Profil Fachry Husaini, Sang Arsitek Juara AFF U-16

Akun Resmi PT Pupuk Indonesia Holding Company
Tulisan dari Pupuk Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sahabat Kumparan, hari ini Tim Nasional U-16 menghantarkan Indonesia menjadi juara di piala Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) 2018, usai mengalahkan Thailand 4-3 melalui adu pinalti di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (11/8). Menjadi sebuah kebanggaan untuk kita semua karena pertama kalinya Indonesia menjadi juara piala AFF U-16, sejak digelar pada tahun 2002.
Dibalik kesuksesan Tim Nasional Indonesia U-16 menjadi juara Piala AFF 2018, ada sosok hebat yang berkontribusi dalam momen heroik tersebut, yakni Fachry Husaini yang merupakan salah satu pegawai dari PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero). Sebelum kita memasuki kisah Fachry Husaini, mari kita simak berikut ini sejarah pesepak bola Indonesia di ajang AFF.

Sejarah Indonesia di ajang Piala AFF
Tepat 20 tahun silam, Piala AFF untuk kali pertama digulirkan. Saat itu, titel pesta sepakbola negara Asia Tenggara ini masih bernama Piala Tiger.
Piala Tiger 1996: Kick-off pertama Piala Tiger dihelat pada 1 September dengan mempertemukan Singapura sebagai tuan rumah melawan Malaysia. Saat itu perjalanan tim Merah-Putih pada turnamen ini, tidak membuahkan hasil yang kurang memuaskan karena kalah 3-2 dari Vietnam. Alhasil, Indonesia harus puas berada di posisi empat.
Piala Tiger 1998: Pada edisi kedua ini, Singapura mengukir diri sebagai juara usai membekuk Vietnam yang juga tuan rumah dengan skor tipis 1-0. Sementara Indonesia hanya berhasil menempati posisi tiga di Piala Tiger 1998.
Piala Tiger 2000: Indonesia berhasil tampil di final untuk pertama kalinya. Namun sangat disayangkan, Thailand yang juga tuan rumah saat itu dengan mudah memupuskan harapan Indonesia untuk juara.
Piala Tiger 2002: Indonesia kali ini menjadi tuan rumah pada Piala Tiger 2002 bersama Singapura. Hal ini pun menjadi kali pertama turnamen tersebut digelar di dua negara sebagai tuan rumah fase grup. Namun sangat disayangkan Indonesia dikalahkan oleh Thailand.
Piala Tiger 2004: Indonesia saat itu pudar di partai final ketika Singapura mampu mengalahkan Indonesia dua kali beruntun pada laga kandang dan tandang. Ini pun jadi edisi pertama final dihelat dengan sistem tersebut.
Piala AFF 2007: pada edisi ini, Indonesia juga masih belum bisa menembus kemenangan di ajang Piala AFF 2007. Indonesia tergabung di Grup A bersama tuan rumah Singapura, Vietnam dan Laos. Singapura dan Vietnam menahan imbang Saktiawan Sinaga cs sehingga membuat kemenangan 3-1 atas Laos di partai perdana sia-sia.
Piala AFF 2008: Indonesia kembali dipercaya menjadi salah satu tuan rumah turnamen bersama Thailand. Indonesia berada satu grup dengan Singapura, Myanmar dan Kamboja. Piala AFF 2008 merupakan tahun pertama Suzuki mulai menjadi sponsor turnamen. Sayangnya langkah Indonesia harus kembali kandas di tangan Thailand, ketika gagal meraih hasil pada laga kandang dan tandang. Vietnam pun akhirnya keluar sebagai jawara turnamen, sejarah tersebut ditorehkan dengan mengalahkan Thailand 2-1 di Bangkok dan menahan imbang di Hanoi.
Piala AFF 2010: Indonesia untuk kali pertama menggunakan jasa striker naturalisasi Cristian Gonzales. Kemunculan Irfan Bachdim turut mengundang animo baru untuk menaruh perhatian kepada timnas. Namun sangat disayangkan timnas Indonesia harus mengakui ketangguhan dari Malaysia.
Piala AFF 2012: Indonesia hanya mampu duduk di posisi tiga Grup B dengan satu hasil imbang, satu kalah dan sekali menang.
Piala AFF 2014: Indonesia kembali menelan kekalahan usai melawan Filipina dengan skor 4-0.
Piala AFF 2016: Indonesia kalah dari Thailand dengan skor 2-3.
Piala AFF 2018: Indonesia telah membuktikan dirinya mampu menjadi seorang juara Piala AFF 2018, dengan mengalahkan Thailand 4-3.
Bagi Indonesia sepanjang keikutsertaan di Piala AFF U-16, menjadi pencapaian terbaik Timnas Indonesia yang sebelumnya adalah hanya mencapai final turnamen 2013. Sementara Thailand masih berstatus pengoleksi gelar terbanyak bersama Vietnam dengan tiga gelar (2007, 2011, 2015).
Profil Fachry Husaini

Pria yang akrab dipanggil Fachry ini merupakan kelahiran 27 Juli 1965 di Lhokseumawe, Aceh. Ia seorang maestro lini tengah sebuah tim pada era 1990-an. Ban kapten selalu tersemat pada dirinya.
Fachry Husaini merupakan mantan dari bintang tim nasional sepak bola Indonesia di era 1990-an. Selama kariernya, dia bermain di posisi gelandang yang mengemban tugas sebagai seorang playmaker saat masih bermain di timnas sepak bola Indonesia maupun di klub-klub sepak bola yang pernah dibelanya. Dia lebih dikenal identik dengan tim Pupuk Kaltim karena sembilan musim dia membela PKT (1992-2001). Namun prestasi terbaik Fachry bersama PKT hanyalah finalis Liga Indonesia pada musim 1999/2000.
Selama kariernya di dunia sepakbola Fachry Husaini sangat identik dengan Pupuk Kaltim (sekarang Bontang FC). Sebagai pemain ia menghabiskan sebagian besar kariernya di klub Pupuk Kaltim.
Hampir 9 tahun lamanya, ia bersama Pupuk Kaltim sebagai pemain sejak bergabung pada tahun 1992. Sebelumnya, ia memperkuat Petrokimia (sekarang menjadi Gresik United), Lampung Putera, dan Bina Taruna. Pada tahun 1997, ia bermain di timnas Indonesia sebagai gelandang di ajang SEA Games 1997 di Jakarta.
Indonesia yang ketika itu dilatih Henk Wullems bertemu dengan Thailand dalam perebutan medali emas. Sebelumnya, pada pada babak semifinal, Fachry memberi andil menjebol gawang Singapura dengan hasil 2-1. Sayang, Indonesia gagal di final melawan Thailand dengan adu penalti meskipun Fachry sudah memberikan permainan terbaiknya.
Setelah pensiun, ia mengikuti kursus kepelatihan sepakbola dan berhasil mengantongi sertifikat C-1. Sempat menjadi pelatih Diklat Manado dan asisten pelatih Bontang, akhirnya ia ditunjuk sebagai asisten pelatih Timnas U-23 dan Timnas senior tahun 2004.
Saat itu Fachry menimba ilmu langsung dari pelatih timnas Peter Withe dan itu membuat dirinya ditunjuk menjadi pelatih Tim PON XVII oleh tuan rumah Kaltim tahun 2008.
Anak asuhan Fachry hanya berhasil menjadi juara ketiga saat mengikuti PON XVII di Kaltim. Kondisi tersebut membuat pihak Bontang FC tertarik dan langsung merekrutnya sebagai pelatih kepala tahun 2008.
Di sini, Fahchri hanya membuat Bontang FC tampil menempati posisi 11 dan 13 klasemen dalam dua tahun bergulirnya Liga Super Indonesia.
Sosoknya sebagai pelatih memang dikenal sebagai sosok pelatih yang potensial. Kompetisi ISL musim 2010/11 ia memang gagal menyelamatkan Bontang FC dari degradasi. Namun, dedikasi yang diberikannya terhadap klub patut diacungi jempol.
Di saat krisis keuangan mendera klub dan pembayaran gaji para pemain yang terkatung-katung selama berbulan-bulan, Fachry Husaini tetap setia bersama klub.

Pada tahun 2014, Fachry ditunjuk oleh PSSI untuk menangani Timnas U-17 dan tahun berikutnya ia menjabat pelatih Timnas U-19.
Kegigihannya menjadi pelatih, Fachry Husaini kembali diminta menangani Timnas U-16. Fachry mulai memberi bukti. Ia berhasil mengantarkan Timnas Indonesia juara pada turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 yang digelar di Vietnam.
Klub sepak bola
1984-1989: Bina Taruna
1989-1990: Lampung Putra
1991-1992: Petrokimia Putra (sekarang menjadi Gresik United)
1992-2001: Pupuk Kaltim (sekarang menjadi Bontang FC)
Prestasi
1994/95 : Semifinalis Liga Indonesia bersama Pupuk Kaltim
1997 : Medali perak SEA Games 1997 bersama timnas Indonesia
1999/00 : Finalis Liga Indonesia bersama Pupuk Kaltim
Yuk! kita dukung terus pesepak bola Indonesia menjadi juara terbaik di dunia.
Ikuti terus informasi mengenai Pupuk Indonesia dengan mengikuti akun social media Kami.
IG: @pt.pupukindonesia
Twitter: @pupuk_indonesia
FB: PT Pupuk Indonesia
