Pendidikan Laktasi Sebagai Investasi Generasi Emas Indonesia

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia Emas 2045 adalah topik yang sering dibahas saat ini sebagai target yang perlu dicapai secara paripurna. Generasi Emas Indonesia 2045 tidak hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan formal, tetapi juga oleh investasi yang dilakukan sejak seorang anak lahir, bahkan pada seribu hari pertama kehidupannya. Salah satu investasi paling mendasar adalah keberhasilan pemberian air susu ibu (ASI), yang terbukti berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga kualitas sumber daya manusia pada masa depan. Sayangnya, keberhasilan menyusui bukan sekadar persoalan naluri seorang ibu.
Saat saya masih kuliah di jurusan Promosi Kesehatan (Promkes), saya mengamati banyak kajian di jurnal ilmiah terkait hal ini. Banyak ibu menghadapi tantangan seperti kesulitan pelekatan, produksi ASI yang dianggap kurang, hingga minimnya dukungan keluarga dan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, pendidikan laktasi melalui konselor laktasi harus dipandang sebagai investasi pendidikan yang menghasilkan manfaat jangka panjang bagi individu maupun bangsa. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa ibu yang memperoleh pendampingan menyusui dari tenaga terlatih memiliki peluang lebih besar untuk berhasil memberikan ASI eksklusif sesuai rekomendasi.
World Health Organization (WHO) dan United Nations Children's Fund (UNICEF) merekomendasikan agar bayi mulai disusui dalam satu jam pertama setelah lahir, mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih dengan makanan pendamping yang sesuai. Manfaatnya tidak hanya berupa perlindungan terhadap infeksi, diare dan pneumonia, tetapi juga peningkatan perkembangan kognitif. WHO dan UNICEF menyebutkan bahwa menyusui dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak sekitar 3–4 poin IQ, menurunkan risiko obesitas, serta mengurangi kemungkinan berbagai penyakit tidak menular pada masa dewasa. Bahkan, bayi yang tidak memperoleh ASI memiliki risiko meninggal sebelum usia satu tahun hingga 14 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang memperoleh ASI eksklusif. Fakta ini menunjukkan bahwa menyusui merupakan fondasi pembangunan manusia, sehingga pendidikan laktasi sesungguhnya adalah bagian dari investasi pendidikan nasional.
Indonesia menunjukkan kemajuan yang menggembirakan, tetapi pekerjaan rumah masih besar. WHO dan UNICEF melaporkan bahwa cakupan ASI eksklusif di Indonesia meningkat dari 52% pada 2017 menjadi 66,4% pada 2024. Namun, masih banyak ibu yang belum mampu mempertahankan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan penuh. Berbagai kendala muncul, mulai dari kurangnya pengetahuan, terbatasnya akses terhadap konselor laktasi, belum optimalnya penerapan rumah sakit ramah bayi, hingga tekanan untuk kembali bekerja tanpa dukungan lingkungan yang memadai. Karena itu, WHO dan UNICEF mendorong perluasan akses terhadap layanan konseling laktasi, termasuk melalui fasilitas kesehatan, layanan masyarakat, serta telekonseling. Rekomendasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan menyusui bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan hasil dari sistem pendidikan dan dukungan sosial yang kuat.
Dalam perspektif health education, konselor laktasi bukan sekadar pendamping teknis, melainkan pendidik kesehatan. Mereka menerjemahkan bukti ilmiah menjadi pengetahuan yang mudah dipahami keluarga, melatih keterampilan menyusui, memperbaiki kepercayaan diri ibu serta membantu memecahkan berbagai masalah selama proses laktasi. Pendidikan seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian informasi satu arah. Ketika ibu memahami alasan ilmiah di balik praktik menyusui dan memperoleh pendampingan yang berkelanjutan, keputusan yang diambil menjadi lebih mantap dan berkelanjutan. Dapat dikatakan, investasi pada pendidikan konselor laktasi berarti memperkuat kapasitas tenaga kesehatan sekaligus meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sejak awal kehidupan seorang anak.
Berdasarkan pengamatan saya, selama sepuluh tahun terakhir ini, jumlah profesi konselor laktasi di Indonesia mengalami kenaikan. Bahkan pelatihan-pelatihan berskala nasional dan internasional juga rutin dilakukan. Bahkan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah sendiri beberapa rumah sakit telah menyediakan poli laktasi seperti Rumah Sakit Umum Baitul Hikmah Kendal dan Klinik HA-Medika Kendal. Hal ini menandakan cukup banyak orang tua di tingkat kabupaten yang sadar akan pentingnya pendidikan laktasi.
Lebih jauh lagi, pendidikan laktasi memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Anak yang memperoleh nutrisi optimal sejak lahir cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik, kemampuan belajar yang lebih tinggi dan produktivitas yang lebih besar ketika dewasa. Sebaliknya, kegagalan menyusui meningkatkan beban pembiayaan kesehatan akibat penyakit infeksi, malnutrisi, maupun penyakit kronis di kemudian hari. Karena itu, investasi pada pendidikan laktasi sesungguhnya menghasilkan manfaat berlapis, yaitu menekan pengeluaran kesehatan, meningkatkan kualitas pembelajaran anak, memperkuat daya saing tenaga kerja dan pada akhirnya mempercepat pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Dengan kata lain, setiap rupiah yang diinvestasikan untuk pendidikan laktasi berpotensi menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang jauh lebih besar di masa depan.
Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak cukup hanya dengan membangun sekolah yang berkualitas atau memperluas akses pendidikan tinggi. Fondasi kecerdasan dan kesehatan justru dibangun sejak hari-hari pertama kehidupan seorang anak. Oleh sebab itu, pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan dan dunia kerja perlu menjadikan pendidikan laktasi sebagai agenda strategis nasional. Memperbanyak konselor laktasi yang kompeten, mengintegrasikan materi laktasi dalam pendidikan tenaga kesehatan, memperluas layanan konseling hingga tingkat komunitas, serta menciptakan lingkungan yang ramah menyusui merupakan langkah nyata yang akan menentukan kualitas generasi mendatang.
