Bahasa Asing Penting, tetapi Numerasi Tidak Boleh Terabaikan

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi - Universitas Pamulang - Berfokus pada dinamika ekonomi, strategi bisnis, dan transformasi pendidikan.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Putri Ayu Fadila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Numerasi Masih Menjadi Tantangan Pendidikan Indonesia

Di era globalisasi, kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan. Pemerintah bahkan mulai mendorong penguatan pembelajaran bahasa asing di sekolah agar generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Namun, di tengah upaya tersebut, terdapat persoalan mendasar yang justru belum sepenuhnya terselesaikan, yaitu rendahnya kemampuan numerasi peserta didik Indonesia.
Kemampuan numerasi bukan hanya kemampuan menghitung, tetapi kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Numerasi menjadi fondasi penting dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja. Karena itu, peningkatan kemampuan numerasi seharusnya menjadi prioritas utama sebelum menambah berbagai tuntutan kompetensi baru di sekolah.
Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemampuan numerasi siswa Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Penelitian oleh Susanto, Haratua, dan Karolina (2024) menemukan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal literasi numerasi masih tergolong rendah dan membutuhkan penguatan pembelajaran yang lebih kontekstual.
Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian Shafara, Ihsanudin, dan Rafianti (2024). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 63% peserta didik berada pada kategori kemampuan numerasi rendah, sementara hanya 14% yang berada pada kategori tinggi dalam menyelesaikan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
Selain itu, penelitian Mulyani, Ratnaningsih, dan Rahayu (2024) mengungkapkan bahwa banyak peserta didik masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal numerasi yang membutuhkan kemampuan penalaran dan penerapan konsep matematika dalam konteks kehidupan nyata.
Kondisi tersebut juga tercermin dalam berbagai evaluasi pendidikan nasional. Berdasarkan pemaparan Kementerian Pendidikan mengenai hasil PISA 2022, kemampuan matematika dan numerasi Indonesia masih menjadi perhatian utama meskipun terjadi peningkatan peringkat dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah menilai bahwa penguatan literasi dan numerasi tetap menjadi agenda penting dalam transformasi pendidikan nasional.
Persoalan ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia saat ini bukan sekadar menambah mata pelajaran atau keterampilan baru, melainkan memastikan bahwa kemampuan dasar siswa sudah kuat. Bahasa asing memang penting untuk menghadapi persaingan global, tetapi kemampuan numerasi merupakan fondasi yang menentukan kualitas berpikir kritis peserta didik.
Dalam konteks pembelajaran dan microteaching, calon guru perlu memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga strategi mengajar yang mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa. Guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan mendorong siswa berpikir kritis sehingga numerasi tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan.
Oleh karena itu, kebijakan pendidikan sebaiknya berjalan secara seimbang. Penguatan bahasa asing dapat terus dilakukan, tetapi jangan sampai menggeser fokus terhadap peningkatan kemampuan numerasi yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Sebab, generasi yang mampu berbahasa asing tetapi lemah dalam numerasi akan tetap kesulitan menghadapi tantangan abad ke-21 yang menuntut kemampuan analisis, logika, dan pemecahan masalah.
