Bulan Fintech Nasional, SBM ITB Hadirkan Kitabisa

SBM ITB
School of Business and Management ITB
Konten dari Pengguna
8 Desember 2023 15:47 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari SBM ITB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Para pembicara seminar berfoto bersama peserta di SBM ITB, Bandung (7/12). Dengan karakter industri yang diatur dengan ketat, pengusaha muda harus mengerti seluk-beluk aturan mendirikan Fintech.
zoom-in-whitePerbesar
Para pembicara seminar berfoto bersama peserta di SBM ITB, Bandung (7/12). Dengan karakter industri yang diatur dengan ketat, pengusaha muda harus mengerti seluk-beluk aturan mendirikan Fintech.
ADVERTISEMENT
Bandung - Center for Islamic Business and Finance (CIBF) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) menggelar seminar bertajuk "What It Takes to Become Fintechpreneur?” pada Kamis (7/12) di Bandung. Seminar yang merupakan bagian dari Bulan Fintech Nasional dan puncak AFSI Goes to Campus tersebut dibuka oleh Dekan SBM ITB Ignatius Pulung Nurprasetio, dan Direktur Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Ridiani Kurnia.
ADVERTISEMENT
Dipandu oleh Ketua CIBF Oktofa Yudha Sudrajad, seminar menghadirkan sejumlah pembicara seperti Co-Founder dan CEO Sosial Crowdfunding Kitabisa Vikra Ijas, Founder dan CEO Securities Crowdfunding FundEx Agung Wibowo dan Ketua Program Studi Kewirausahaan SBM ITB Sonny Rustiadi .
Agung Wibowo menjelaskan securities crowdfunding seperti “mini IDX”. Perusahaan bisa menghimpun modal secara patungan melalui aplikasi crowdfunding baik equity maupun securities (sukuk).
Menurut Agung, FundEx membutuhkan waktu persiapan setidaknya dua tahun hingga bisa berdiri. Hal itu terjadi karena untuk mendirikan perusahaan teknologi finansial (fintech) bukan hanya punya produk dan pasar (product and market fit) tapi juga harus memenuhi ketentuan (regulation fit) yang membutuhkan proses cukup lama. FundEx merupakan salah satu contoh crowdfunding commercial yang saat ini berkembang di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pada sesi selanjutnya Vikra membagikan pengalamannya membangun Kitabisa. Kitabisa adalah fintech sosial yang memfasilitasi gotong royong digital. Menurut Vikra, untuk menjadi fintech-preneur perlu memiliki rekan yang bisa saling mendukung dan memiliki keyakinan serta visi yang sama.
Dia menjelaskan, jaringan merupakan hal sangat penting dalam membangun fintech. Referensinya adalah Kitabisa. Selain inovasi, kolaborasi dan kerja sepenuh hati merupakan kunci Kitabisa tetap tumbuh dan berkembang.
Sementara menurut Sonny Rustiadi, untuk menjadi seorang enterpreuner, perlu menemukan pain point atau problem yang bisa dipecahkan dari produk atau layanan. Selain itu solusi yang ditawarkan harus benar-benar menyelesaikan masalah (must have), bukan hanya terlihat keren (nice to have). Karakter perusahaan financial technology (fintech) sendiir memang sangat diatur (highly regulated) sehingga perlu pemahaman yang mendalam mengenai regulasi-regulasi yang berlaku di suatu negara.
ADVERTISEMENT
Selain seminar, puncak AFSI Goes to Campus di SBM ITB juga berisi pameran yang diikuti oleh pelaku pelaku fintech. Di antaranya ada Ethis, Qazwa, Shafiq, Pospay dan Zahir Capital Hub. Total ada 200 peserta yang menghadiri seminar dan pameran ini.