Siapa yang Menjaga Sungai Setelah Relawan Pulang?

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Pupung Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, pelajar, mahasiswa, warga, dan relawan berkumpul di kawasan Sungai Gajah Wong, Muja Muju, Yogyakarta. Dalam rangka World Cleanup Day (WCD) 2026, mereka membersihkan aliran dan bantaran sungai bersama pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas lingkungan. Kegiatan bertema "Sungai Bersih, Warga Peduli" itu juga mencakup penanaman pohon, pemasangan papan imbauan, serta edukasi pengelolaan sampah. Universitas Atma Jaya Yogyakarta turut memperkenalkan pengolahan sampah organik melalui Lodong Sisa Dapur (LOSIDA) berbasis vermikompos.
Aksi tersebut patut diapresiasi. Sampah yang diangkat membuat kondisi lokasi kegiatan lebih bersih, sementara keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa sungai bukan urusan satu kelompok saja. Namun, sesudah kegiatan usai, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: siapa yang menjaga sungai setelah relawan pulang? Pertanyaan ini bukan tuduhan bahwa aksi bersih sungai hanya seremonial. Justru, pertanyaan itu mengajak kita memikirkan bagaimana kepedulian yang tumbuh dalam satu hari dapat bertahan sepanjang tahun.
Sayangnya, keberhasilan menghadirkan banyak peserta belum otomatis berarti keberhasilan mengubah kebiasaan.
Indonesia akrab dengan kerja bakti. Kita cukup terbiasa mengajak orang berkumpul, memakai sarung tangan, mengangkat sampah, dan mendokumentasikan hasilnya. Gerakan semacam itu mampu menarik perhatian publik dan memberi pengalaman langsung tentang persoalan lingkungan. Sayangnya, keberhasilan menghadirkan banyak peserta belum otomatis berarti keberhasilan mengubah kebiasaan. Sungai bisa dibersihkan hari ini, tetapi sampah dapat kembali datang esok hari jika penyebabnya tidak ikut ditangani.
Masalah sampah pun tidak sesederhana kurangnya kesadaran warga bantaran. Sungai menghubungkan banyak wilayah; sampah di satu lokasi belum tentu berasal dari lingkungan terdekat. Perilaku masyarakat dalam mengelola sampah juga dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari serta dukungan fasilitas dan layanan pengelolaan sampah yang tersedia. Seseorang mungkin tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah, tetapi tidak memiliki pilihan layanan yang mudah dijangkau. Warga di sepanjang sungai juga tidak semestinya menjadi satu-satunya pihak yang menanggung akibat pengelolaan sampah di wilayah lain. Karena itu, imbauan menjaga kebersihan perlu berjalan bersama penyediaan sarana dan tata kelola yang memadai.
Dari sudut pandang ilmu komunikasi, tantangannya bukan sekadar membuat pesan yang mudah diingat. Kampanye kerap mengandaikan bahwa ketika orang diberi informasi, mereka akan mengubah sikap, lalu perilakunya. Padahal, keputusan sehari-hari juga dipengaruhi oleh apa yang dianggap biasa dan diterima dalam lingkungan sosial. Penelitian mengenai media dan norma sosial terkait penghindaran plastik sekali pakai menunjukkan bahwa beragam bentuk paparan media memiliki hubungan yang berbeda dengan persepsi norma sosial. Artinya, pesan lingkungan tidak bekerja dalam ruang kosong, orang menafsirkannya melalui kebiasaan dan harapan di sekitarnya (Borg, 2022).
Dalam konteks bersih sungai, aksi bersama dapat menyampaikan pesan yang kuat: menjaga sungai merupakan tanggung jawab kolektif. Akan tetapi, pesan yang tampak meyakinkan saat banyak orang turun ke sungai dapat melemah ketika peserta kembali pada lingkungan yang belum mendukung kebiasaan baru. Foto kegiatan, unggahan media sosial, dan papan larangan memang membantu mengingatkan masyarakat. Namun, perubahan membutuhkan lebih dari sekadar perhatian sesaat. Ia memerlukan percakapan yang terus berlangsung dan tindakan yang memungkinkan warga saling mendukung.
Di sinilah komunikasi partisipatif menjadi penting. Raphael (2019) menekankan perlunya kerja sama antara akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam memahami sekaligus mengupayakan penyelesaian persoalan lingkungan. Warga tidak semestinya hanya menjadi sasaran kampanye atau peserta kegiatan. Pengalaman mereka perlu menjadi bagian dari proses mengenali masalah, menyusun langkah, dan mengevaluasi hasilnya. Dengan pendekatan ini, pertanyaan "apa yang harus dilakukan warga?" berubah menjadi "apa yang bisa kita kerjakan bersama, dan dukungan apa yang diperlukan?"
Pendampingan LOSIDA dalam kegiatan di Gajah Wong memberi contoh awal yang menarik. Pesan untuk mengurangi sampah dihubungkan dengan keterampilan mengolah sisa dapur, sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian warga dibandingkan slogan kebersihan semata. Tetapi pelatihan satu kali belum menjamin praktiknya berlanjut. Warga mungkin membutuhkan kesempatan mencoba, berbagi pengalaman, mengatasi kendala, atau menyesuaikan cara pengolahan dengan kondisi rumah masing-masing. Komunikasi berkelanjutan diperlukan agar pengetahuan tidak berhenti sebagai materi pelatihan.
Tanggung jawab kelembagaan juga tidak boleh menghilang ketika kegiatan selesai. Pemerintah Kota Yogyakarta telah menyampaikan upaya seperti pemasangan jaring penahan sampah, penugasan petugas sungai, serta penguatan pengelolaan sampah masyarakat. Ada pula gagasan One Village One Sister University yang mempertemukan kampung, perguruan tinggi, dan perusahaan dalam pembinaan lingkungan. Potensi kolaborasi ini perlu diterjemahkan menjadi mekanisme yang jelas: siapa menangani keluhan, siapa mendampingi warga, dan bagaimana setiap pihak saling memberi umpan balik.
Tanpa alur respons yang jelas, ajakan berpartisipasi mudah berubah menjadi frustrasi.
Untuk itu, kelanjutan kegiatan perlu dirancang sebagai ruang komunikasi dua arah yang rutin. Pertemuan warga tidak harus selalu berbentuk acara besar. Kelompok pengelola sampah, sekolah, perangkat kampung, dan petugas DLH dapat berbagi informasi mengenai titik rawan, jadwal pengangkutan, atau kendala pemilahan. Media sosial dapat digunakan untuk melaporkan masalah dan menyampaikan tindak lanjut, bukan sekadar mengunggah dokumentasi aksi. Tanpa alur respons yang jelas, ajakan berpartisipasi mudah berubah menjadi frustrasi. Warga diminta peduli, tetapi tidak tahu kepada siapa harus menyampaikan persoalan atau apakah suaranya didengar.
Ukuran keberhasilan pun sebaiknya tidak berhenti pada jumlah relawan, foto bersama, atau volume sampah yang terkumpul. Angka-angka itu menunjukkan capaian kegiatan, tetapi belum menjawab apakah keadaan membaik dalam jangka panjang. Kita juga perlu menanyakan apakah warga makin terbiasa mengelola sampah, apakah laporan penumpukan sampah ditanggapi, dan apakah hasil evaluasi dipakai untuk memperbaiki layanan. Komunikasi lingkungan tidak selesai pada penyebaran pesan; ia juga menuntut kesediaan untuk mendengar dan menindaklanjuti.
World Cleanup Day di Gajah Wong menunjukkan bahwa banyak pihak bisa bergerak bersama. Langkah berikutnya adalah memastikan kolaborasi itu tetap hidup ketika tidak ada panggung, spanduk, atau agenda tahunan. Relawan memang pulang, tetapi sungai tetap mengalir melintasi kehidupan warga. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang akan datang membersihkan sungai tahun depan, melainkan bagaimana kita memastikan sungai tetap terjaga setiap hari.
