat dukungan dari Program Inovasi untuk Sekolah Indonesia (INOVASI) di tingkat SD dan Tanoto Foundation di tingkat SMP.
“Tanoto Foundation memberikan dukungan kepada guru-guru kami untuk mengikuti pelatihan melalui e-PINTAR. Tanoto Foundation juga menyediakan fasilitator sebagai pendamping dan rekan belajar kami,” terangnya.
Pembelajaran Terdiferensiasi
Langkah awal melakukan pembelajaran terdiferensiasi, adalah melaksanakan test diagnostik. Tujuannya untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa. Terdiri dari dua bagian tes. Pertama, test diagnostik kognitif. Digunakan untuk mengetahui level penguasaan kompetensi siswa sesuai kurikulum. Sedangkan bagian kedua, adalah test diagnostik non kognitif. Digunakan untuk menilai kesiapan belajar siswa. Baik secara psikologi, ketersediaan sarana belajar, dan dukungan keluarga.
ADVERTISEMENT
Dari kedua test diagnostik ini, kami bisa mengetahui siapa siswa yang mengalami learning loss. Dari sanalah guru bisa membuat pembelajaran terdiferensiasi (pembelajaran berbeda). Pembelajaran berbeda maksudnya anak belajar sesuai tingkat kemampuannya. Walau anak berada di jenjang kelas yang sama, namun mereka tidak akan belajar dengan satu materi yang sama. Guru membuat beberapa materi belajar yang berbeda tingkat kesulitannya.
Selain itu, guru akan mengalokasikan waktu pendampingan belajar lebih banyak kepada siswa yang paling tertinggal atau mengalami learning loss. Sehingga pada waktunya nanti, kemampuan siswa bisa sama atau mendekati kemampuan rekan-rekan lainnya yang tidak mengalami learning loss.
Text Procedure
Saya mencoba melakukan pembelajaran terdiferensiasi pada topik text procedure dalam pelajaran Bahasa Inggris di kelas IX SMP.
ADVERTISEMENT
Dari hasil test diagnostik, saya membagi siswa menjadi tiga kelompok: (1) kelompok kemampuan di atas rata-data, (2) kelompok rata-rata kelas, dan (3) kelompok di bawah rata-rata.
Siswa di kelompok di atas rata-rata, saya berikan tugas pengayaan dengan pedalaman materi yang sedikit lebih tinggi.
Sedangkan siswa di kelompok rata-rata, saya berikan tugas sedang dengan menyisipkan tantangan agar mereka lebih terdorong untuk belajar. Jika mereka mengalami hambatan, saya minta mereka untuk bertanya terlebih dahulu kepada tiga orang temannya. Jika tidak menemukan jawaban, mereka baru boleh bertanya ke guru. Siswa kelompok di atas rata-rata saya minta membantu siswa di kelompok rata-rata ini. Dengan bertanya kepada siswa lain, saya mendorong mereka bisa saling membelajarkan (peer teaching).
Siswa Kelas IX SMPN TU 2 Tana Tidung, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara melakukan test diagnostik kognitif. Test ini dilakukan dengan memberikan beberapa soal dari kompetensi dasar tertentu di kurikulum darurat. Jawaban siswa akan dianalisis guru untuk menentukan level kemampuan belajar siswa. Foto: Dokumentasi Disdik Tana Tidung.
Bagaimana dengan siswa di bawah rata-rata? saya bimbing langsung. Saya berikan mereka perlakuan khusus. Jika diperlukan, saya bahkan memberi tambahan waktu belajar di luar jam sekolah. Tambahan waktu belajar ini membantu saya agar tidak kerepotan untuk menyeimbangkan kemampuan siswa saat mereka belajar di kelas.
ADVERTISEMENT
Dua siswa saya bernama M. Faudzan Adzim dan Ahmad Rozjak, mengakui manfaat pembelajaran terdiferensiasi ini. Fauzan misalnya. Karena kemampuan belajarnya tertinggal, Ia dulu sering tidak mendapat peran saat kerja kelompok. Rekannya yang lebih menguasai materi selalu mengabaikan Fauzan. Ia pun merasa tertekan dan merasa bukan anggota kelompok. Tapi sekarang Ia senang belajar dengan kelompoknya, karena sudah diterima dengan baik. Sedangkan Rozjak ingin selalu belajar berbeda. Ia mau semua guru menggunakan pembelajaran terdiferensiasi.
Sebagai guru, saya senang degan proses yang kini terjadi. Saya kini bisa membantu anak-anak yang paling tertinggal dan menderita karena pandemi COVID-19 ini.