Konselor Laktasi dan Keberlanjutan Praktik Menyusui Pada Ibu Bekerja

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja membawa implikasi penting terhadap praktik menyusui, khususnya keberlanjutan ASI eksklusif dan ASI lanjutan. Banyak ibu bekerja menghadapi tantangan struktural dan psikologis, seperti keterbatasan waktu, fasilitas laktasi yang belum memadai, serta tekanan lingkungan kerja yang kurang mendukung. Dalam konteks ini, keberhasilan menyusui tidak semata bergantung pada komitmen individu ibu, tetapi juga pada sistem dukungan yang tersedia. Konselor laktasi hadir sebagai aktor kunci dalam menjembatani kebutuhan ibu bekerja dengan tuntutan profesional.
Secara ilmiah, keberlanjutan praktik menyusui pada ibu bekerja memerlukan perencanaan dan manajemen laktasi yang tepat. Konselor laktasi berperan memberikan edukasi mengenai teknik memerah dan menyimpan ASI, pengaturan jadwal menyusui atau pumping, serta strategi menjaga produksi ASI tetap optimal. Pendampingan ini membantu ibu memahami bahwa bekerja dan menyusui bukan dua hal yang saling bertentangan. Dengan pendekatan berbasis bukti, konselor laktasi mendorong ibu bekerja untuk tetap percaya diri dan konsisten dalam memberikan ASI.
Selain aspek teknis, konselor laktasi juga berperan dalam memperkuat dukungan sosial dan advokasi lingkungan kerja yang ramah ibu menyusui. Edukasi tidak hanya diberikan kepada ibu, tetapi juga kepada keluarga dan, bila memungkinkan, pihak tempat kerja. Lingkungan yang memahami kebutuhan ibu menyusui terbukti meningkatkan keberhasilan ASI berkelanjutan hingga dua tahun atau lebih. Dengan demikian, konseling laktasi berkontribusi pada terciptanya ekosistem kerja yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesehatan ibu dan anak.
Menurut dr. Hayin Naila, selaku konselor laktasi dari HA-Medika Kendal, keberlanjutan praktik menyusui pada ibu bekerja sangat bergantung pada kesiapan sejak masa kehamilan. Ia menekankan pentingnya edukasi dini mengenai manajemen laktasi dan komunikasi dengan tempat kerja. Ibu bekerja perlu diyakinkan bahwa menyusui tetap bisa berjalan optimal dengan perencanaan yang baik dan dukungan yang tepat. Peran konselor laktasi adalah membantu ibu menemukan strategi yang realistis dan sesuai dengan kondisi kerjanya. Ia menambahkan bahwa pendampingan berkelanjutan akan mencegah ibu menyerah di tengah jalan.
Sebagai kesimpulan, konselor laktasi memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan praktik menyusui pada ibu bekerja melalui edukasi, pendampingan, dan penguatan dukungan sosial. Tantangan menyusui di dunia kerja dapat diatasi apabila ibu mendapatkan informasi yang benar dan lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu, penguatan layanan konseling laktasi perlu menjadi bagian integral dari upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, sekaligus mendukung keseimbangan peran perempuan dalam keluarga dan dunia kerja.
