Berbagi Kebaikan dalam Kesempitan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan hari ini, banyak orang menunda berbuat baik dengan alasan klasik: belum punya cukup uang, belum mapan, belum berhasil, atau masih kesulitan sendiri. Seolah-olah kebaikan hanya pantas dilakukan oleh mereka yang hidup berkelimpahan. Padahal kenyataannya, berbagi justru sering lahir dari hati orang-orang yang pernah merasakan sempitnya keadaan. Mereka tahu bagaimana rasanya kekurangan, sehingga lebih peka terhadap penderitaan sesama. Dari sanalah kita belajar bahwa setiap orang berhak untuk berbuat baik, tanpa memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, jabatan, maupun status sosial.
Kita terlalu sering mengukur kemampuan berbagi dari isi dompet, padahal nilai kebaikan tidak selalu ditentukan oleh nominal. Seseorang yang hanya memiliki sedikit uang lalu menyisihkan sebagian kecil untuk membantu orang lain, bisa jadi menunjukkan ketulusan yang jauh lebih besar dibanding mereka yang memberi dalam jumlah banyak tanpa rasa peduli. Berbagi bukan semata urusan materi. Memberi waktu, tenaga, perhatian, ilmu, atau sekadar mendengarkan keluh kesah orang lain juga termasuk bentuk kebaikan yang nyata.
Ada ibu rumah tangga yang tetap menyisihkan nasi untuk tetangga yang belum makan. Ada mahasiswa dengan uang saku pas-pasan yang masih rela mentraktir temannya yang sedang kesulitan. Ada pekerja harian yang membantu mendorong motor orang asing mogok di jalan meski dirinya sendiri lelah setelah bekerja. Mereka mungkin tidak pernah masuk berita, tidak viral di media sosial, dan tidak mendapat penghargaan apa pun. Namun justru dari orang-orang seperti inilah kita melihat wajah kemanusiaan yang sesungguhnya.
Contoh nyata semangat tersebut tampak dalam kegiatan RIMBAK (Ramadhan Menyatu Dalam Kebaikan) yang dilaksanakan pada 13 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa momentum Ramadhan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang kepedulian sosial. Melalui pembagian bantuan, makanan berbuka, dan kebersamaan dengan masyarakat yang membutuhkan, RIMBAK menunjukkan bahwa berbagi dapat dilakukan oleh siapa saja secara kolektif. Nilai terpenting dari kegiatan seperti ini bukan sekadar apa yang dibagikan, tetapi pesan bahwa kebahagiaan akan terasa lebih utuh ketika dirasakan bersama.
Sering kali orang takut berbagi karena mengira itu akan membuat hidup semakin miskin. Cara berpikir seperti ini lahir dari pandangan bahwa harta akan berkurang secara mutlak ketika diberikan. Secara hitungan angka, mungkin benar jumlah uang kita berkurang. Tetapi hidup manusia tidak sesederhana kalkulator. Ada banyak bentuk kekayaan yang tidak tercatat dalam rekening: ketenangan batin, hubungan sosial yang baik, rasa syukur, kepercayaan orang lain, dan keberkahan hidup. Sering kali seseorang yang ringan tangan justru lebih mudah mendapat pertolongan ketika dirinya sedang kesulitan.
Berbagi juga mendidik manusia agar tidak diperbudak rasa takut kehilangan. Ketika seseorang terlalu mencintai apa yang dimilikinya, ia akan hidup dalam kecemasan: takut uang habis, takut rugi, takut dimanfaatkan, takut kalah dari orang lain. Ketakutan seperti itu perlahan mengikis kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang terbiasa memberi memiliki ruang hati yang lebih lapang. Ia memahami bahwa rezeki bukan hanya soal menumpuk, tetapi juga soal mengalirkan.
Dalam banyak pengalaman sosial, masyarakat kecil justru sering menjadi contoh solidaritas terbaik. Ketika ada tetangga sakit, warga patungan. Ketika ada musibah, mereka gotong royong membantu tanpa banyak tanya. Ketika ada yang kesulitan membayar sekolah anaknya, orang-orang sekitar berusaha mencari jalan keluar bersama. Ironisnya, di tengah kelompok yang lebih mapan, kadang hubungan antarmanusia justru terasa dingin dan individualistis. Ini menunjukkan bahwa kemampuan berbagi tidak bergantung pada banyaknya harta, melainkan pada hidupnya empati.
Namun tentu saja, berbagi dalam kesempitan bukan berarti memaksakan diri hingga menelantarkan kebutuhan utama. Kebaikan juga perlu kebijaksanaan. Seseorang tidak harus memberi di luar batas kemampuannya. Tidak perlu berutang hanya demi terlihat dermawan. Berbagi yang sehat adalah memberi sesuai kapasitas, dengan niat tulus, tanpa pamer, dan tanpa mengorbankan tanggung jawab dasar kepada diri sendiri maupun keluarga. Nilai utama berbagi bukan pada besarnya pemberian, tetapi pada keikhlasan dan manfaatnya.
Kita juga perlu memperluas makna “berbagi”. Di era sekarang, banyak orang membutuhkan dukungan mental lebih dari sekadar uang. Ada teman yang butuh didengar. Ada anak muda yang butuh arahan. Ada lansia yang butuh ditemani berbicara. Ada orang yang sedang kehilangan semangat dan hanya membutuhkan satu kalimat penguat. Dalam konteks ini, siapa pun bisa menjadi orang kaya, yaitu kaya perhatian, kaya kepedulian, kaya waktu, dan kaya kasih sayang.
Jika budaya berbagi tumbuh, masyarakat akan menjadi lebih kuat. Ketimpangan sosial memang tidak selesai hanya dengan sedekah, tetapi kebiasaan saling membantu mampu mengurangi kerasnya hidup bagi banyak orang. Orang lapar bisa makan. Anak sekolah bisa mendapat buku. Korban bencana bisa bertahan. Seseorang yang putus asa bisa kembali percaya bahwa dunia masih memiliki manusia baik. Dampak seperti ini tidak kecil. Ia menjaga harapan tetap hidup.
Pada akhirnya, berbagi dalam kesempitan mengajarkan satu hal penting: kebaikan bukan hak istimewa orang kaya. Kebaikan adalah hak semua orang. Bahkan sering kali, mereka yang memiliki sedikit justru mampu memberi makna paling besar. Jadi, jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu lapang untuk peduli. Sebab kadang, dari tangan yang sederhana, lahir pertolongan yang luar biasa. Dan dari hati yang pernah sempit, tumbuh kebaikan yang paling tulus.
