Konten dari Pengguna

Dies Natalis Bukan Tempat Seremonial Belaka

Fadllan Harist

Fadllan Harist

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan ORMAWA UNPAM. Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan ORMAWA UNPAM. Foto Pribadi

Setiap organisasi memiliki perjalanan yang tidak selalu dapat diukur hanya melalui jumlah program kerja, banyaknya kegiatan, atau seberapa meriah sebuah perayaan dilaksanakan. Di balik setiap agenda, terdapat proses panjang yang dilalui oleh orang-orang yang berada di dalamnya: belajar, beradaptasi, mengalami kegagalan, membangun relasi, menghadapi konflik, hingga menemukan kembali alasan mengapa organisasi tersebut harus terus berjalan. Hal tersebut menjadi relevan ketika Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAIKOM) Universitas Pamulang memperingati Dies Natalis ke-3 pada 24 Oktober mendatang dengan mengusung tema “Hiraya Trikarsa: Merayakan Jejak, Bertumbuh Bersama.”

Dies Natalis pada umumnya dipahami sebagai momentum memperingati hari lahir sebuah organisasi. Perayaan tersebut kerap identik dengan panggung, pertunjukan, dokumentasi, penghargaan, serta berbagai aktivitas yang menciptakan suasana perayaan. Namun, apabila Dies Natalis hanya berhenti pada perayaan, maka organisasi berpotensi kehilangan kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui. Usia organisasi seharusnya tidak hanya menjadi angka yang bertambah setiap tahun, tetapi juga menjadi penanda atas proses pembelajaran yang telah terjadi di dalamnya.

Tema “Hiraya Trikarsa” membawa gagasan yang menarik karena memuat dua hal yang saling berkaitan: merayakan jejak dan bertumbuh bersama. “Jejak” menunjukkan sesuatu yang telah ditinggalkan oleh perjalanan organisasi, sementara “bertumbuh” menunjukkan proses yang masih berlangsung. Keduanya menempatkan Dies Natalis bukan hanya sebagai kegiatan untuk melihat masa lalu, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami bagaimana pengalaman masa lalu dapat memengaruhi perjalanan organisasi pada masa mendatang.

Bagi HIMAIKOM Universitas Pamulang, tiga tahun bukanlah sekadar angka administratif. Tiga tahun berarti terdapat berbagai generasi mahasiswa yang pernah berada di dalam organisasi, menjalankan program kerja, menjadi panitia, mengikuti forum, berdiskusi, menghadapi perbedaan pendapat, dan menjalani dinamika organisasi. Setiap generasi meninggalkan pengalaman yang berbeda. Ada keberhasilan yang patut dipertahankan, tetapi ada pula kekurangan yang seharusnya menjadi bahan evaluasi.

Di sinilah pentingnya menjadikan Dies Natalis sebagai momentum refleksi.

Refleksi berbeda dengan sekadar evaluasi. Evaluasi cenderung melihat apakah sebuah kegiatan berhasil mencapai target yang telah ditentukan. Sementara refleksi membawa seseorang untuk bertanya lebih jauh: apa yang sebenarnya telah dipelajari dari perjalanan tersebut? Apa yang berubah setelah melewati berbagai pengalaman? Apa kontribusi yang telah diberikan kepada organisasi? Dan yang tidak kalah penting, apakah keberadaan seseorang di dalam organisasi benar-benar memberikan makna, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan di sekitarnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting bagi organisasi mahasiswa karena organisasi bukan hanya tempat untuk menjalankan program kerja. HIMAIKOM sebagai organisasi mahasiswa juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk mengalami praktik komunikasi secara langsung. Di dalamnya terdapat proses menyampaikan gagasan, menyelesaikan konflik, membangun koordinasi, melakukan negosiasi, memahami karakter orang lain, hingga mengambil keputusan bersama.

Dengan demikian, pengalaman organisasi sebenarnya merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

Mahasiswa dapat mempelajari teori komunikasi interpersonal dalam perkuliahan, tetapi pengalaman berkomunikasi dengan rekan satu organisasi dalam situasi yang penuh tekanan memberikan bentuk pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa dapat memahami konsep kepemimpinan melalui buku, tetapi menghadapi anggota yang memiliki karakter dan kepentingan berbeda dapat memberikan pemahaman yang jauh lebih konkret mengenai bagaimana kepemimpinan bekerja.

Karena itu, perjalanan tiga tahun HIMAIKOM seharusnya tidak hanya dibaca dari seberapa banyak kegiatan yang telah terlaksana, tetapi juga dari seberapa banyak pengalaman yang berhasil mengubah orang-orang di dalamnya.

Dies Natalis memiliki makna yang lebih substansial. Perayaan bukan berarti harus dihilangkan. Justru perayaan tetap diperlukan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan organisasi. Namun, perayaan seharusnya berjalan berdampingan dengan refleksi. Ada ruang untuk bersenang-senang, tetapi terdapat pula ruang untuk berhenti sejenak dan melihat perjalanan yang telah dilewati.

Dalam konteks tersebut, kegiatan reflektif menjadi bagian penting dari rangkaian Dies Natalis ke-3 HIMAIKOM. Anggota tidak hanya diajak untuk menyaksikan perayaan ulang tahun organisasi, tetapi juga diajak untuk melihat kembali posisi dirinya dalam perjalanan tersebut. Apa yang telah dilakukan selama menjadi bagian dari HIMAIKOM? Apa yang telah diberikan? Apa yang telah diterima? Pengalaman apa yang paling membekas? Kesalahan apa yang pernah terjadi? Dan pembelajaran apa yang dapat dibawa untuk perjalanan berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dapat menjadi bagian paling penting dari sebuah perayaan organisasi.

Sebab, organisasi dapat berganti kepengurusan, struktur dapat berubah, nama program kerja dapat berganti, bahkan orang-orang di dalamnya akan terus berganti. Namun, pengalaman dan nilai yang berhasil diwariskan dapat menjadi sesuatu yang membuat organisasi tetap memiliki identitas. Di sinilah konsep “jejak” dalam tema “Hiraya Trikarsa” menjadi penting.

Jejak bukan hanya tentang siapa yang pernah menjabat sebagai ketua, siapa yang menjadi kepala departemen, atau siapa yang memiliki posisi tertentu. Jejak juga dapat berbentuk gagasan, kebiasaan baik, hubungan antarmanusia, keberanian menyampaikan pendapat, kepedulian terhadap organisasi, serta pengalaman yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Setiap anggota, dengan demikian, memiliki kemungkinan untuk meninggalkan jejaknya sendiri.

Namun, refleksi juga tidak seharusnya berubah menjadi romantisasi masa lalu. Merayakan perjalanan bukan berarti menganggap seluruh perjalanan organisasi telah berjalan sempurna. Justru refleksi menjadi berarti ketika organisasi berani mengakui bahwa dalam perjalanan selalu terdapat kekurangan. Ada program yang tidak berjalan sesuai rencana, komunikasi yang tidak selalu efektif, konflik yang pernah muncul, keputusan yang mungkin perlu dievaluasi, serta berbagai persoalan lain yang menjadi bagian dari kehidupan organisasi.

Keberanian untuk melihat sisi tersebut merupakan bagian dari kedewasaan organisasi.

Organisasi yang hanya merayakan keberhasilan tanpa membaca kegagalan akan sulit bertumbuh. Sebaliknya, organisasi yang mampu menjadikan pengalaman sebagai bahan pembelajaran memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun budaya organisasi yang lebih matang. Karena itu, Dies Natalis dapat menjadi semacam titik jeda: bukan untuk berhenti, tetapi untuk melihat apakah arah perjalanan masih sesuai dengan nilai dan tujuan yang ingin dibangun.

“Bertumbuh bersama” dalam tema Dies Natalis juga mengandung konsekuensi bahwa pertumbuhan organisasi tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan orang-orang di dalamnya. HIMAIKOM tidak akan benar-benar bertumbuh apabila anggotanya hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan tanpa mendapatkan ruang untuk belajar, berbicara, berefleksi, dan berkembang. Begitu pula sebaliknya, pertumbuhan individu dapat memiliki makna yang lebih besar ketika pengalaman tersebut turut memberikan dampak terhadap lingkungan organisasi.

Dengan perspektif tersebut, Dies Natalis ke-3 HIMAIKOM Universitas Pamulang pada 24 Oktober dapat dipahami sebagai lebih dari sekadar peringatan bertambahnya usia organisasi. Ia dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu hadir melalui jejak yang telah ditinggalkan, masa kini hadir melalui anggota yang sedang menjalankan organisasi, sementara masa depan dibentuk melalui pembelajaran yang diambil dri perjalanan tersebut.

Pada akhirnya, usia tiga tahun tidak semestinya hanya dirayakan dengan pertanyaan “sudah berapa lama HIMAIKOM berdiri?”, tetapi juga dengan pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apa yang telah dibentuk selama tiga tahun tersebut?”

Jawabannya bukan hanya dapat ditemukan dalam arsip kegiatan, dokumentasi foto, laporan pertanggungjawaban, atau daftar program kerja. Jawaban tersebut juga hidup dalam diri orang-orang yang pernah dan sedang menjadi bagian dari HIMAIKOM. Mereka adalah bagian dari jejak organisasi sekaligus aktor yang menentukan bagaimana organisasi akan bertumbuh.

“Hiraya Trikarsa: Merayakan Jejak, Bertumbuh Bersama” pada akhirnya dapat menjadi pengingat bahwa sebuah organisasi tidak hanya dibangun oleh kegiatan, tetapi oleh manusia dan pengalaman yang ada di dalamnya. Perayaan menjadi pintu masuk untuk mengingat perjalanan, sementara refleksi memberikan kesempatan untuk memahami perjalanan tersebut.

Sebab, merayakan usia organisasi tanpa memahami perjalanan yang membentuknya hanya akan menghasilkan seremoni. Tetapi ketika sebuah perayaan mampu membuat anggotanya berhenti sejenak, melihat apa yang telah dilewati, memahami apa yang telah dipelajari, dan memikirkan apa yang ingin dibangun setelahnya, Dies Natalis dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna: sebuah ruang untuk menyadari bahwa setiap jejak yang telah ditinggalkan merupakan bagian dari proses untuk bertumbuh bersama.