Mengawal Tumbuh Kembang Anak di Tengah Keterbatasan Layanan

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tumbuh kembang anak merupakan proses fundamental yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pada periode awal kehidupan, anak mengalami perkembangan pesat pada aspek fisik, kognitif, bahasa, serta sosial-emosional. Idealnya, setiap anak mendapatkan pemantauan tumbuh kembang secara berkala melalui layanan kesehatan yang memadai. Namun, kenyataannya masih banyak daerah yang menghadapi keterbatasan akses layanan, baik dari segi fasilitas, tenaga kesehatan, maupun sarana pendukung lainnya.
Keterbatasan layanan ini berdampak pada belum optimalnya pelaksanaan skrining tumbuh kembang di masyarakat. Padahal, skrining merupakan langkah awal yang penting untuk mendeteksi adanya keterlambatan atau gangguan perkembangan sejak dini. Tanpa skrining yang rutin, banyak kasus baru teridentifikasi ketika anak sudah memasuki usia sekolah, di mana intervensi menjadi lebih kompleks dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan yang merata sangat berpengaruh terhadap kualitas deteksi dini.
Di tengah keterbatasan tersebut, peran orang tua menjadi semakin krusial. Orang tua adalah pihak yang paling dekat dengan anak dan memiliki kesempatan terbesar untuk mengamati perkembangan sehari-hari. Pemahaman yang baik mengenai tahapan tumbuh kembang dapat membantu orang tua mengenali tanda-tanda awal keterlambatan. Selain itu, inisiatif untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, meskipun akses terbatas, menjadi langkah penting dalam memastikan anak tetap mendapatkan perhatian yang dibutuhkan.
Menurut dr. Hayin Naila, praktisi tumbuh kembang anak dari HA-Medika Kendal, keterbatasan layanan tidak boleh menjadi alasan terabaikannya pemantauan perkembangan anak. Dokter Hayin menegaskan bahwa sinergi antara tenaga kesehatan dan orang tua sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi tersebut. Meskipun fasilitas belum merata, orang tua tetap bisa berperan aktif dengan memantau perkembangan anak di rumah dan melakukan pemeriksaan secara berkala ketika ada kesempatan. Deteksi dini tetap memungkinkan dilakukan jika ada kesadaran dan kemauan.
Dengan demikian, mengawal tumbuh kembang anak di tengah keterbatasan layanan membutuhkan pendekatan kolaboratif. Pemerintah perlu terus meningkatkan pemerataan layanan kesehatan, sementara tenaga kesehatan harus memperkuat edukasi kepada masyarakat. Di sisi lain, orang tua dituntut untuk lebih proaktif dalam memahami dan memantau perkembangan anak. Melalui kerja sama yang baik, keterbatasan layanan bukan lagi menjadi penghalang utama dalam memastikan setiap anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
