Konten dari Pengguna

Kalau Hidup Kita Cuma 4.000 Minggu, Mau Dihabiskan untuk Apa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pungky Hermayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang Ibu yang sudah menua sambil memegang gadgetnya (Sumber Dokumen: Foto Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Ibu yang sudah menua sambil memegang gadgetnya (Sumber Dokumen: Foto Pribadi)

Bayangkan Hidup Kita Hanya 4.000 Minggu. Pernahkah kita menghitung berapa banyak minggu yang sebenarnya kita miliki dalam hidup? Oliver Burkeman, dalam bukunya Four Thousand Weeks, mengingatkan bahwa jika seseorang hidup sampai usia 80 tahun, hidupnya hanya sekitar 4.000 minggu.

Angka itu terdengar banyak sampai kita menyadari bahwa sebagian besar sudah kita habiskan tanpa pernah benar-benar menyadarinya. Kita bangun, bekerja, makan, tidur, lalu membuka ponsel “sebentar”. Tanpa terasa, satu jam berubah menjadi dua jam, dua jam menjadi malam, dan hari berganti minggu. Pertanyaannya kemudian bukan lagi “Berapa lama kita hidup?”, tetapi “Untuk apa kita menghabiskan waktu yang terbatas itu?”

Berapa Minggu yang Hilang di Layar? Coba bayangkan seseorang menghabiskan rata-rata tiga jam sehari hanya untuk scrolling media sosial, menonton video pendek, membaca komentar, atau berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Tiga jam sehari berarti sekitar 21 jam seminggu—hampir satu hari penuh setiap minggu hanya untuk menatap layar.

Jika pola itu berlangsung selama 50 tahun, waktunya setara dengan sekitar 7.800 hari atau lebih dari 21 tahun penuh, meskipun tentu tidak berarti seluruh waktu tersebut otomatis “terbuang” karena sebagian penggunaan gadget bisa produktif, sosial, atau bermanfaat. Namun, angka itu cukup untuk membuat kita berhenti sejenak: bagaimana jika sebagian waktu tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk membaca buku, belajar keterampilan baru, berolahraga, berbincang dengan keluarga, berkarya, atau sekadar menikmati hidup tanpa tergesa-gesa? Waktu yang hilang tidak pernah bisa di-scroll kembali.

Masalahnya bukan gadget, tetapi ketika gadget mengambil alih hidup. Kita tidak perlu memusuhi teknologi. Smartphone bisa membantu kita belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan menemukan peluang baru. Persoalannya muncul ketika kita membuka ponsel bukan karena membutuhkan sesuatu, melainkan karena merasa gelisah ketika tidak memegangnya.

Penelitian Yang, Fu, Liao dan Li (2020) menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang bermasalah berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap kualitas tidur yang buruk, depresi, dan kecemasan. Meta-analisis terhadap anak dan remaja juga menemukan hubungan antara problematic smartphone use dengan depresi, kecemasan, stres, dan kualitas tidur yang lebih buruk. Artinya, yang perlu kita waspadai bukan sekadar berapa kali menyentuh layar, tetapi ketika layar mulai mengambil waktu, perhatian, tidur, hubungan sosial, dan kesempatan kita untuk menjalani kehidupan nyata.

Dampak terbesarnya mungkin bukan waktu, tetapi perhatian. Bayangkan seorang ayah sedang makan bersama anaknya, tetapi tangannya terus menggulir layar. Bayangkan seorang mahasiswa sedang belajar, tetapi setiap beberapa menit memeriksa notifikasi. Bayangkan seseorang sedang berlibur di tempat indah, tetapi pikirannya sibuk mencari konten untuk diunggah. Tubuh kita memang berada di satu tempat, tetapi perhatian kita berada di tempat lain. Inilah harga yang sering tidak terlihat dari kebiasaan scrolling: kita bukan hanya kehilangan menit, tetapi kehilangan kehadiran.

Penelitian Han, Zhou, dan Liu (2024) tentang media elektronik juga menemukan hubungan signifikan antara penggunaan media elektronik dan kualitas tidur yang lebih buruk. Sementara itu, meta-analisis 2024 menemukan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan depresi, kecemasan, masalah tidur, dan kesejahteraan yang lebih rendah.

Yang menakutkan adalah Kita sering tidak merasa sedang kehilangan apa-apa. Waktu yang digunakan untuk scrolling biasanya tidak terasa seperti kehilangan. Lima menit terasa kecil. Sepuluh menit tidak masalah. “Satu video lagi” terdengar sepele. Tetapi hidup tidak hilang dalam satu kejadian besar; hidup sering terkikis melalui ribuan keputusan kecil yang kita ulang setiap hari.

Kita mungkin tidak akan menyesal pernah menggunakan teknologi untuk bekerja atau berkomunikasi, tetapi bisa jadi kita akan menyesal ketika menyadari bahwa terlalu banyak sore dihabiskan untuk melihat kehidupan orang lain, sementara kehidupan sendiri tidak benar-benar dijalani. Burkeman dalam bukunya berjudul Four Thousand Weeks mengajak kita menghadapi keterbatasan waktu sebagai kenyataan yang justru dapat membantu kita menentukan apa yang sungguh penting. Keterbatasan waktu bukan alasan untuk takut hidup, melainkan alasan untuk memilih hidup dengan lebih sadar.

4.000 minggu itu bukan angka untuk menakut-nakuti. Angka 4.000 minggu seharusnya menjadi alarm kecil bagi kita untuk bertanya: dari semua minggu yang masih tersisa, berapa banyak yang ingin kita habiskan di depan layar? Tidak berarti kita harus membuang smartphone, menghapus semua media sosial, atau hidup seperti manusia tanpa teknologi. Yang perlu dilakukan adalah mengambil kembali kendali atas perhatian kita.

Letakkan ponsel ketika berbicara dengan orang yang kita cintai. Matikan notifikasi yang tidak penting. Sediakan waktu tanpa layar sebelum tidur. Ganti sebagian waktu scrolling dengan membaca, berjalan, belajar, berkarya, atau sekadar duduk menikmati secangkir kopi. Karena pada akhirnya, kita tidak kekurangan waktu sebanyak kita sering kehilangan perhatian terhadap bagaimana waktu itu digunakan.

coba hitung minggu yang tersisa. Malam ini, sebelum tidur, jangan langsung membuka media sosial. Buka catatan di ponsel dan tuliskan usia Anda sekarang, lalu perkirakan berapa minggu yang mungkin masih tersisa jika menggunakan patokan 80 tahun.

Setelah itu, lihat laporan “screen time” Anda dan kalikan rata-rata penggunaan harian dengan 7. Angka yang muncul mungkin akan membuat kita terdiam. Tidak perlu merasa bersalah; jadikan itu titik awal untuk berubah.

Mulailah dari 30 menit sehari yang sengaja dikembalikan kepada kehidupan nyata. Karena hidup bukan tentang berhasil menyelesaikan semua notifikasi, menonton semua video, atau mengikuti semua tren. Hidup adalah tentang memilih apa yang layak mendapatkan waktu kita. Jika hidup kita hanya 4.000 minggu, jangan sampai sebagian besarnya hanya kita habiskan dengan melihat hidup orang lain lewat layar.