Konten dari Pengguna

Public Speaking: Pandai Bicara Belum Tentu Pandai Berkomunikasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shela Juni Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Public Speaking Itu Soal Peka, Bukan Sekadar Fasih

Public speaking identik dengan telapak tangan dingin, suara bergetar, dan pikiran mendadak kosong saat dipanggil presentasi. Hampir setiap mahasiswa pernah merasakannya. Di kelas, kita lalu belajar tekniknya: suara lantang, kontak mata terjaga, gestur luwes, dan diksi rapi.

Semua itu penting. Tapi semakin sering mengamati cara para pejabat berbicara di ruang publik, saya makin yakin ada yang lebih mendasar daripada teknik: niat untuk didengar sekaligus mendengar.

Public speaking sejatinya bukan pertunjukan satu arah. Ia percakapan, meski hanya satu orang yang berdiri di depan. Pembicara yang baik tahu siapa yang ia ajak bicara dan apa yang sedang mereka rasakan.

Fasih belum tentu peka

Kita sudah beberapa kali melihat pernyataan pejabat yang tersusun rapi, tetapi justru memicu kegaduhan karena terasa jauh dari pengalaman warga.

Lembaga riset Continuum Indef, dalam analisisnya atas respons publik terhadap penanganan bencana sepanjang 2026, mencatat bahwa amarah warga di media sosial kerap dipicu oleh cara pejabat berkomunikasi, bukan hanya oleh persoalan di lapangan.

Publik ternyata membaca nada dan empati lebih dulu daripada isi. Kalimat yang benar secara administratif bisa terdengar dingin bagi orang yang baru kehilangan rumah. Dalam kelas public speaking, ini pelajaran pertama: kenali audiensmu.

Warisan komunikasi satu arah

Seorang dosen komunikasi Universitas Airlangga pernah menyoroti bahwa komunikasi pejabat kita masih cenderung elitis dan normatif. Publik sering merasa digurui, bukan diajak berdialog. Salah satu akarnya, menurut beliau, adalah budaya politik feodal yang membuat relasi atasan dan bawahan kaku.

Podium memang memberi posisi tinggi. Tetapi posisi itu pinjaman dari kepercayaan pendengar. Pembicara yang lupa bahwa ia sedang melayani audiensnya akan mudah berubah menjadi penceramah, dan penceramah jarang dipercaya.

Kesadaran sudah tumbuh, konsistensi ditunggu

Kesadaran akan pentingnya komunikasi publik yang baik sebenarnya sudah tumbuh, termasuk di tingkat pimpinan pemerintahan. Itu patut dihargai.

Tantangannya kini ada pada konsistensi: bagaimana semangat itu terlihat dalam keseharian pejabat di semua tingkatan. Dalam public speaking ada hukum sederhana, yaitu audiens menilai kesesuaian antara kata dan tindakan. Keterbukaan terhadap kritik baru meyakinkan jika kritik berikutnya dijawab dengan cepat, jelas, dan tidak defensif.

Cermin untuk kita

Bagi mahasiswa yang sebentar lagi masuk dunia kerja dan mungkin kelak berbicara atas nama sebuah institusi, kritik ini sebaiknya dibaca sebagai cermin. Ada tiga pelajaran.

Pertama, empati lebih dulu daripada data. Fakta tetap penting, tetapi pendengar baru siap menerimanya setelah merasa dipahami.

Kedua, mengaku keliru lebih berwibawa daripada berkelit. Permintaan maaf yang tulus sering memulihkan kepercayaan lebih cepat daripada seribu klarifikasi.

Ketiga, mendengar adalah bagian dari berbicara. Sesi tanya jawab bukan ancaman, melainkan kesempatan membuktikan bahwa kita layak dipercaya.

Aksi Nyata Mahasiswa: Suasana pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat oleh mahasiswa Universitas Pamulang. Dokumentasi PKM.

Penutup

Demokrasi butuh warga yang berani bersuara dan pejabat yang bersedia mendengar. Public speaking, dalam arti yang paling luhur, adalah jembatan di antara keduanya. Ketika jembatan itu hanya dilalui satu arah, yang runtuh bukan sekadar komunikasi, melainkan kepercayaan.

Mungkin sudah waktunya kita, mahasiswa, pejabat, dan siapa pun yang pernah memegang mikrofon, bertanya pada diri sendiri: sudahkah saya berbicara untuk didengar, atau sekadar agar terdengar?

Shela Juni Rahmawati adalah mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang.