Konten dari Pengguna

Riset Doktor SBM ITB: Tantangan Pengaplikasi 5G di Indonesia

SBM ITB

SBM ITBverified-green

School of Business and Management ITB

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SBM ITB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sahat Hutajulu, Mahasiswa DSM ITB
zoom-in-whitePerbesar
Sahat Hutajulu, Mahasiswa DSM ITB

BANDUNG, 29 September. Mahasiswa Doctor of Science in Management (DSM) Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Sahat Hutajulu, pada sidang promosi Doktor 23 September 2021 memaparkan hasil disertasi mengenai tantangan dalam pengaplikasian 5G yaitu bangsa Indonesia masih perlu menumbuhkan ekosistem inovasi untuk pengaplikasian 5G.

Masih banyak tantangan yang harus diatasi dalam pengaplikasian frekuensi 5G di Indonesia, salah satunya membebaskan spektrum frekuensi 5G dari layanan eksisting, seperti satelit dan Broadband Wireless Access (BWA). Saat ini, Telkomsel menyelenggarakan teknologi 5G dengan hanya 30 MHz di spektrum frekuensi 2.3 GHz. Padahal, persyaratan yang dibutuhkan untuk 5G dapat berjalan dengan baik adalah sekitar 100 MHz.

Selain menghadapi tantangan, terdapat berbagai ketidakpastian dalam pengaplikasian frekuensi 5G, diantaranya keadaan global yang tidak terduga, keraguan dari pemerintah, operator seluler dan industri, serta kebutuhan ekosistem untuk berinovasi.

Selain itu, pengaplikasi 5G di Indonesia menghadapi ketidakjelasan dampak sosial. Penggunaan 5G juga belum tentu laku dipasaran dan berpotensi muncul masalah baru, seperti keamanan pribadi.

Hal-hal tersebut diketahui dari hasil penelitian disertasi Sahat dengan mewawancarai berbagai pimpinan pemegang kepentingan 5G di Indonesia. Di antaranya, Kementerian Komunikasi dan Informatika, operator telekomunikasi seluler, penyedia alat telekomunikasi dan universitas.

Total terdapat 38 responden yang terlibat dalam riset tersebut dengan level posisi sebagai direktur, spesialis teknologi, manajer senior dan junior. Para responden sarat dengan pengalaman di bidang telekomunikasi, setidaknya 10 tahun.

Dari ketidakpastian tersebut, lanjut Sahat, terdapat dua hal yang paling sering disebut oleh seluruh responden, yakni kebergunaan 5G dengan aplikasi-aplikasi baru (5G use cases) dan kesiapan infrastruktur (infrastructure readiness). Dari kedua hal ini kemudian dibuat dua sumbu analisis untuk menciptakan empat kuadran. Dari keempat kuadran tersebut kemudian dipilih dua skenario yang terbaik dan terburuk untuk didiskusikan.

Skenario terbaik kemudian diberi nama “the optimistic champion” atau sang pemenang optimis dan skenario yang lebih pesimis diberi nama “the wait and respond” atau sang penunggu. Kedua nama skenario tersebut menggambarkan Indonesia sebagai suatu bangsa dalam merespon teknologi 5G masuk ke Indonesia.

Selanjutnya kedua skenario tersebut disimulasikan menggunakan Pemodelan Berbasis Agen atau Agent-Based Modelling. Hasil simulasi menunjukan bahwa skenario sang pemenang berdampak waktu difusi 5G di Indonesia menjadi 34% lebih cepat, dibanding skenario sang penunggu.

Dari pembahasan dengan seluruh narasumber, lanjut Sahat, didapatkan faktor-faktor penyebab utama mengapa teknologi 5G dibutuhkan di Indonesia. "Di antaranya, untuk meningkatkan kompetisi Indonesia di kancah global, target pemerintah dan nasional, juga ada permintaan dari masyarakat," ucap Sahat, Senin (27/9/2021).

Selain itu, teknologi 5G dibutuhkan karena dorongan kebutuhan operator, industri 4.0, evolusi ekosistem kreatif, keuntungan ekonomi, untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan karena pengaruh dari perusahaan teknologi.

Riset tersebut berhasil dipublikasikan di jurnal internasional Technology Forecasting and Social Change dengan kualifikasi tertinggi (Scopus Q1). Tim peneliti dari riset ini adalah Dr. Sahat Hutajulu, yang baru saja menyelesaikan masa studi doktoralnya, di bawah bimbingan promotor Prof. Wawan Dhewanto, S.T, M.Sc., Ph.D serta kopromotor Dr.rer.pol. Eko Agus Prasetio.*