Konten dari Pengguna

Mengenal Swedish Massage: Teknik Dasar yang Menjadi Fondasi Sport Massage

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengenal Swedish Massage: Teknik Dasar yang Menjadi Fondasi Sport Massage (Sumber Gambar: AI Image Generator)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengenal Swedish Massage: Teknik Dasar yang Menjadi Fondasi Sport Massage (Sumber Gambar: AI Image Generator)

Ketika mendengar istilah sport massage, sebagian orang mungkin langsung membayangkan pijatan kuat pada otot setelah berolahraga. Padahal, sport massage tidak semata-mata tentang seberapa kuat tekanan yang diberikan. Di dalamnya terdapat berbagai teknik yang digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi tubuh. Salah satu pendekatan yang penting untuk dikenal adalah Swedish massage, yang memiliki sejumlah teknik dasar dan telah banyak memengaruhi praktik massage modern. Karena itu, memahami Swedish massage dapat menjadi langkah awal untuk mengenal bagaimana sebuah pijatan dilakukan secara sistematis, bukan sekadar mengandalkan kekuatan tangan.

Swedish massage dikenal melalui beberapa teknik utama, antara lain effleurage, petrissage, friction, dan tapotement. Effleurage merupakan gerakan mengusap dengan tekanan yang relatif ringan hingga sedang, sedangkan petrissage dilakukan melalui gerakan meremas atau mengangkat jaringan lunak. Friction menggunakan gerakan yang lebih terfokus pada area tertentu, sementara tapotement melibatkan gerakan perkusi atau ketukan berirama. Masing-masing teknik memiliki karakteristik berbeda sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan tujuan pijat, area tubuh dan kondisi orang yang menerima terapi.

Dalam konteks olahraga, teknik-teknik tersebut dapat diadaptasi menjadi bagian dari pendekatan sport massage. Atlet atau individu yang aktif berolahraga memiliki kebutuhan yang berbeda sebelum dan setelah aktivitas fisik. Sebelum berolahraga, pendekatan yang digunakan dapat diarahkan untuk mempersiapkan tubuh tanpa membuat otot terlalu rileks. Setelah aktivitas, teknik tertentu dapat digunakan dengan tujuan membantu relaksasi dan pemulihan. Pada sesi pemeliharaan, terapis juga dapat menyesuaikan kombinasi teknik berdasarkan aktivitas fisik, keluhan, serta kondisi tubuh klien. Artinya, sport massage bukanlah satu rangkaian gerakan yang harus selalu dilakukan dengan cara yang sama.

Hal yang sering dilupakan adalah bahwa pijat yang lebih kuat tidak selalu berarti pijat yang lebih baik. Tekanan yang terlalu besar justru dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau masalah pada kondisi tertentu. Karena itu, keterampilan terapis bukan hanya terletak pada kekuatan tangan, tetapi juga pada kemampuan memilih teknik, mengatur tekanan, menentukan durasi dan memahami respons tubuh. Praktisi sport massage dari HA-Medika Kendal, Dani Satria M.Kes., menyebut bahwa pendekatan Swedish memberikan dasar penting untuk memahami prinsip tersebut: gerakan dan tekanan bukan tujuan akhir, melainkan alat yang digunakan sesuai kebutuhan. Dalam praktik sport massage, pendekatan yang tepat seharusnya mempertimbangkan jenis aktivitas fisik, waktu pemberian massage, kondisi jaringan serta tujuan sesi.

Mengenal Swedish Massage membantu kita memahami bahwa massage merupakan praktik yang memiliki teknik dan prinsip, bukan sekadar aktivitas “pijat-pijat”. Berbagai teknik dapat dikombinasikan dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan, termasuk dalam konteks olahraga. Karena itu, ketika seseorang memilih sport massage, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “seberapa kuat pijatannya?”, tetapi “teknik apa yang digunakan dan untuk tujuan apa?” Pemahaman tersebut dapat membantu masyarakat melihat sport massage secara lebih tepat: bukan sebagai perlombaan kekuatan tangan, melainkan sebagai pendekatan yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan penyesuaian terhadap kondisi setiap individu.