Peran Teknik Effleurage dalam Sport Massage untuk Mengurangi Nyeri Otot

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nyeri otot merupakan keluhan yang sering dialami oleh atlet maupun masyarakat yang aktif berolahraga. Kondisi ini dapat muncul akibat aktivitas fisik yang berlebihan, latihan dengan intensitas tinggi, gerakan yang tidak tepat, maupun proses adaptasi tubuh terhadap jenis latihan baru. Salah satu bentuk nyeri yang umum terjadi adalah Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS), yaitu nyeri otot yang biasanya muncul 12–24 jam setelah berolahraga dan mencapai puncaknya dalam 24–72 jam. Selain istirahat yang cukup, hidrasi, dan latihan pemulihan, berbagai pendekatan nonfarmakologis juga digunakan untuk membantu mengurangi nyeri, salah satunya melalui teknik effleurage dalam sport massage. Teknik ini telah lama menjadi bagian dari praktik terapi manual dan banyak dimanfaatkan untuk menunjang proses pemulihan setelah aktivitas fisik.
Effleurage adalah teknik pijatan berupa usapan panjang, lembut dan ritmis menggunakan telapak tangan atau jari yang dilakukan mengikuti arah aliran balik vena menuju jantung. Dalam praktik sport massage, effleurage umumnya menjadi teknik pembuka maupun penutup sesi pijat karena berfungsi mempersiapkan jaringan lunak sebelum diberikan tekanan yang lebih dalam serta membantu tubuh kembali rileks setelah terapi selesai. Gerakan yang dilakukan secara terkontrol diyakini dapat meningkatkan sirkulasi darah superfisial, membantu aliran limfatik, mengurangi ketegangan otot, serta memberikan efek relaksasi pada sistem saraf. Dari sisi fisiologi, stimulasi mekanis melalui sentuhan juga diduga mengaktifkan mekanisme gate control theory of pain, yaitu teori yang menjelaskan bahwa rangsangan sentuhan dapat menghambat transmisi sinyal nyeri menuju otak sehingga persepsi nyeri menjadi berkurang.
Praktisi sport massage dari Klinik HA-Medika Kendal, Dani Satria, M.Kes., menyebut, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa massage, termasuk teknik effleurage, berpotensi memberikan manfaat dalam menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kenyamanan setelah aktivitas fisik. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine oleh Davis dkk. (2020), misalnya, melaporkan bahwa massage memiliki efek kecil hingga sedang dalam mengurangi nyeri akibat latihan (exercise-induced muscle soreness) serta membantu memperbaiki persepsi kelelahan. Di sisi lain, beberapa penelitian juga menemukan bahwa manfaat massage terhadap peningkatan kekuatan otot atau performa olahraga tidak selalu konsisten. Temuan tersebut menunjukkan bahwa effleurage lebih tepat diposisikan sebagai terapi pendukung untuk membantu proses pemulihan dan kenyamanan, bukan sebagai metode yang secara langsung meningkatkan kemampuan fisik atau mempercepat penyembuhan seluruh jenis cedera.
Dani Satria M.Kes., menambahkan, meskipun memiliki berbagai manfaat, teknik effleurage tidak dapat diterapkan pada semua kondisi. Massage sebaiknya tidak dilakukan pada area yang masih mengalami cedera akut disertai pembengkakan hebat, perdarahan, infeksi kulit, luka terbuka, dugaan patah tulang, trombosis vena dalam, maupun kondisi medis tertentu yang memerlukan penanganan dokter. Oleh karena itu, seorang terapis sport massage perlu melakukan asesmen sederhana sebelum memulai terapi, termasuk menggali riwayat cedera, lokasi nyeri, tingkat keparahan keluhan, serta adanya tanda-tanda yang memerlukan rujukan ke tenaga kesehatan. Pendekatan yang tepat tidak hanya meningkatkan efektivitas terapi, tetapi juga mengurangi risiko komplikasi akibat tindakan yang tidak sesuai dengan kondisi pasien.
Teknik effleurage memiliki peran penting sebagai salah satu komponen dasar dalam sport massage untuk membantu mengurangi nyeri otot dan meningkatkan kenyamanan setelah berolahraga. Efek relaksasi, peningkatan sirkulasi, serta stimulasi sensorik yang dihasilkan dapat mendukung proses pemulihan apabila dipadukan dengan istirahat yang cukup, nutrisi seimbang, hidrasi, dan program latihan yang terencana. Namun, penting untuk dipahami bahwa effleurage bukanlah solusi tunggal bagi seluruh masalah muskuloskeletal. Penanganan nyeri dan cedera olahraga harus tetap didasarkan pada penyebab, tingkat keparahan, serta evaluasi klinis yang tepat. Dengan penerapan yang sesuai dan berbasis bukti ilmiah, teknik effleurage dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan yang aman, efektif dan bermanfaat bagi atlet maupun masyarakat yang aktif menjalani gaya hidup sehat.
