Sejarah Desa Tanjungmojo Kendal: Lahir dari Penggabungan Balun dan Wedari

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Tanjungmojo di Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, memiliki sejarah yang menarik sekaligus menjadi cerminan perjalanan panjang pembangunan desa di pesisir utara Jawa Tengah. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa desa ini merupakan hasil penggabungan dua desa yang pernah berdiri secara terpisah, yakni Desa Balun dan Desa Wedari. Penyatuan tersebut menjadi tonggak penting dalam pembentukan identitas Desa Tanjungmojo yang dikenal hingga saat ini. Lebih dari satu abad kemudian, desa ini terus berkembang dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan oleh para pendahulunya.
Berdasarkan sejarah pemerintahan desa, penggabungan Desa Balun dan Desa Wedari dilakukan pada tahun 1917 pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari penataan administrasi pemerintahan desa agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih efektif dan efisien. Dari proses penyatuan itulah kemudian lahir nama Desa Tanjungmojo sebagai identitas baru yang menaungi seluruh masyarakat dari kedua wilayah tersebut. Meskipun secara administratif telah menjadi satu desa, jejak sejarah Balun dan Wedari masih hidup melalui cerita lisan masyarakat, nama-nama wilayah, serta ikatan sosial yang terus terpelihara hingga sekarang.
Perjalanan Desa Tanjungmojo setelah penggabungan menunjukkan bagaimana persatuan mampu menjadi fondasi pembangunan. Berbagai sektor mulai berkembang seiring berjalannya waktu, mulai dari pertanian, perikanan, hingga aktivitas perdagangan yang menjadi penopang perekonomian masyarakat. Letaknya yang berada di wilayah Kecamatan Kangkung juga memberikan keuntungan karena didukung oleh akses transportasi yang semakin baik dibandingkan masa-masa awal pembentukannya. Pembangunan infrastruktur desa, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta sarana ibadah turut memperkuat kualitas hidup masyarakat dari generasi ke generasi.
Di sisi lain, perkembangan Desa Tanjungmojo tidak hanya diukur dari kemajuan fisik, tetapi juga dari kuatnya modal sosial masyarakat. Budaya gotong royong, musyawarah dalam pengambilan keputusan, serta semangat kebersamaan masih menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kegiatan kemasyarakatan, tradisi lokal, hingga pembangunan berbasis partisipasi warga menunjukkan bahwa semangat persatuan yang menjadi dasar lahirnya desa ini masih tetap terjaga. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan pembangunan desa di era modern.
Budayawan Dani Satria S.Sos., berpendapat bahwa sejarah Desa Tanjungmojo memberikan pelajaran bahwa sebuah desa dapat tumbuh besar melalui persatuan dan visi bersama. Penggabungan Balun dan Wedari pada tahun 1917 bukan sekadar perubahan batas administrasi, melainkan awal dari terbentuknya identitas baru yang mampu menyatukan masyarakat dalam satu tujuan pembangunan. Kini, setelah lebih dari satu abad berdiri, Desa Tanjungmojo terus melangkah sebagai desa yang berkembang dengan tetap menghormati akar sejarahnya. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak dapat dipisahkan dari kemampuan masyarakatnya menjaga persatuan, melestarikan sejarah dan membangun masa depan secara bersama-sama.
