Konten dari Pengguna

Kucing Anti-Fasis: Buluk

Eddward S Kennedy

Eddward S Kennedy

A wise guy

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eddward S Kennedy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Black cat (Foto: skeeze)
zoom-in-whitePerbesar
Black cat (Foto: skeeze)

Tiap pulang kantor jam 11-12 malem, kucing ini adalah mahluk pertama yang selalu menyambut saya. Pun sebaliknya, saya juga lebih dulu mencarinya tiap baru tiba di rumah. Saya memanggilnya Buluk, tentu karena warna bulunya yang dominan hitam.

Sementara anggota keluarga lain menamakannya Shila--tenang, sudah pasti bukan ditakik dari Pancasila karena keluarga kami sepertinya tidak senasionalis itu. Buluk manja betul dengan saya. Video yang saya lampirkan adalah adegan template yang selalu terjadi saban pulang kerja (maupun tiap saya gegoleran asoy di kasur) :

video embed

Dengan suara agak mendengkur, dan mengeong dengan lirih, dia memutari kaki saya, lalu mengikuti saya naik ke kamar di atas, kemudian ketika saya merebahkan diri di kasur, dia dengan seenaknya naik ke atas dada, memijat-mijatkan tangannya, dan duduk agak lama sekitar 2-3 menit. Lalu pergi turun.

Tiap berangkat, dia juga merengek memutari kaki saya, seolah dengan itu dia ingin memberi saya pesan: baik-baik di jalan. Saya pecinta hewan, terutama anjing dan kucing, dan mendapat perlakuan seperti ini, saya merasakan kenyamanan unik yang cukup bikin candu.

Beberapa bulan lalu, Buluk melahirkan anak entah hasil hubungan seksualnya dengan kucing yang mana. Tapi naas, anaknya digondol maling ketika kami tengah menjemurnya di depan teras. Buluk memang kucing, tapi tiap ibu selalu punya naluri yang sama meski ia adalah ibu dari jin ifrit sekalipun.

Selama berhari-hari Buluk murung. Ia selalu mencari anak-anaknya dan mengurung diri di rumah. Kami di rumah ikut bersedih. Saya tak paham adakah kucing mengerti bunuh diri, tapi Buluk tampak seperti itu.

Sad cat (Foto: giphy)
zoom-in-whitePerbesar
Sad cat (Foto: giphy)

Waktu berlalu. Buluk kembali hamil.

Seperti biasa, kami tak pusing-pusing amat untuk mencari tahu siapa kucing pria yang membuahinya. Mungkin di dunia ini ada pemilik kucing yang overprotektif hingga ia akan melakukan tes DNA terhadap kucing-kucing lain yang diduga kuat telah menghamili kucingnya. Saya bersyukur keluarga kami tak begitu. Kami tak pernah bergunjing seperti, misalnya: Berapa ekor kucing yang pernah tidur dengan Buluk? Apakah kucing itu punya pekerjaan dan bisa diandalkan? Apa agamanya? Apakah ia seorang feminis yang menghargai istri tidak hanya sebatas urusan domestik? Apakah ia sudah mengurus SPT? Apakah ia sudah menjadi user kumparan?

Kami hanya ikut senang saja mengetahui Buluk hamil lagi. Dan beberapa hari lalu, ia melahirkan.

Ada satu hal yang menarik: Buluk terlihat tampak masih trauma kehilangan anak-anaknya yang dulu. Padahal kami sudah menyiapkan kandang yang nyaman untuk ia mengasuh anak-anaknya. Tapi Buluk punya cara sendiri: ia melahirkan di bawah tumpukan perkakas tak terpakai di dalam rumah.

Saya sendiri baru melihat seekor anaknya tadi malam: mungil, berbulu lebat, dan, berwarna dominan putih dengan sedikit warna hitam persis di bagian hidung. Saya angkat bayi kucing yang lucu itu, lalu melihat ke arah Buluk yang duduk persis di samping saya. Saya bilang kepadanya:

“Gimana kalo kita namain anak lu yang ini Hitler?”

Buluk menengadahkan kepalanya ke atas sambil mengeong lirih. Bahasa tubuhnya meminta saya agar menurunkan anaknya. Saya takzim: bahkan kucing pun tak tertarik dengan fasisme. Di negara saya sekarang, orang-orang malah berlomba jadi fasis. Duh!

video embed