Konten dari Pengguna

Momentum Transisi ke Kemasan Berkelanjutan

Hardiat Dani S

Hardiat Dani S

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Momentum Transisi ke Kemasan Berkelanjutan (Sumber Gambar: ChatGPT AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Momentum Transisi ke Kemasan Berkelanjutan (Sumber Gambar: ChatGPT AI)

Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini menjadi cerminan dari rapuhnya sistem produksi yang terlalu bergantung pada energi fosil dan rantai pasok global. Dalam beberapa bulan terakhir, harga plastik di Indonesia dilaporkan melonjak signifikan, bahkan hingga 30% sampai 100%. Kondisi ini diakibatkan oleh gangguan pasokan bahan baku seperti nafta, yang mayoritas masih diimpor dari kawasan Timur Tengah. Konflik geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, hingga hambatan logistik global menjadi faktor utama yang saling berkelindan. Artinya, kenaikan harga plastik bukan hanya persoalan domestik, tetapi bagian dari krisis struktural yang lebih luas dalam ekonomi berbasis petrokimia.

Ketergantungan plastik pada minyak bumi menjadi akar persoalan yang jarang disorot secara kritis. Lebih dari 99% plastik konvensional diproduksi dari bahan bakar fosil, sehingga fluktuasi harga energi global secara langsung memengaruhi biaya produksinya. Ketika harga minyak naik atau distribusi terganggu, industri plastik pun ikut goyah. Dalam konteks ini, plastik bukan lagi material murah seperti yang selama ini diasumsikan, melainkan komoditas yang sangat rentan terhadap krisis global. Ironisnya, banyak sektor, terutama UMKM makanan dan minuman, telah terlanjur bergantung pada plastik sebagai tulang punggung operasional mereka.

Namun di balik tekanan tersebut, tersimpan peluang besar yang sering luput dibaca: momentum untuk beralih ke kemasan berkelanjutan. Kenaikan harga plastik justru membuka ruang bagi alternatif seperti kemasan berbasis kertas, bioplastik, maupun sistem guna ulang untuk menjadi lebih kompetitif. Bahkan, sejumlah rekomendasi mulai mendorong pelaku usaha untuk mengeksplorasi bahan daur ulang atau kemasan alternatif sebagai strategi mitigasi biaya. Dalam logika ekonomi, ketika harga bahan lama meningkat, inovasi pada bahan baru akan menemukan momentumnya. Inilah yang sedang terjadi.

Menurut Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan), BPC HIPMI Kendal, Dani Satria, transisi ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Dibutuhkan intervensi kebijakan yang mendorong ekosistem kemasan berkelanjutan, mulai dari insentif bagi produsen, penguatan industri daur ulang, hingga edukasi konsumen. Dani menambahkan, tanpa dukungan sistemik, alternatif ramah lingkungan akan tetap kalah skala dan kalah harga dalam jangka pendek. Padahal, krisis harga plastik saat ini sudah cukup menjadi alarm bahwa model konsumsi lama tidak lagi relevan untuk dipertahankan.

Kenaikan harga plastik harus dibaca bukan sebagai beban semata, tetapi sebagai sinyal perubahan. Ini adalah momen refleksi sekaligus titik balik: apakah kita akan terus bertahan dalam ketergantungan pada material yang rentan dan tidak berkelanjutan, atau mulai berinvestasi pada masa depan yang lebih resilien? Jika dimanfaatkan dengan tepat, krisis ini bisa menjadi katalis menuju sistem kemasan yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih tahan terhadap gejolak global.