Menggagas “Kangkung Vision 2035”: Mimpi Besar dari Kecamatan

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap daerah membutuhkan mimpi tentang masa depannya. Bukan sekadar mimpi yang indah dalam slogan, melainkan sebuah gambaran tentang masyarakat seperti apa yang ingin dibangun, ekonomi seperti apa yang ingin dikembangkan dan lingkungan seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Dari pemikiran sederhana itulah muncul sebuah gagasan: “Kangkung Vision 2035”.
Gagasan ini terinspirasi dari cara Arab Saudi membangun Saudi Vision 2030, sebuah visi pembangunan jangka panjang yang berusaha mengubah struktur ekonomi dan kehidupan masyarakat melalui diversifikasi ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sektor swasta, digitalisasi, pariwisata, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik. Tentu Kecamatan Kangkung tidak perlu meniru Arab Saudi. Yang relevan untuk dipelajari adalah keberanian untuk memiliki visi jangka panjang dan menerjemahkannya menjadi program-program yang terukur.
Mengapa sebuah kecamatan perlu memiliki visi semacam itu? Karena perubahan tidak terjadi dalam satu tahun. Pembangunan pertanian, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan UMKM, perbaikan kesehatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, maupun pengelolaan lingkungan membutuhkan proses yang berkesinambungan. Jika setiap program hanya dirancang untuk menyelesaikan persoalan hari ini, kita mungkin berhasil mengatasi masalah jangka pendek, tetapi belum tentu sedang membangun masa depan. Kangkung Vision 2035 dapat menjadi ajakan untuk berpikir sepuluh tahun ke depan.
Menurut Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan) BPC HIPMI Kendal, Dani Satria, Kecamatan Kangkung memiliki banyak modal yang dapat dikembangkan. Karakter agraris merupakan salah satunya. Pertanian tidak harus dipandang sebagai sektor tradisional yang hanya menghasilkan bahan mentah. Dengan teknologi, pengetahuan, pengolahan pascapanen, pemasaran digital dan penguatan kelembagaan ekonomi desa, pertanian dapat menjadi sektor modern yang menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Kehadiran BUMDes yang berani mengembangkan pertanian modern, misalnya, dapat menjadi salah satu contoh bagaimana ekonomi desa mulai bergerak ke arah tersebut.
Namun, masa depan Kangkung tentu tidak cukup hanya dibangun melalui pertanian. Kesehatan masyarakat, pendidikan, pemuda, UMKM, lingkungan, teknologi dan kebudayaan juga harus menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Kecamatan yang maju bukan hanya kecamatan yang memiliki produksi ekonomi tinggi, tetapi juga masyarakat yang sehat, anak-anak yang mendapatkan pendidikan berkualitas, pemuda yang memiliki kesempatan kerja, perempuan yang memiliki ruang untuk berkembang, serta lingkungan yang tetap terjaga.
Karena itu, Kangkung Vision 2035 dapat dibayangkan melalui beberapa pilar sederhana. Pertama, masyarakat yang sehat, cerdas, dan berdaya. Kedua, pertanian dan ekonomi desa yang modern serta produktif. Ketiga, pemuda dan UMKM sebagai penggerak ekonomi baru. Keempat, Kangkung yang hijau dan berkelanjutan. Kelima, kolaborasi dan pemanfaatan teknologi untuk pelayanan masyarakat. Pilar-pilar tersebut tentu masih terbuka untuk didiskusikan dan disempurnakan bersama.
Yang terpenting, Kangkung Vision 2035 bukanlah sebuah proyek milik satu orang. Ia juga bukan klaim bahwa Kecamatan Kangkung sudah memiliki program resmi bernama demikian. Untuk saat ini, ia hanyalah sebuah gagasan yang ingin mengajak masyarakat bertanya: Kangkung ingin menjadi seperti apa pada 2035?
Pertanyaan tersebut justru lebih penting daripada jawabannya. Sebab, visi pembangunan yang baik seharusnya lahir dari dialog antara pemerintah, pemerintah desa, BUMDes, kelompok tani, pelaku UMKM, pemuda, perempuan, sekolah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Setelah visi disepakati, barulah dapat disusun target, indikator, program prioritas, serta proyek-proyek nyata yang bisa dievaluasi setiap tahun.
Bayangkan jika sepuluh tahun dari sekarang Kangkung dikenal bukan hanya sebagai wilayah administratif di Kabupaten Kendal, tetapi sebagai kawasan pedesaan yang mampu menggabungkan pertanian modern, masyarakat sehat, ekonomi desa yang kuat, pemuda produktif, UMKM yang berkembang, serta lingkungan yang terjaga. Bayangkan pula jika setiap desa memiliki keunggulan masing-masing dan saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi dan sosial.
Mungkin itu terdengar seperti mimpi. Tetapi pembangunan memang selalu dimulai dari keberanian untuk membayangkan sesuatu yang belum ada. Saudi Vision 2030 menunjukkan bahwa visi besar dapat menjadi alat untuk mengarahkan perubahan. Kangkung tidak harus menjadi Saudi Arabia dalam skala kecil. Kangkung hanya perlu menemukan versi terbaik dirinya sendiri.
Maka, Kangkung Vision 2035 dapat dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana: “Sepuluh tahun lagi, kita ingin melihat Kangkung seperti apa?” Dari pertanyaan itu, mungkin lahir sebuah visi. Dari visi, lahir target. Dari target, lahir program. Dan dari program yang dikerjakan bersama secara konsisten, sebuah kecamatan kecil pun dapat menciptakan perubahan yang besar.
