Konten dari Pengguna

Mengenal Sport Massage dan RICE untuk Pemulihan Cedera Olahraga

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengenal Sport Massage dan RICE untuk Pemulihan Cedera Olahraga (Sumber Gambar: AI Image Generator)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengenal Sport Massage dan RICE untuk Pemulihan Cedera Olahraga (Sumber Gambar: AI Image Generator)

Cedera merupakan salah satu risiko yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas olahraga, baik pada atlet profesional maupun masyarakat yang berolahraga untuk menjaga kebugaran. Keseleo, terkilir, memar, hingga ketegangan otot (muscle strain) sering terjadi akibat gerakan berulang, teknik yang kurang tepat, atau benturan saat beraktivitas. Sayangnya, masih banyak anggapan bahwa setiap cedera harus segera dipijat agar cepat sembuh. Padahal, penanganan cedera olahraga perlu disesuaikan dengan jenis dan fase cedera. Pada kondisi cedera akut, tindakan yang terburu-buru, termasuk melakukan pijatan secara langsung pada area yang mengalami peradangan, justru berpotensi memperparah kerusakan jaringan, meningkatkan perdarahan dan memperpanjang proses pemulihan.

Salah satu prinsip pertolongan pertama yang telah lama dikenal dalam dunia kedokteran olahraga adalah metode RICE, yaitu Rest (istirahat), Ice (kompres dingin), Compression (balut tekan) dan Elevation (meninggikan bagian tubuh yang cedera). Tujuan utama metode ini adalah mengurangi nyeri, membatasi pembengkakan, serta meminimalkan kerusakan jaringan pada fase awal cedera. Rest dilakukan dengan menghentikan aktivitas yang menyebabkan cedera agar jaringan memiliki kesempatan untuk memulai proses penyembuhan. Kompres dingin selama 15–20 menit setiap beberapa jam pada 24–48 jam pertama dapat membantu mengurangi rasa nyeri melalui efek analgesik. Compression menggunakan perban elastis bertujuan membatasi pembengkakan, sedangkan Elevation dilakukan dengan memosisikan anggota tubuh yang cedera lebih tinggi daripada jantung untuk membantu mengurangi akumulasi cairan akibat proses inflamasi.

Menurut praktisi sport massage dari Klinik HA-Medika Kendal, Dani Satria, M.Kes., sport massage merupakan teknik pijat yang dirancang secara khusus untuk menunjang performa olahraga, mempercepat pemulihan, serta membantu rehabilitasi setelah fase akut cedera terlewati. Sport massage tidak hanya bertujuan memberikan rasa nyaman, tetapi juga membantu meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, memperbaiki fleksibilitas jaringan lunak, serta mengurangi kekakuan yang muncul setelah latihan maupun kompetisi. Pada kondisi tertentu, sport massage juga dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi bersama latihan terapeutik, peregangan, dan penguatan otot. Dani Satria M.Kes. menambahkan, sport massage bukanlah terapi utama untuk cedera akut yang masih disertai pembengkakan, kemerahan, peningkatan suhu lokal, atau dugaan robekan ligamen maupun patah tulang. Oleh karena itu, asesmen terhadap kondisi cedera sebelum melakukan massage merupakan langkah yang sangat penting.

Perlu diketahui bahwa perkembangan ilmu kedokteran olahraga juga terus mengalami pembaruan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pakar memperkenalkan konsep PEACE & LOVE sebagai penyempurnaan pendekatan penanganan cedera jaringan lunak. Konsep ini menekankan perlindungan jaringan (Protection), edukasi pasien (Education), menghindari penggunaan antiinflamasi yang tidak perlu (Avoid anti-inflammatory modalities), kompresi (Compression) dan elevasi (Elevation) pada fase akut, kemudian dilanjutkan dengan pembebanan bertahap (Load), optimisme (Optimism), latihan vaskular (Vascularisation), serta latihan (Exercise) pada fase pemulihan. Meskipun demikian, prinsip dasar RICE masih banyak diajarkan sebagai pengenalan pertolongan pertama karena mudah dipahami masyarakat. Yang terpenting adalah memahami bahwa setiap cedera memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang sesuai berdasarkan evaluasi klinis.

Sport massage dan metode RICE bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam tahapan pemulihan cedera olahraga. RICE berperan sebagai penanganan awal untuk mengendalikan gejala pada fase akut, sedangkan sport massage lebih tepat diterapkan ketika proses inflamasi telah mereda dan jaringan mulai memasuki fase pemulihan. Penanganan yang tepat tidak hanya mempercepat kembalinya fungsi tubuh, tetapi juga membantu mencegah cedera berulang yang sering terjadi akibat pemulihan yang tidak tuntas. Oleh karena itu, masyarakat, atlet, maupun praktisi kebugaran perlu memahami kapan harus menggunakan prinsip RICE, kapan sport massage dapat diberikan, dan kapan harus segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan nyeri hebat, deformitas, keterbatasan gerak yang berat, atau dugaan cedera serius. Dengan pendekatan yang berbasis bukti ilmiah, pemulihan cedera olahraga dapat berlangsung lebih aman, efektif dan optimal.