Konten dari Pengguna

Ekonom SBM ITB Yakini Indonesia Tak Kena Resesi Global 2023

SBM ITB

SBM ITBverified-green

School of Business and Management ITB

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SBM ITB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANDUNG - Berlanjutnya perang antara Rusia dan Ukraina diyakini banyak pihak akan menyebabkan resesi global pada 2023. Meski demikian, sejumlah pihak meyakini resesi global tahun tidak akan berdampak langsung secara ekstrem kepada Indonesia.

Deddy Priatmodjo Koesrindartoto termasuk yang yakin bahwa resesi global tak akan berdampak langsung ke Indonesia. Menurut dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) itu, Indonesia tidak akan mengalami dampak ekstrem langsung resesi global karena tidak bergantung pada komoditas yang berasal dari negara yang berselisih tersebut.

Negara-negara di Eropa dan sekitarnya lah yang akan merasakan dampak langsung konflik Rusia-Ukraina karena ketergantungannya pada komoditas penting seperti gas dan gandum. Perang kedua negara mengakibatkan rantai pasok global terhadap sejumlah komoditas penting dunia terganggu bahkan terhenti.

"Di Indonesia, permintaan kebutuhan energi dalam negeri masih bisa dipenuhi dengan rantai pasok yang ada dan tidak terdampak langsung oleh perang Rusia dan Ukraina, meski dampak kenaikan harga energi juga turut dirasakan karena kenaikan harga minyak dunia," ujar Deddy, Sabtu (15/10/2022). "Sementara itu, krisis komoditas pangan yang terjadi pada gandum, tidak berdampak ekstrem karena memang bukan makanan pokok Indonesia."

Saat ini, menurut Deddy, kondisi perekenomian Indonesia pun relatif kuat, ditunjukkan dengan kondisi pasar modal Indonesia yang capital inflow-nya deras, investasi luar negeri tinggi, Foreign Direct Investment (FDI) yang stabil, dan iklim investasi yang levelnya tetap investment grade. Ditopang dengan kebijakan aktif fiskal dan moneter yang sinergis, Deddy yakin efek resesi dan krisis global tidak terlalu ekstrem ke Indonesia.

"Meskipun demikian, kita tetap perlu siap-siap terhadap kondisi resesi global, bagaimanapun kita sudah menjadi bagian ekonomi dunia yang terhubung," ujar Deddy. "Namun dampaknya akan lebih 'mild' dan tidak seekstrem seperti negara-negara lain."

Menurut Deddy, pemerintah tidak perlu memberikan pernyataan berlebihan terkait resesi 2023. Deddy khawatir, pernyataan yang berlebihan terkait resesi global 2023 malah justru memicu efek "self-fulfilling prophecy" dan direspon masyarakat dengan menahan konsumsi secara berlebihan, sehingga mengganggu perekonomian Indonesia yang banyak bertumpu pada konsumsi masyarakat. Akan lebih baik jika pernyataan pemerintah tetap mengandung optimisme.

Pada akhirnya, menurut Deddy, dampak resesi global akan terasa tidak langsung pada berbagai jalur, seperti gangguan ekonomi pada negara-negara tujuan ekspor, volume ekspor berkurang karena karena permintaan berkurang. Lalu berbagai kebijakan moneter negara besar, seperti kenaikan suku bunga The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) akan berdampak pada efek pelemahan Rupiah terhadap Dollar dan bisa menjadi salah satu penyebab kenaikan suku bunga di Indonesia.

Dengan proyeksi kenaikan inflasi dan suku bunga kedepan, likuiditas keuangan di dalam negeri berisiko menjadi berkurang. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengantisipasi hal ini dengan menahan intensitas pembelian barang yang bukan menjadi kebutuhan utama pada 2023. “We should prepare for the rainy day,“ pungkas Deddy.*