Konten dari Pengguna

Membentuk Mahasiswa lewat Diskusi di Dalam Organisasi Mahasiswa

Fadllan Harist

Fadllan Harist

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang mengadakan Forum Diskusi dan Komunikasi. Sumber: Abdullah Fadllan Harist
zoom-in-whitePerbesar
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang mengadakan Forum Diskusi dan Komunikasi. Sumber: Abdullah Fadllan Harist

Perdebatan soal organisasi mahasiswa yang sudah tidak relevan tak kunjung usai. Mereka masih sibuk membandingkan antara masuk ke dalam organisasi mahasiswa atau mengambil magang. Semakin ke sini, nyatanya masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa masuk ke dalam organisasi mahasiswa di zaman sekarang hanya membuang-buang waktu.

Rapat terus menerus, tekanan kerja yang berlebihan, intervensi senior yang tak bersubtansi adalah beberapa contoh dari banyaknya alasan mengapa mahasiswa menganggap bahwa organisasi mahasiswa bukan pilihan yang menjadi prioritas.

Kenyataanya tidak semua organisasi bisa dianggap seperti itu. Pemikiran yang telah mengakar di kebanyakan orang tersebut akhirnya mengeneralisir makna dari organisasi mahasiswa. Akhirnya, wadah yang seharusnya menjadi tempat berkembang malah tertutup kabut stigma yang tak jelas konteksnya.

Organisasi mahasiswa itu lahir untuk menjadi tempat bagi mereka yang benar-benar ingin belajar dan memberikan perubahan, meskipun perubahan itu terjadi sangat kecil di diri sendiri. Namun tempat ini dihadirkan untuk menciptakan karakter yang benar-benar paham bagaimana seharusnya menjadi seorang “mahasiswa”.

Mahasiswa memiliki fungsi dan peran penting sebagai warga negara. Mereka adalah penerus bangsa yang akan meneruskan cita-cita negeri ini. Mereka hadir sebagai penjaga nilai dan selalu meneruskannya. Dengan pemikiran kritis dan bukti kepedulian kepada negeri ini, mereka adalah kontrol sosial. Mereka juga adalah orang-orang yang akan terus mengawasi kebijakan dan melakukan perubahan menuju dampak yang lebih nyata, dengan moral yang tetap mereka jaga.

Bermodalkan ilmu yang didapat di kelas rasanya tidak cukup untuk mengetahui mengapa mahasiswa memiliki peran yang sangat krusial. Pembahasan yang terlalu teoritis terkadang hanya menjadi dongeng pengantar tidur.

Mahasiswa perlu ruang diskusi yang lebih kritis, perlu wadah yang lebih besar, dan relasi yang lebih luas. Semua itu dibutuhkan sebagai pintu awal para mahasiswa menemukan arti "mahasiswa" yang sebenarnya.

Dalam organisasi mahasiswa, kita tidak hanya mempelajari bagaimana cara berbicara di depan umum, bagaimana cara melontarkan pertanyaan kritis dan sebagainya.

Organisasi mahasiswa menghadirkan banyak momen dan kebahagiaan. Di dalamnya, mereka mengetahui bagaimana bertahan dalam kondisi terpuruk, mereka diajarkan mencari jawaban di tengah kebuntuan, dan pelajaran yang lainnya.

Di sana juga diajarkan bagaimana kita menghadapi situasi krisis, mulai dari krisis keuangan, hingga krisis kepemimpinan. Semuanya adalah bentuk tempaan yang mengajarkan kita bagaimana menjadi seorang mahasiswa yang memiliki daya juang yang kuat dan paham akan makna hidup.

Proses belajar seseorang memerlukan wadah, tempat, dan mentor yang tepat. Mereka yang baru ingin belajar dan memiliki banyak pertanyaan seputar organisasi harus mendapatkan ruang yang layak.

Semua itu bisa diberikan oleh organisasi dengan banyak cara. Metodenya sangat beragam. Mulai dari dilibatkan dalam kepanitiaan, merasakan tekanan tugas yang konstruktif, diberikan arahan dan dorongan, hingga bertukar wawasan dalam forum diskusi.

Hal-hal seperti itu lah yang sekecil-kecilnya mampu meningkatkan kualitas diri setiap Mahasiswa. Mereka tidak hanya dibekali atau dikenalkan dengan hal-hal yang enak saja, namun mereka bisa merasakan dan mempelajari bagaimana menyelesaikan permasalahan yang tidak mereka sukai. Karena sejatinya, setiap mahasiswa hanya membutuhkan tempat yang tepat untuk membuat mereka menemukan cara menjalani hidup sebagai mahasiswa yang sebenar-benarnya.

Ruang-ruang belajar seperti itu bisa kita contoh dari kegiatan upgrading session yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Lembaga tersebut melaksanakan Forum Diskusi dan Komunikasi (Frekuensi) untuk setiap anggota lembaga tersebut.

Pembahasannya sangat beragam, mulai dari membahas keorganisasian, critical thinking, komunikasi interpersonal, dan masih banyak lainnya. Metodenya pun tak kalah menarik, mereka menyesuaikan karakter anggota internalnya dengan teknik diskusi yang interaktif, bedah film, dan diselingi games yang membangkitkan kemampuan kognitif dari setiap anggota.

Biasanya, tema pembahasan disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi dan kondisi yang dialami oleh organisasi tersebut. Ketika anggota organisasi tersebut dianggap kurang dalam memahami pengetahuan-pengetahuan organisasi, maka mereka akan menghadirkan forum seputar keorganisasian. Ketika mereka membutuhkan momen keakraban namun tetap insightfull mereka akan mengadakan bedah film.

Forum diskusi ini bersifat non-formal. Lembaga tersebut memfokuskan bagaimana sebuah tempat dibuat senyaman mungkin untuk menghadirkan tempat belajar yang supportif. Karena bagi mereka, ruang-ruang diskusi formal terlalu mengintimidasi.

Namun beberapa hal perlu dipertimbangkan dalam proses pelaksanaannya. Seseorang yang nantinya akan menjadi pemateri atau pemantik, harus memastikan diri mereka bahwa mereka telah paham apa yang akan mereka bawakan. Mereka juga perlu memastikan bahwa mereka bukanlah sosok yang selalu benar.

Karena pada realitasnya, berdiskusi dengan orang yang memiliki ego yang sangat tinggi cukup membuang-buang tenaga. Karena seseorang dengan ego yang tinggi, akan mempertahankan dan menutup kesempatan pengetahuan baru yang datang pada dirinya. Diskusi yang seharusnya bersifat dialektis, malah menjadi penghakiman yang tak ada habisnya.

Berdiskusi juga perlu memperhatikan faktor waktu dan tenaga. Bertukar gagasan sampai larut malam tidak selalu membuat diskusi tersebut terlihat subtansional. Selain menghabiskan tenaga, kepercayaan orang tua kepada anaknya karena pulang terlalu malam akan menghambat jalan mereka berorganisasi nantinya.

Banyak cara untuk memastikan diskusi berjalan sehat. Semua bisa direncanakan dengan memprioritaskan pembahasan yang sekiranya memerlukan waktu banyak, menghindari obrolan dan kegiatan yang hanya menghabiskan waktu diskusi, hingga memastikan faktor eksternal tidak menganggu jalannya diskusi.

Sejatinya, berdiskusi adalah hal fundamental yang dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk mahasiswa. Berdiskusi membuat kita sadar bahwa kita adalah manusia yang tidak tau apa-apa. Dengan segala banyak kekurangan, setidaknya berdiskusi menjadikan kita seseorang yang mau belajar dan mau bertumbuh.