Konten dari Pengguna

Tips Berdebat Agar Cepat Kalah

Eddward S Kennedy

Eddward S Kennedy

A wise guy

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eddward S Kennedy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Debate  (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Debate (Foto: Pixabay)

Menjelang acara debat publik yang melibatkan masing-masing Cagub dan Cawagub DKI nanti malam, saya ingin berbagi tips unik, yaitu: ‘Tips Berdebat Agar Cepat Kalah’.

Singkat saja: Berdebat merupakan laga adu argumen melawan argumen, data kontra data, ide versus ide. Dapat melibatkan dua orang atau lebih, dan dapat dilakukan di mana atau kapan saja.

Kecuali, mungkin, berdebat di atas kawah Merapi. Tapi ya tak apa juga sih di sana kalau situ memang ingin merasakan sensasi berdebat yang lebih panas dari biasanya.

Ada banyak teknik berdebat. Socrates, misalnya--iya, Socrates yang filsuf itu, bukan yang jualan bakwan di Rawasari--memperkenalkan teknik elenchus: sebuah sikap mengajukan soal dan meminta jawab, serta siap untuk membantah atau dibantah.

Namun tujuannya sama sekali bukan untuk mengalahkan, melainkan menggugah orang atau lawan debat untuk berpikir. Sungguh bijak memang Bapak Socrates itu. Pantes jadi filsuf.

Socrates (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Socrates (Foto: Pixabay)

Dalam kajian yang dilakukan oleh University of Virginia di sini, tertulis ada 9 cara berdebat yang dianggap baik dan tepat. Mari kita lihat satu per satu.

  • Questions or challenges should be professional. Insulting, condescending, or comments involving personal language or attacks are unacceptable. Bersikaplah profesional dalam memberikan pertanyaan. Merendahkan, menghina, atau menyerang pribadi tak dapat diterima.

  • Critical analysis, synthesis, rhetorical skill, and wit are keys to debate success. Berpikirlah secara analitik, jelas sintesisnya, memiliki kecakapan retorika, dan intelenjensia adalah kunci keberhasilan dalam berdebat.

  • Focus on the opposing side’s position or argument. Knowing the “other side” is critical for preparing strategies to refute your opponent’s arguments. Fokus kepada lawan dan argumentasinya. Mengetahui “hal lain” (kelemahan atau kelebihan) dari lawan merupakan bagian dari strategi untuk menyangkal mereka.

  • Limit your arguments to three or less. Tak perlu beragumen panjang lebar, ndakik-ndakik, ruwet, dan tak karuan. Cukupkan argumentasi Anda sebanyak tiga poin atau malah lebih sedikit.

  • Use logic to make your arguments. Present these arguments clearly and concisely. Gunakan logika dalam menyusun dan menyangkal argumen.

  • Know the common errors in thingking like logical fallacies and use them effectively in your refutation. Ketahui kesalahan umum dalam berpikir seperti kesalahan logis dan gunakan secara efektif untuk menyangkal lawan.

  • Present the content accurately. Only use content that is pertinent to your point of view and draw on support from authoritative sources. Berikan argumen yang akurat. Gunakan selalu data untuk yang mendukung pernyataan Anda.

  • Be certain of the validity of all external evidence presented for your arguments. Also, challenges to the validity of evidence be made only on substantive grounds. Pastikan seluruh kesahihan bukti eksternal dalam argumen.

  • Your rebuttal (or conclusion) in a debate is your final summary position. Use it as an opportunity to highlight important issues that indicate proof of your points or refute your opponent’s argument. Kesimpulan Anda adalah posisi yang final. Gunakan itu untuk menunjukkan pokok-pokok isu terpenting dan menyangkal argumen lawan.

Akan tetapi, dari setiap teknik atau metode berdebat yang ada, perspektifnya melulu berkisar seputar bagaimana debat yang baik, yang benar, yang santun, yang logis, yang komperhensif, yang berbobot, yang bla bla bla…

Membosankan.

Anda tahu, belum pernah ada satu kalipun dalam sejarah umat manusia bagaimana tips berdebat agar kalah. Padahal kesediaan untuk kalah dalam tiap perdebatan adalah langkah awal untuk belajar berlapang dada, bersedia ikhlas, sekaligus itikad untuk mengurai nafsu kebinatangan kita yang gemar berkompetisi.

Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, jika Anda ditanya, diamlah. Ya, diam saja sudah. Sambil senyam-senyum, lebih baik sambil garuk-garuk.

Kedua, diam lagi. Lah kok diam terus? Sudah, Anda menurut saja. Mau kalah tidak?

Ketiga, setelah diam terus, barulah Anda jawab pertanyaan yang diberikan. Akan tetapi, perhatikan dengan saksama, jawablah dengan tidak menyambung.

Contoh, jika Anda ditanya soal bagaimana mengurai banjir, misalnya, bilang saja: “Saya, hehe, saya, hehehe, lebih suka nasi uduk tuh.”

Semakin sering Anda menjawab tidak nyambung, maka semakin besar peluang Anda untuk kalah dalam debat.

Keempat, tidur saja. Jika dalam perdebatan yang disaksikan jutaan pasang mata Anda tertidur, saya kira itu sebuah sikap yang sangat progresif. Sebab tidur adalah sekeji-kejinya perlawanan!

Kelima, salto sambil menjawab. Kenapa mesti salto? Lho, kenapa tidak? Seni berdebat secara akrobatik belum pernah dilakukan siapapun di dunia ini. Kalau berdebat sambil saling melempar barang atau tonjok-tonjokan sih so Indonesia, eh so last year banget…

Lima poin tersebut sejujurnya sudah cukup untuk membantu Anda kalah dalam berdebat. Tak perlulah banyak-banyak.

Saya sih tak yakin cara ini akan dilakukan oleh para Cagub dan Cawagub DKI yang akan berdebat nanti. Tapi jika boleh berharap, saya ingin sekali kesemuanya saling mempraktikkan poin yang kelima ketika debat sedang sengit-sengitnya.

Bagaimana dengan tetangga Anda?