Pencegahan dan Penanganan Mastitis

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mastitis merupakan salah satu masalah yang cukup sering dialami oleh ibu menyusui, terutama pada masa awal laktasi. Kondisi ini ditandai dengan peradangan pada jaringan payudara yang dapat disertai rasa nyeri, kemerahan, pembengkakan, hingga demam. Dalam beberapa kasus, mastitis juga dapat mengganggu proses pemberian air susu ibu (ASI) karena ibu merasa tidak nyaman saat menyusui. Jika tidak ditangani dengan tepat, mastitis dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius dan bahkan menyebabkan terbentuknya abses payudara.
Secara medis, mastitis umumnya terjadi akibat tersumbatnya saluran ASI atau adanya infeksi bakteri yang masuk melalui puting yang lecet. Faktor risiko lainnya meliputi teknik menyusui yang kurang tepat, frekuensi menyusui yang jarang, tekanan pada payudara akibat penggunaan bra yang terlalu ketat, serta kelelahan pada ibu menyusui. Oleh karena itu, pemahaman mengenai teknik menyusui yang benar menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya penumpukan ASI yang dapat memicu peradangan.
Upaya pencegahan mastitis dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana namun efektif. Ibu dianjurkan untuk menyusui bayi secara teratur dan memastikan perlekatan (latch-on) bayi pada payudara sudah benar agar pengosongan payudara berlangsung optimal. Selain itu, ibu juga disarankan untuk menjaga kebersihan payudara, menghindari tekanan berlebih pada payudara, serta beristirahat yang cukup. Apabila muncul tanda-tanda awal seperti payudara terasa nyeri atau terdapat benjolan, kompres hangat dan tetap melanjutkan proses menyusui dapat membantu melancarkan aliran ASI.
Menurut konselor laktasi dr. Hayin Naila dari HA-Medika Kendal, banyak kasus mastitis terjadi karena ibu belum memahami teknik menyusui yang tepat. Dokter Hayin menjelaskan bahwa pengosongan payudara secara optimal merupakan kunci utama dalam mencegah mastitis. Ibu tidak perlu langsung berhenti menyusui ketika payudara terasa nyeri. Justru proses menyusui perlu tetap dilanjutkan dengan teknik yang benar agar ASI tidak menumpuk dan memperparah peradangan.Dokter Hayin juga menekankan pentingnya konsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi apabila gejala mastitis tidak kunjung membaik dalam waktu 24–48 jam.
Kesimpulannya, mastitis bukanlah kondisi yang harus ditakuti selama ibu memahami cara pencegahan dan penanganannya secara tepat. Edukasi mengenai teknik menyusui yang benar, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan konseling laktasi menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan ibu menyusui. Melalui penanganan yang cepat dan tepat, ibu tetap dapat melanjutkan pemberian ASI secara optimal sehingga kebutuhan gizi bayi terpenuhi sekaligus menjaga kesehatan ibu dalam masa menyusui.
