BUMDes Sejahtera Tanjungmojo: Percontohan Pertanian Modern Desa

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah tuntutan agar desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, keberadaan BUMDes dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menciptakan kemandirian ekonomi. Salah satu contoh menarik datang dari BUMDes Sejahtera Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal.
Melalui pengembangan greenhouse untuk budidaya melon dengan teknologi modern, BUMDes ini menunjukkan bahwa sektor pertanian desa dapat dikelola dengan pendekatan yang lebih inovatif.
Langkah tersebut menarik bukan semata karena penggunaan greenhouse, tetapi karena menunjukkan keberanian BUMDes memasuki sektor produktif dengan memanfaatkan teknologi dan potensi lokal.
Pertanian modern selama ini sering dipersepsikan membutuhkan modal besar, teknologi rumit dan hanya cocok diterapkan perusahaan agribisnis.
Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan), Badan Pengurus Cabang, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kendal, Dani Satria menyebut inisiatif BUMDes Sejahtera Tanjungmojo memberikan perspektif berbeda.
Teknologi dapat diperkenalkan secara bertahap di tingkat desa selama terdapat perencanaan, pengelolaan dan orientasi bisnis yang jelas. Greenhouse memungkinkan proses budidaya dilakukan dengan lingkungan yang lebih terkendali, sehingga memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas komoditas.
Bagi desa, pendekatan semacam ini juga dapat menjadi ruang pembelajaran bahwa aset dan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Hal yang lebih penting adalah perubahan paradigma mengenai peran BUMDes. BUMDes idealnya tidak berhenti sebagai lembaga yang mengelola unit usaha atau aset desa secara konvensional, tetapi mampu menjadi motor inovasi ekonomi masyarakat.
Ketika BUMDes berani masuk ke pertanian modern, terdapat peluang yang lebih luas untuk melibatkan pemuda desa, kelompok tani, maupun masyarakat dalam rantai usaha baru. J
ika dikembangkan secara konsisten, greenhouse bukan hanya tempat produksi, melainkan juga dapat menjadi semacam laboratorium kewirausahaan pertanian tempat masyarakat belajar mengenai teknologi, manajemen produksi, pemasaran, hingga perhitungan kelayakan usaha.
Tentu, menjadikan Tanjungmojo sebagai inspirasi tidak berarti semua desa harus membangun greenhouse. Setiap desa memiliki karakteristik lahan, sumber daya manusia, modal, pasar dan komoditas unggulan yang berbeda.
Menurut Dani, pelajaran terpenting dari Tanjungmojo justru terletak pada keberaniannya membaca potensi lokal dan mencoba pendekatan baru.
Replikasi seharusnya dilakukan pada prinsipnya, bukan sekadar meniru bentuk usahanya: mengenali potensi desa, memilih komoditas yang memiliki prospek pasar, menggunakan teknologi yang sesuai, menghitung risiko, serta memastikan pengelolaan dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.
Karena itu, BUMDes Sejahtera Tanjungmojo layak dilihat sebagai salah satu contoh bagaimana desa dapat mulai membangun ekonomi produktif melalui inovasi pertanian.
Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek, tetapi berkembang menjadi usaha yang sehat, menghasilkan manfaat ekonomi, membuka kesempatan kerja dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat serta desa.
Jika keberlanjutan tersebut dapat dibuktikan melalui kinerja usaha dan dampak nyata, pengalaman Tanjungmojo akan menjadi pelajaran berharga bagi desa-desa lain: bahwa modernisasi pertanian tidak harus selalu dimulai dari perusahaan besar atau pusat kota.
Ia juga dapat tumbuh dari sebuah desa, ketika BUMDes berani mencoba, belajar, dan mengelola potensi lokal dengan cara yang lebih modern.
