Jangan Tunggu Hujan Datang untuk Bersiap Menghadapi Banjir

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musim kemarau tidak selalu berarti Indonesia terbebas dari ancaman banjir. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa meskipun kondisi relatif kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, hujan lebat tetap dapat terjadi secara lokal. Pada 18–20 September 2026, misalnya, hujan lebat tercatat di sejumlah wilayah dengan curah hujan mencapai 75 mm per hari di Sumatera Barat, 70 mm di Kalimantan Barat, 58 mm di Jawa Barat dan 53 mm di Kalimantan Utara. Kondisi ini menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap hujan ekstrem tidak semestinya menunggu datangnya musim hujan.
Persoalannya, banjir dan terutama banjir bandang tidak hanya ditentukan oleh seberapa deras hujan turun. Risiko dapat menjadi lebih besar ketika hujan ekstrem bertemu dengan kondisi daerah aliran sungai yang terganggu, perubahan tata guna lahan, sedimentasi, buruknya drainase, hingga permukiman yang berkembang di kawasan rawan. Karena itu, kesiapsiagaan bencana seharusnya tidak berhenti pada penyediaan pompa, alat berat, perahu karet atau personel evakuasi setelah bencana terjadi. Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan), BPC HIPMI Kendal, Dani Satria menghimbau pemerintah agar perlu melihat ancaman banjir sebagai persoalan pengurangan risiko yang harus dikerjakan jauh sebelum air meluap.
Di sinilah pentingnya memperkuat sistem peringatan dini dan komunikasi risiko hingga tingkat desa dan lingkungan. Informasi cuaca dari BMKG harus dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang mudah dipahami masyarakat: wilayah mana yang berisiko, kapan warga perlu meningkatkan kewaspadaan, ke mana harus mengungsi dan siapa yang harus dihubungi ketika kondisi memburuk. Pemetaan jalur evakuasi, simulasi berkala, kesiapan tempat pengungsian, serta koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, desa, fasilitas kesehatan dan masyarakat juga perlu dilakukan sebelum keadaan darurat. Peringatan dini tidak akan banyak berarti jika informasi berhenti di layar pemerintah dan tidak sampai menjadi tindakan di lapangan.
Kesiapsiagaan juga perlu memperhitungkan mereka yang paling sulit menyelamatkan diri ketika bencana datang. Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, orang sakit, serta warga yang tinggal di lokasi dengan akses evakuasi terbatas membutuhkan perhatian khusus. Data kelompok rentan dan kebutuhan mereka semestinya menjadi bagian dari perencanaan kebencanaan, bukan baru dicari ketika banjir sudah terjadi. Dalam konteks ini, kesiapsiagaan bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga bagaimana pemerintah memastikan tidak ada warga yang tertinggal ketika proses evakuasi harus dilakukan dengan cepat.
Pemerintah tidak perlu menunggu hujan deras turun untuk membuktikan bahwa mereka siap menghadapi banjir. Ukuran kesiapsiagaan justru terlihat dari apa yang telah dikerjakan ketika langit masih cerah: apakah wilayah rawan sudah dipetakan, sistem peringatan dini berjalan, jalur evakuasi tersedia, kelompok rentan teridentifikasi, dan masyarakat tahu apa yang harus dilakukan. Banjir memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi. Karena itu, jangan tunggu hujan datang untuk bersiap menghadapi banjir. Kesiapsiagaan terbaik adalah pekerjaan yang selesai sebelum keadaan darurat dimulai.
