Konten dari Pengguna

Pernikahan Beda Agama Dalam Psikologi

Salsabilah

Salsabilah

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka Jakarta

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konsep Pernikahan dalam Psikologi

Dalam konsep psikologi perkembangan, Santrock (2002) dalam buku Life Span Development menuturkan bahwa pernikahan adalah tugas dalam tahap dewasa atau perkembangan sosio-emosional pada masa dewasa awal. Pada fase ini, individu mengalami masa perkelaminan (genitality) yang ditandai dengan perasaan saling percaya dan berbagi kepuasan seksual secara permanen dengan orang yang dicintai. Apabila tugas perkembangan ini dapat diselesaikan dengan baik, kebahagiaan akan muncul pada indidvidu tersebut. Namun, tugas tersebut tidaklah mudah. Akan ada banyak hal yang harus dihadapi, mulai dari pengelola keuangan, mendidik anak, serta masalah-masalah yang nantinya tidak diharapkan akan terjadi.

Ilustrasi Pernikahan. Sumber: Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pernikahan. Sumber: Shutterstock.com

Pernikahan Beda Agama di Indonesia

Di Indonesia, belum ada peraturan yang memperbolehkan untuk menikah beda agama. Selain itu, pernikahan beda agama ternyata menentang UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang menyatakan bahwa pernikahan yang sah adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Pernikahan beda agama sudah banyak terjadi di kalangan selebritis tanah air. Fenomena tersebut sudah dianggap sebagai hal yang biasa saja. Namun, kenyataannya pernikahan beda agama justru memberi peluang yang cukup tinggi pada timbulnya masalah bahkan perceraian.

Bagaimana keluarga beda agama dalam psikologi?

Keluarga Sejahtera Menurut Psikologi

Jika ditinjau dari aspek psikologi, keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang mampu menjaga pola keberfungsian setelah adanya kesulitan dan tekanan. Namun, ada juga faktor yang membuat suatu keluarga kurang sejahtera, yaitu perayaan keluarga, rutinitas keluarga, tradisi keluarga, spiritualitas, dukungan sosial, serta kesehatan fisik dan emosional.

Selain itu menurut Soemarjan (1994) ada beberapa tahapan untuk menjadi keluarga sejahtera, antara lain:

  • Basic needs (kebutuhan dasar) yang terdiri dari sandang, pangan, papan, dan kesehatan.

  • Social psychological (kebutuhan sosial psikologis) yang terdiri dari pendidikan, rekreasi, transportasi, dan interaksi sosial baik internal maupun eksternal.

  • Development needs (kebutuhan pengembangan) yang terdiri dari tabungan, pendidikan, serta akses terhadap informasi.

Keluarga yang berbeda agama dapat dikatakan sejahtera apabila memenuhi berbagai aspek keluarga sejahtera. Aspek ini penting karena nantinya dapat menentukan keharmonisan dan kebahagian di dalam keluarganya. Namun, untuk memenuhi aspek tersebut tidaklah mudah. Terlebih perbedaan pandangan dari masing-masing agama akan menjadi faktor utama keluarga tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu latar belakang agama yang berbeda akan timbul kesulitan untuk menyesuaikan diri, seperti pada tradisi dan budaya mereka.

Sementara itu dalam penelitian yang dilakukan oleh Novitasari (2019) pernikahan beda agama akan menimbulkan masalah psikologis pada anak. Hal ini terjadi karena timbulnya konflik interpersonal, khususnya dalam ranah komunikasi. Anak akan cenderung merasa bimbang untuk memilih agama yang akan mereka anut.

Namun, anak dari orang tua yang memiliki agama berbeda justru memiliki sikap keberagamaan yang sehat. Mereka akan menjadi sosok yang mandiri, toleran, terbuka, dan memiliki sikap keberagamaan yang tidak kaku sebab mereka memilih agama berdasarkan hati nurani mereka sendiri. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati & Kudubun (2015) keluarga yang memiliki perbedaan agama tidak menjadi masalah, justru perbedaan itulah yang harus diterima sebagai realitas kehidupan. Nantinya perbedaan itu dapat membantu anak-anak menjadi lebih toleran terhadap perbedaan, serta mengurangi konflik, saling percaya dan dapat dipercaya oleh masing-masing anggota keluarga.

Daftar Pustaka

Santrock, J. W. (2019). Life-Span Development (17th ed). McGraw-Hill Education.

Novitasari, Ely. (2019). Pengaruh Perkawinan Lintas Agama Terhadap Problem Psikologis dan Perkembangan Keagamaan Anak Pada Keluargs Lintas Agama di Surabaya.

Kuniawati & Kudubun. (2015). Modal Sosial Keluarga Beda Agama ( Studi Sosiologis Tentang Relasi Pergaulan Anak dari Pasangan Beda Agama di Salatiga).