UMKM Gula Semut Donggala Naik Kelas Lewat NIB dan Tata Kelola Finansial
Tulisan dari Public Relations Youth Ranger Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Youth Ranger Indonesia (YRI) Sulawesi Tengah melalui program kolaborasi Potensi Indonesia Mengabdi (PIM) x Rantuvu menginisiasi pendampingan bagi pelaku UMKM gula semut di Desa Salumpaku, Kabupaten Donggala. Inisiatif ini berfokus pada penguatan daya saing komoditas aren lokal melalui standardisasi legalitas usaha dan tata kelola keuangan.
Selama ini, pengolahan aren di Desa Salumpaku berjalan secara konvensional dengan serapan pasar yang terbatas. Melalui program ekonomi kreatif ini, tim pendamping berupaya membantu warga meningkatkan kualitas olahan aren agar mampu menembus rantai pasok pasar modern.
Membuka Akses Pasar Melalui Legalitas Usaha
Langkah konkret yang diambil dalam pendampingan ini adalah memfasilitasi pertemuan strategis antara warga Desa Salumpaku dan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Donggala.
Farid Ifan, perwakilan dari Dinas Koperindag, menekankan pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku usaha kecil. Menurutnya, NIB bukan sekadar syarat administratif, melainkan fondasi bagi pelaku UMKM gula semut untuk masuk ke pasar formal.
"Dengan memiliki NIB, pelaku usaha memiliki landasan hukum yang lebih kuat. Ini membuka pintu bagi mereka untuk mengakses permodalan resmi, mengikuti program pemerintah, hingga menembus jaringan ritel modern yang lebih luas," jelas Farid saat menyampaikan materi kepada warga Desa Salumpaku.
Pentingnya Literasi Keuangan untuk Bisnis Berkelanjutan
Selain aspek legalitas, pendampingan juga menyasar perbaikan tata kelola internal. Sering kali, tantangan utama UMKM di perdesaan adalah ketidakmampuan memisahkan keuangan pribadi dari arus kas usaha.
Aris, instruktur pembukuan sederhana, membimbing warga untuk mencatat transaksi secara disiplin. "Banyak pelaku usaha di tingkat desa yang belum terbiasa melakukan pembukuan. Di samping itu, tanpa catatan arus kas yang rapi, laba sulit dihitung secara presisi, dan langkah pengembangan bisnis selanjutnya pun sulit dirumuskan," ujar Aris.
Dalam sesi demonstrasi, salah satu perajin gula semut, Mariati, menunjukkan proses pengolahan dan pengemasan gula semut sesuai dengan standar baru. Produk hasil pelatihan ini menunjukkan kualitas yang kompetitif dan siap dipasarkan dalam skala yang lebih luas.
Inisiatif ini menegaskan fokus organisasi pada pemberdayaan jangka panjang, di mana dukungan tidak hanya diberikan dalam bentuk pelatihan teknis, tetapi juga mencakup aspek krusial seperti regulasi dan manajemen keuangan.

