Mengapa Sekolah Harus Dekat dengan Kehidupan Nyata?

Mahasiswi Universitas Nurul Huda
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Puput Lutfiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Indonesia menghadapi masalah yang semakin terasa di era digital: siswa menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah, tetapi tetap kesulitan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata. Mereka hafal definisi, mampu mengulang teori, tetapi bingung ketika diminta memberi contoh dari lingkungan mereka sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses belajar yang ada di sekolah mulai tertinggal dari perkembangan zaman.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan pribadi. Laporan PISA 2022 menempatkan Indonesia masih di bawah rata-rata internasional pada kemampuan literasi, numerasi, dan pemecahan masalah. UNESCO juga menyoroti lemahnya pengalaman belajar langsung pada negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menyebabkan siswa hanya memahami permukaan konsep tanpa benar-benar menguasai konteksnya.
Di tengah perubahan teknologi, munculnya profesi baru, dan kebutuhan keterampilan abad 21, pembelajaran berbasis buku dan hafalan jelas tidak cukup. Siswa perlu memahami bagaimana dunia bergerak, bagaimana masyarakat bekerja, dan bagaimana pengetahuan yang mereka dapatkan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pendekatan pendidikan berbasis komunitas menjadi semakin relevan.
Ketika Teori Tidak Bertemu Realita
Contoh konkret terlihat di Lampung Timur. Beberapa guru mengungkapkan kesulitan saat mengajarkan konsep ekonomi. Siswa bisa menjelaskan apa itu produksi, konsumsi, dan distribusi, tetapi ketika diminta menyebutkan contoh nyata dari lingkungan mereka, banyak yang terdiam. Mereka belum pernah melihat proses produksi secara langsung, sehingga konsep itu tidak menempel menjadi pemahaman.
Padahal di lingkungan mereka, terdapat UMKM rumahan, perajin kecil, hingga petani yang bekerja setiap hari. Ini menunjukkan bahwa sekolah dan komunitas berjalan dalam dunia yang terpisah, meskipun keduanya bisa saling menguatkan proses belajar.
Situasi ini selaras dengan teori experiential learning dari David Kolb (1984) yang menekankan bahwa pengalaman langsung menciptakan pemahaman yang lebih mendalam. Siswa tidak hanya butuh mendengar dan mencatat; mereka butuh melihat, mencoba, bertanya, dan mengalami.
Belajar dari Komunitas, bukan hanya dari Buku
Pendidikan berbasis komunitas bukan sekadar aktivitas kunjungan atau program seremonial. Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai bagian dari ruang belajar siswa. Pelaku UMKM, petani, pekerja jasa, kelompok pemuda, relawan lingkungan, bahkan ruang publik dapat menjadi “kelas nyata” yang memperkuat proses belajar formal.
Di beberapa sekolah di Lampung Tengah, guru mulai menerapkan pendekatan ini. Mereka mengajak siswa mengobservasi usaha rumahan, melihat bagaimana pemilik UMKM mengatur modal, merancang pemasaran, hingga membuat konten promosi sederhana di media sosial. Dari kegiatan sederhana ini, siswa memahami bahwa pelajaran ekonomi yang mereka dapatkan di kelas bukan sekadar teori, melainkan juga sesuatu yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Contoh lain dapat ditemukan pada sekolah yang bekerja sama dengan kelompok warga untuk mengelola kebun sayur bersama. Melalui aktivitas menanam, merawat, dan memanen, siswa bukan hanya belajar sains, melainkan juga tentang kerja sama, pengelolaan lahan, dan perhitungan hasil panen. Proses ini membuat konsep pelajaran jauh lebih bermakna karena mereka mengalami sendiri dampaknya.
Sekalipun sederhana, kegiatan-kegiatan kecil seperti ini mampu membantu siswa membangun kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, sekaligus mengenal potensi lokal di sekitar mereka.
Tantangan: Pola Pikir hingga Fasilitas
Meski memiliki dampak positif, penerapan pendidikan berbasis komunitas tidak selalu mudah. Tantangan terbesar justru berasal dari pola pikir.
Masih banyak guru yang berpegang pada metode ceramah karena dianggap paling cepat untuk mengejar target kurikulum. Sekolah pun sering bekerja sendiri tanpa melibatkan masyarakat sekitar. Padahal, tanpa kolaborasi, pembelajaran sulit berkembang menjadi proses yang relevan bagi kehidupan siswa.
Selain itu, sebagian orang tua masih menganggap bahwa pendidikan adalah tanggung jawab penuh sekolah. Mereka lupa bahwa pengalaman belajar anak juga dipengaruhi oleh interaksi sosial, lingkungan tempat tinggal, dan kebiasaan sehari-hari.
Tantangan lainnya adalah fasilitas. Tidak semua sekolah memiliki akses internet atau perangkat digital yang memadai. Namun sebenarnya, pendidikan berbasis komunitas tidak harus bergantung pada teknologi mahal. Potensi lokal seperti UMKM, kebun, pasar, atau aktivitas komunitas dapat menjadi sarana belajar yang realistis bagi sekolah dengan keterbatasan fasilitas.
Belajar dari Negara Lain Tanpa Mengabaikan Realitas Indonesia
Film dokumenter The Finland Phenomenon (2011) memperlihatkan bagaimana Finlandia berhasil menghubungkan sekolah dengan berbagai lembaga sosial modern. Siswa belajar di perpustakaan, pusat seni, organisasi masyarakat, hingga fasilitas publik. Prinsipnya sederhana: pendidikan harus dekat dengan kehidupan nyata.
Indonesia tidak perlu meniru model tersebut sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah mengadaptasi esensinya: bahwa belajar harus berjalan bersama masyarakat, bukan terpisah dari kehidupan.
Dengan proyek lapangan, observasi UMKM, wawancara dengan pelaku usaha, hingga kunjungan ke layanan publik, siswa akan mendapatkan gambaran yang lebih luas. Mereka belajar bukan hanya untuk nilai, melainkan juga untuk mengenal dunia yang akan mereka masuki.
Pendidikan Lebih Hidup Jika Dekat dengan Realita
Jika diterapkan secara konsisten, pendidikan berbasis komunitas dapat menjadi solusi atas masalah relevansi yang dihadapi sekolah hari ini. Pendekatan ini tidak membutuhkan gedung megah atau teknologi canggih. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan sekolah untuk membuka diri, kreativitas guru, serta kolaborasi yang baik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Pada akhirnya, pendidikan adalah perjalanan bersama. Ketika sekolah dan komunitas bersatu, proses belajar bukan hanya menjadi transfer pengetahuan, melainkan juga perjalanan yang membentuk cara pandang, karakter, dan kesiapan siswa dalam menghadapi kehidupan modern.
Pendidikan tidak harus jauh dari realita. Justru dengan mendekat pada kehidupan masyarakat, siswa akan belajar lebih bermakna dan lebih siap menyongsong masa depan.
