Ojek Pangkalan: Kehadiran yang Tak Terlihat

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini dunia semakin padat, aktivitas masyarakat sangat beragam. Di setiap sudut kota dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang tak ada habisnya, mulai dari hal penting hingga tidak penting sekalipun.
Mobilitas dari pagi hingga menjelang malam tak pernah berhenti. Setiap orang akan bergerak. Beberapa dari mereka menaiki transportasi umum, ada pula yang memesan ojek atau taksi online.
Karena dunia sudah serba digital, aktivitas dan mobilitas masyarakat sangat terbantu. Apalagi dengan kehadiran aplikasi ojek online, masyarakat tidak perlu berjalan ke pemberhentian transportasi umum yang harus menghabiskan tenaga dan waktu. Cukup membuka layar ponsel, menentukan tujuan, dan menunggu pengemudi datang.
Namun, banyak yang tidak sadar bagaimana keberadaan jasa layanan antar bisa sangat berguna bagi beberapa orang. Saat semua mata tertuju pada digital, ada kelompok yang terpinggirkan, namun tak pernah benar-benar bisa dihilangkan.
Mereka adalah angkot atau ojek pangkalan. Kelompok yang sering dianggap sebelah mata dan mendapatkan stigma jelek karena beberapa oknumnya.
Jika berfokus pada ojek pangkalan, ada sesuatu yang menarik dari kesetiaan mereka sampai saat ini. Ketika mereka masih memilih siap dan siaga di pos kesayangan mereka dibanding berkeliling sambil menunggu notifikasi orderan berbunyi. Ketika mereka masih memilih untuk bernegosiasi dibanding menetapkan harga lewat sistem.
Di sekitar Stasiun Rawa Buntu, salah satu pengemudi yang masih menjalani pekerjaan tersebut adalah Pak Ali. Ia telah menjadikan ojek pangkalan sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.
Pak Ali menyampaikan bahwa pekerjaan sebagai ojek pangkalan masih mampu menghidupi kebutuhan keluarganya, meskipun penghasilannya tidak sebanyak yang didapatkan oleh pengemudi ojek online.
Penghasilan yang tidak menentu membuat seorang pengemudi harus terbiasa dengan situasi sepi. Ada hari ketika penumpang datang silih berganti, tetapi ada pula waktu ketika kursi tunggu lebih banyak ditempati oleh pengemudi daripada penumpang.
Namun, bagi Pak Ali, pekerjaan ini bukan hanya persoalan berapa banyak penumpang yang datang. Ada hubungan yang terbentuk dari pertemuan berulang dengan masyarakat sekitar.
Karena menetap di satu tempat, pengemudi ojek pangkalan memiliki kesempatan untuk mengenal warga sekitar dan membangun kepercayaan dengan penumpangnya. Orang-orang yang sering melihat dan menggunakan jasa mereka perlahan akan mengenal pengemudi yang sama. Dari pertemuan yang berulang, muncul rasa percaya.
Penumpang tidak lagi sekadar bertemu dengan seorang pengemudi, tetapi dengan orang yang sudah mereka kenal. Dalam situasi tertentu, kedekatan tersebut bahkan membuat penumpang merasa lebih nyaman menggunakan jasa orang yang sudah mereka percaya.
Hubungan semacam itu menjadi salah satu kekuatan ojek pangkalan. Mereka tidak hanya mengantarkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menjadi bagian kecil dari kehidupan masyarakat di sekitar pangkalan.
Pengetahuan mengenai lingkungan sekitar juga menjadi keunggulan tersendiri. Pengemudi yang sudah lama berada di suatu wilayah biasanya lebih mengenal jalan-jalan kecil dan rute alternatif. Jalan pintas yang mungkin tidak muncul dalam sistem aplikasi justru bisa menjadi pengetahuan yang mereka miliki dari pengalaman bertahun-tahun berada di jalan.
Akan tetapi, kedekatan dengan masyarakat saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan kebiasaan transportasi. Kehadiran ojek online membawa cara baru yang jauh lebih praktis. Masyarakat dapat mengetahui tarif, memilih pengemudi, melihat perkiraan waktu kedatangan, bahkan melakukan pembayaran secara digital.
Sementara itu, ojek pangkalan masih mengandalkan cara-cara konvensional. Penumpang harus datang langsung ke pangkalan, bertanya kepada pengemudi, kemudian melakukan negosiasi mengenai tarif. Bagi sebagian masyarakat, proses tersebut terasa kurang praktis dibandingkan layanan yang dapat dipesan dari dalam rumah.
Perbedaan itu semakin terasa ketika masyarakat membutuhkan kendaraan secara cepat. Ojek online dapat menerima pesanan dari berbagai lokasi, sementara pengemudi pangkalan lebih bergantung pada orang-orang yang datang ke wilayah mereka.
Meski begitu, perubahan teknologi juga tidak selalu berarti akhir bagi ojek pangkalan. Kawasan di sekitar stasiun, pasar, permukiman, hingga tempat-tempat yang sulit dijangkau kendaraan tertentu tetap menciptakan kebutuhan terhadap transportasi lokal.
Di tempat-tempat seperti itu, pengalaman pengemudi mengenali lingkungan dapat menjadi sesuatu yang berharga. Mereka mengetahui jalan yang tidak selalu dikenal pendatang, memahami kebiasaan warga sekitar, dan memiliki hubungan yang telah dibangun jauh sebelum aplikasi transportasi hadir.
Karena itu, tantangannya bukan hanya mempertahankan keberadaan, tetapi bagaimana menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat yang terus berubah. Kepercayaan yang sudah dimiliki bisa menjadi modal untuk bertahan, sementara perubahan teknologi menjadi sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dihindari.
Di tengah perubahan tersebut, Pak Ali dan pengemudi ojek pangkalan lainnya tetap memilih berada di tempat mereka. Mereka mungkin tidak memiliki aplikasi yang berbunyi ketika seseorang membutuhkan tumpangan. Tidak pula memiliki sistem yang menjamin datangnya penumpang setiap saat.
Yang mereka miliki adalah tempat, pengalaman, dan orang-orang yang telah mengenal mereka.
Ojek pangkalan mungkin tidak lagi menjadi pilihan pertama bagi sebagian masyarakat. Namun, keberadaannya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak serta-merta menghapus seluruh cara lama. Di antara kendaraan yang datang dan pergi, serta notifikasi yang terus berbunyi di layar ponsel, masih ada mereka yang memilih untuk menunggu.
Menunggu penumpang datang. Menunggu seseorang yang membutuhkan tumpangan. Dan mungkin yang paling penting, menunggu agar pekerjaan yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
