Konten dari Pengguna

El Nino dan Cara Kita Memahami Risiko Iklim

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pupung Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi El Nino. Foto: Toa55/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi El Nino. Foto: Toa55/Shutterstock

Pada September 2026, El Nino kembali menjadi perhatian dunia. Kali ini bukan hanya karena perubahan pola hujan atau kenaikan suhu yang biasa menyertai fenomena tersebut. Sebuah laporan Climate Impact Lab memperkirakan panas yang berkaitan dengan El Nino sangat kuat tahun ini dapat berkontribusi terhadap hingga 451.000 kematian berlebih akibat panas antara Juni 2026 dan akhir Februari 2027. Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara dengan risiko besar, dengan proyeksi sekitar 19.300 kematian berlebih akibat panas. Angka tersebut tentu merupakan proyeksi, bukan kepastian tentang jumlah korban yang akan terjadi.

Namun, proyeksi sebesar itu cukup untuk mengingatkan bahwa El Nino tidak dapat lagi dipahami sekadar sebagai pembicaraan tentang suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Di Indonesia, dampaknya mulai terlihat dari berkurangnya curah hujan dan semakin panjangnya periode kering di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan telah berlangsung selama beberapa bulan di Sumatera dan Kalimantan. Cuaca yang semakin kering membuat upaya pemadaman menjadi lebih sulit dan memungkinkan kebakaran bertahan lebih lama, terutama di kawasan gambut. BMKG mencatat pada pertengahan September 2026 bahwa indeks El Nino–Southern Oscillation (ENSO) rata-rata Juli-September mencapai 2,63, yang menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Pada saat yang sama, peringatan dini kekeringan meteorologis muncul di berbagai wilayah mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua Selatan.

Pada September 2026, BMKG juga memprediksi sekitar 88 persen wilayah Indonesia mengalami masa hujan di bawah normal. Kondisi ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana karena musim kering yang lebih panjang dapat memengaruhi ketersediaan air, produksi pangan, dan kesehatan masyarakat. Titik panas dan kabut asap juga masih terpantau di sejumlah wilayah, sementara hari tanpa hujan yang panjang tercatat di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua Selatan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama saat ini bukan sekadar ketersediaan informasi mengenai El Nino. Liputan tentang El Nino Informasi sudah banyak tersedia melalui lembaga pemerintah, media massa, media sosial, dan berbagai kanal digital lainnya. Persoalan yang saat ini lebih penting adalah cara masyarakat memahami informasi tersebut, menghubungkannya dengan kondisi yang mereka hadapi, serta menjadikannya dasar untuk mengambil keputusan.

Di sinilah ilmu komunikasi nampaknya cukup peran penting dalam menghadapi risiko iklim. Informasi mengenai El Nino selama ini sering hadir dalam bentuk indeks, anomali suhu permukaan laut, probabilitas curah hujan, hari tanpa hujan, atau peta kekeringan. Informasi semacam itu tentu penting bagi ilmuwan dan pembuat kebijakan. Namun masyarakat mengalami El Nino dalam bentuk yang jauh lebih konkret. Petani melihat tanah yang semakin kering. Pekerja luar ruang menghadapi suhu tinggi lebih lama. Warga perkotaan merasakan panas di rumah dan tempat kerja. Sementara itu, masyarakat di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus berhadapan dengan asap dan kualitas udara yang memburuk.

Perbedaan antara bahasa ilmiah dan pengalaman sehari-hari inilah yang perlu dijembatani melalui komunikasi. Dalam konteks komunikasi risiko, sebuah peringatan tidak cukup hanya menyampaikan bahwa El Nino sedang berada pada kategori kuat atau bahwa masyarakat diminta waspada. Pesan akan memiliki fungsi ketika penerimanya memahami risiko yang sedang dihadapi, mengetahui siapa yang paling rentan, dan memiliki gambaran mengenai tindakan yang dapat dilakukan.

Informasi mengenai suhu tinggi, misalnya, akan memiliki arti yang berbeda bagi pekerja konstruksi, petani, pengemudi, pelajar, lansia, maupun keluarga yang tinggal di rumah dengan ventilasi terbatas. Karena itu, pesan yang sama tidak selalu menghasilkan tingkat pemahaman dan kemampuan adaptasi yang sama. Komunikasi publik perlu memperhitungkan perbedaan sosial, ekonomi, pekerjaan, lokasi, dan tingkat literasi agar informasi tidak hanya sampai, tetapi juga aplikatif.

Tantangan berikutnya terletak pada persoalan ketidakpastian. Ilmu iklim mempertimbangkan faktor probabilitas dan scenario sehingga proyeksi tentang dampak El Nino selalu memiliki batas tertentu. Climate Impact Lab, misalnya, memberikan proyeksi mengenai kemungkinan kematian akibat panas. Para ilmuwan yang diwawancarai Al Jazeera juga mengingatkan bahwa dampak regional El Nino yang sangat kuat tahun ini masih mengandung ketidakpastian.

Ketidakpastian seperti ini justru menjadi persoalan penting dalam komunikasi. Pemerintah, ilmuwan, dan media perlu menjelaskan ancaman tanpa menciptakan kepanikan. Proyeksi juga perlu disampaikan tanpa membuat masyarakat menganggapnya sebagai kepastian. Pada saat yang sama, ketidakpastian tidak boleh dijelaskan dengan cara yang membuat risiko dianggap tidak serius. Tantangan tersebut tidak mudah karena komunikasi publik sering terjebak pada dua kutub, yaitu dramatisasi yang berlebihan atau penyederhanaan yang terlalu jauh.

Ketika risiko digambarkan secara terlalu dramatis, masyarakat dapat mengalami kelelahan informasi atau kehilangan kepercayaan. Sebaliknya, ketika ketidakpastian dihilangkan dari pesan publik, informasi ilmiah dapat dianggap tidak kredibel ketika kenyataan yang terjadi berbeda dari perkiraan awal. Karena itu, komunikasi iklim membutuhkan transparansi. Masyarakat perlu mengetahui apa yang sudah diketahui, apa yang masih berupa kemungkinan, dan tindakan apa yang tetap rasional dilakukan berdasarkan informasi yang tersedia.

Komunikasi mengenai El Nino juga seharusnya tidak berjalan satu arah. Sebagai contoh, pengetahuan petani tentang perubahan waktu tanam dan ketersediaan air perlu menjadi pertimbangan. Atau misalnya masyarakat yang tinggal di kawasan rawan kebakaran juga memahami kondisi lingkungan yang membuat api lebih mudah menyebar. Pengalaman seperti ini tidak menggantikan data saintifik, tetapi dapat memperkaya pemahaman mengenai bagaimana risiko benar-benar dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, ilmu komunikasi dapat menjadi ruang yang mempertemukan data ilmiah dengan pengalaman masyarakat. Pemerintah dan lembaga ilmiah menyediakan data serta peringatan. Media menerjemahkan informasi kompleks kepada publik. Pemerintah daerah menghubungkannya dengan kondisi wilayah, sementara masyarakat memberikan pengalaman tentang dampak yang mereka rasakan. Sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal juga dapat membantu membangun literasi iklim yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

El Nino pada akhirnya menunjukkan bahwa menghadapi krisis iklim bukan hanya persoalan kemampuan memprediksi tanda alam. Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan manusia membaca perubahan iklim dengan semakin rinci, tetapi data tidak otomatis menghasilkan kesiapsiagaan. Di antara data dan tindakan selalu terdapat proses komunikasi yang menentukan apakah sebuah informasi bisa dipahami, dipercaya, dan akhirnya digunakan oleh masyarakat.

Indonesia mungkin tidak dapat menghentikan El Nino, dan pemerintah juga tidak dapat memastikan setiap konsekuensi yang akan ditimbulkannya. Namun risiko dapat dikurangi ketika informasi hadir lebih awal, disampaikan secara jelas, dipercaya oleh masyarakat, dan dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang sesuai dengan kondisi masing-masing kelompok masyarakat. Dalam konteks inilah komunikasi tidak lagi sekadar menjadi pelengkap ilmu iklim, melainkan bagian penting dari kemampuan masyarakat untuk hidup bersama ketidakpastian iklim yang semakin besar.