Sukun sebagai Solusi Hijau untuk Konservasi Sungai dan Ketahanan Pangan

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di berbagai daerah di Indonesia, keberadaan pohon sukun di sekitar pekarangan dan bantaran sungai bukanlah pemandangan yang asing. Banyak masyarakat menanamnya bukan semata untuk dipanen buahnya, tetapi juga karena pohon ini mampu tumbuh baik pada lingkungan yang lembap dan relatif dekat dengan sumber air. Kearifan lokal tersebut sesungguhnya menyimpan pesan penting bahwa konservasi lingkungan tidak selalu harus dipisahkan dari kebutuhan ekonomi masyarakat. Dalam satu pohon sukun, terdapat manfaat ekologis sekaligus manfaat pangan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Dari sisi lingkungan, pohon sukun memiliki sistem perakaran yang cukup kuat untuk membantu mengikat tanah dan meningkatkan stabilitas permukaan, terutama apabila ditanam bersama vegetasi konservasi lainnya. Tajuknya yang lebat juga berfungsi mengurangi intensitas jatuhnya air hujan secara langsung ke permukaan tanah sehingga dapat menekan percikan tanah (soil splash), salah satu penyebab awal terjadinya erosi. Daun yang gugur membentuk serasah alami yang memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta membantu mempertahankan kelembapan tanah. Oleh karena itu, penanaman sukun dapat menjadi salah satu pendekatan berbasis vegetasi (nature-based solutions) untuk mendukung pengelolaan daerah aliran sungai, meskipun efektivitasnya akan lebih optimal jika dikombinasikan dengan jenis tanaman konservasi lain yang sesuai dengan karakteristik lokasi.
Di sisi lain, sukun merupakan sumber pangan lokal yang memiliki nilai strategis. Buah sukun kaya akan karbohidrat kompleks, serat pangan, vitamin C, kalium dan berbagai mineral yang bermanfaat bagi kesehatan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan, diversifikasi sumber karbohidrat menjadi semakin penting agar ketergantungan terhadap beras dapat dikurangi. Sukun dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari direbus, digoreng, dibuat tepung, hingga menjadi bahan baku aneka pangan olahan yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Dengan demikian, setiap pohon yang ditanam tidak hanya berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.
Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan) BPC HIPMI Kendal, Dani Satria menjadikan sukun sebagai bagian menarik dari ekosistem pembangunan berkelanjutan. Penanaman pohon yang mampu memberikan jasa lingkungan sekaligus menghasilkan pangan merupakan contoh nyata bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan semacam ini juga sejalan dengan prinsip agroforestri, yaitu mengintegrasikan pepohonan dengan pemanfaatan lahan secara produktif tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya. Di wilayah pedesaan yang memiliki bantaran sungai atau lahan marginal, pengembangan sukun dapat menjadi salah satu pilihan vegetasi yang memberikan manfaat ganda apabila dirancang sesuai kondisi setempat.
Ke depan, sudah saatnya sukun tidak lagi dipandang sekadar sebagai pohon buah musiman. Dengan perencanaan yang tepat, pohon ini dapat menjadi bagian dari strategi penghijauan, rehabilitasi lahan, dan penguatan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. Menanam sukun berarti berinvestasi pada masa depan: akar dan tajuknya membantu menjaga kualitas lingkungan, sementara buahnya menyediakan sumber pangan yang dapat dinikmati lintas generasi. Ketika konservasi alam mampu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat, pohon sukun menunjukkan bahwa solusi hijau sering kali tumbuh dari kearifan yang telah lama hidup di sekitar kita.
